Gen Z dan Ledakan Skincare Lokal
Industri skincare lokal dalam beberapa tahun terakhir benar-benar tancap gas.
Brand dalam negeri muncul silih berganti dengan inovasi produk, dari perawatan basic sampai concern yang super spesifik. Semuanya berusaha menjawab kebutuhan konsumen yang makin melek skincare.
Produk kecantikan lokal kini tidak lagi dianggap “kelas dua”. Justru, banyak yang dipilih karena dinilai lebih relevan, harganya terjangkau, dan kualitasnya mampu bersaing di pasar yang makin padat pemain.
Gen Z jadi salah satu penggerak utama tren ini. Mereka bukan cuma pakai, tapi juga vokal soal apa yang mereka suka dan tidak suka, terutama urusan desain dan pengalaman pakai.
Dua Survei: Facial Wash dan Sunscreen Lokal di Mata Konsumen
Jakpat menggelar dua survei terpisah untuk memotret cara konsumen melihat dan mengenali brand skincare lokal, khususnya di dua kategori:
Sabun muka (facial wash)
Tabir surya (sunscreen)
Masing-masing laporan melibatkan lebih dari 1.000 responden laki-laki dan perempuan dari tiga generasi:
Gen Z
Milenial
Gen X
Hasilnya, terlihat jelas pola yang hampir sama: akses mudah, keamanan, dan tampilan produk jadi三 serangkai yang sangat memengaruhi keputusan membeli.
Facial Wash Lokal: Akses Nomor Satu, Packaging Nggak Kalah Penting
Survei facial wash yang melibatkan 1.048 responden mengungkap beberapa faktor kunci ketika konsumen memilih produk lokal.
1. Distribusi Jadi Raja
Faktor terpenting jatuh pada kemudahan mendapatkan produk.
83% konsumen menempatkan distribusi sebagai prioritas utama.
Artinya, produk sebagus apa pun bisa kalah start kalau:
Susah ditemukan di toko fisik
Tidak tersedia di platform belanja yang umum dipakai
Aska Primardi, Head of Research Jakpat, menyoroti bahwa distribusi erat kaitannya dengan brand awareness. Produk boleh jadi sudah ada di rak, tetapi:
Konsumen tidak menyadarinya
Perhatian mereka sudah tersedot ke brand lain yang jumlahnya jauh lebih banyak dan tampil lebih mencolok di tempat yang sama
2. Keamanan dan Kesesuaian Kebutuhan
Selain akses, konsumen juga sangat memperhatikan:
Keamanan dan uji dermatologis: 77% responden menjadikan ini faktor penting
Varian yang sesuai kebutuhan kulit: 75% responden mempertimbangkannya dalam memilih produk
Ini menunjukkan bahwa konsumen lokal tidak asal ambil sabun muka. Mereka ingin produk yang:
Terasa aman di kulit
Punya varian yang jelas target masalahnya
3. Rekomendasi dan Tampilan Produk
Pengaruh sosial dan visual juga memainkan peran besar:
74% responden menganggap rekomendasi orang sekitar penting
72% menginginkan kemasan yang menarik
71% mencari brand dengan image modern
Khusus soal desain, Gen Z paling vokal dan paling peduli:
77% Gen Z menyebut desain kemasan penting
Dibandingkan Gen X yang hanya 57%
Ini menegaskan bahwa Gen Z bukan sekadar lihat fungsi, tapi juga estetik dan identitas brand. Mereka ingin produk yang kece di rak dan Instagrammable di feed.
4. Brand Facial Wash Lokal yang Paling Melekat di Kepala
Saat menyebut facial wash lokal, ada satu nama yang langsung muncul di benak mayoritas responden:
Wardah: 24% (top of mind tertinggi)
- Disusul:
Kahf: 15%
Biore: 7%
Garnier: 6%
Ponds: 6%
Data ini menunjukkan:
Wardah masih memegang dominasi kuat di kategori facial wash lokal
Persaingan di level berikutnya cukup ketat, dengan beberapa brand saling kejar posisi
Sunscreen Lokal: Aman, Gampang Dicari, Tapi Tetap Harus Stylish
Berbeda kategori, tapi pola pikir konsumen kurang lebih mirip. Dalam laporan sunscreen yang melibatkan 1.023 responden, beberapa tren menarik muncul.
1. Lagi-Lagi Distribusi Jadi Kunci
Untuk sunscreen, 75% konsumen menempatkan distribusi sebagai faktor nomor satu.
Pesannya jelas: formula sebagus apa pun tidak ada artinya kalau produknya sulit diakses.
Jika brand ingin unggul di kategori ini, mereka tidak cukup hanya fokus ke klaim SPF atau teknologi filter UV. Produk harus:
Mudah ditemukan di berbagai kanal penjualan
Hadir di titik-titik yang sering dikunjungi target konsumen
2. Keamanan Bukan Lagi Nilai Plus, Tapi Syarat Wajib
Sebanyak 70% konsumen menuntut adanya uji dermatologis.
