sumber gambar: wallpapercave.com
Untuk orang yang baru benar-benar kenal skincare di usia 25-an, awalnya gue merasa minder. Telat sendirian dibanding orang lain. Tapi ternyata itu bukan masalah sama sekali. Justru di usia matang sekarang, gue jadi gak sekedar cuci muka secara asal, tapi pelan-pelan mulai paham kenapa kulit wajah terlihat kusam, warna tidak merata, dan sering terlihat lelah. Lebih penting lagi, sekarang gue bisa mengatasi kulit wajah tanpa adanya paksaan.
Sekarang, di usia 28 tahun, gue sadar akan satu hal penting yaitu skincare adalah soal mengikuti apa maunya kulit, bukan ego. Bukan soal cepet glowing atau ikutan tren, tapi menemukan formula yang cocok untuk kulit dan itu adalah hasil eksperimen sendiri dengan trial and error berulang kali serta research dari banyak sumber di internet. Prosesnya lama dan gak instan, tapi justru terasa lebih jujur dan percaya diri.
Proses Trial and Error
Proses menemukan formula skincare yang cocok dengan kulit wajah itu gak pernah mulus. Sempet rajin, males, berhenti total, lalu mulai lagi bahkan ada fase dimana semua produk dicoba tanpa mengenal bahwa itu benar-benar cocok untuk kulit wajah atau tidak. Bahkan pernah ada satu fase, dimana skincare yang dipakai hanya untuk penutup hari sebelum tidur. Dan ternyata, itu normal.
Trial and error ini mengajarkan gue dan mungkin banyak orang, untuk lebih sabar. Skincare bukan sulap yang bisa buat muka cantik dalam sekejap dan hasilnya pasti butuh waktu lebih dari hitungan hari atau bulan. Tapi justru, karena itu gue jadi tau proses yang sesuai untuk karakteristik kulit wajah seperti apa. Seperti kapan dia rewel, kapan dia normal, dan kapan harus dikasih istirahat.
Rutinitas Skincare
Rutinitas skincare gue sekarang cukup sederhana dan realistis. Dimulai dari micellar water buat bersihin kotoran dan sisa sunscreen setelah hampir seharian beraktivitas di luar. Step ini penting banget buat gue, karena setelah