Kredensial klinis di sini bukan sekadar pemanis brosur, melainkan standar dasar yang harus ada.
Ada alasan kuat di balik kehati-hatian ini: munculnya kekhawatiran publik setelah maraknya berita tentang produk kosmetik yang ditarik oleh BPOM.
Dalam konteks ini, penekanan pada:
Keamanan formula
Sertifikasi dan uji klinis
bisa menjadi faktor penentu saat konsumen memilih satu produk sunscreen di antara banyak pilihan lain.
3. Estetika: Fungsi Penting, Tampilan Tetap Harus Menjual
Meski sunscreen tergolong produk fungsional, urusan visual tidak bisa diabaikan.
62% konsumen menginginkan kemasan yang menarik
61% memilih brand yang terasa trendi dan relevan dengan gaya hidup mereka
Ini menunjukkan bahwa bahkan untuk kategori tabir surya:
Desain kemasan
Branding dan visual
tetap punya dampak besar pada keputusan membeli. Fungsional, tapi harus tetap gaya.
4. Perbedaan Cara Pandang Perempuan dan Laki-Laki
Survei juga mengungkap perbedaan menarik antara responden perempuan dan laki-laki, terutama terkait fitur teknis dan pengaruh ahli.
Untuk faktor kesesuaian SPF dan PA dengan kebutuhan:
82% perempuan sangat memperhatikannya
Hanya 56% laki-laki yang menganggap ini penting
Dalam hal pengaruh ahli:
74% perempuan lebih responsif terhadap dukungan atau rekomendasi dari ahli
Dibandingkan 55% laki-laki
Artinya, untuk perempuan:
Label SPF dan PA yang jelas
Penjelasan ilmiah
Dukungan dari dermatolog atau expert
punya bobot besar dalam membentuk kepercayaan terhadap suatu produk sunscreen.
5. Brand Sunscreen Lokal yang Paling Diingat
Di kategori sunscreen lokal, Wardah kembali menduduki posisi teratas:
Wardah: 29% (top of mind tertinggi)
Azarine: 10%
Emina: 4%
Hanasui: 4%
Kahf: 3%
Ini mengukuhkan posisi Wardah sebagai salah satu pemain utama yang kuat di benak konsumen, baik di facial wash maupun sunscreen.
Apa yang Bisa Dipelajari Brand dari Gen Z dan Konsumen Lokal?
Dari dua survei ini, ada beberapa insight penting yang bisa disimpulkan tentang cara konsumen memandang brand skincare lokal, terutama di kategori sabun muka dan tabir surya.
1. Visibility Sama Pentingnya dengan Kualitas
Produk tidak cukup hanya bagus di lab. Harus gampang ditemukan di dunia nyata dan dunia digital.
Tanpa distribusi yang kuat:
Brand sulit membangun awareness
Konsumen dengan mudah berpaling ke produk yang lebih terlihat
2. Keamanan dan Kredibilitas Tidak Bisa Ditawar
Isu penarikan produk kosmetik membuat konsumen semakin kritis.
Uji dermatologis
Klaim yang jelas dan bertanggung jawab
sekarang jadi faktor yang benar-benar diperhatikan, bukan sekadar formalitas di kemasan.
3. Estetika dan Gaya Hidup Makin Berperan
Terutama di mata Gen Z:
Desain kemasan
Citra brand yang modern dan relevan
bisa menjadi pembeda besar di rak yang dipenuhi produk serupa.
Gen Z ingin produk yang tidak hanya bekerja di kulit, tapi juga cocok dengan gaya hidup dan persona mereka.
4. Segmentasi Gender dan Generasi Perlu Strategi Berbeda
Perempuan dan laki-laki, Gen Z dan Gen X, jelas punya prioritas yang tidak sama.
Brand perlu memikirkan:
Komunikasi teknis (SPF, PA, klaim klinis) yang lebih ditonjolkan ke perempuan
Pendekatan visual dan praktis yang bisa lebih efektif ke laki-laki
Strategi desain dan storytelling yang resonan dengan Gen Z yang sangat visual
Penutup: Masa Depan Skincare Lokal Ada di Tangan Konsumen Melek Informasi
Peta persaingan skincare lokal, khususnya di facial wash dan sunscreen, semakin padat tapi juga semakin menarik.
Konsumen kini:
Lebih kritis
Lebih peduli tampilan
Lebih peka pada isu keamanan
Gen Z, Milenial, hingga Gen X sama-sama berkontribusi membentuk tren, dengan Gen Z sebagai pendorong besar di sisi estetika dan brand image.
Untuk brand skincare lokal, kombinasi akses yang mudah, keamanan yang terjamin, formula yang relevan, dan visual yang kuat bukan lagi opsi—itu syarat minimum untuk bisa bertahan dan bersaing.






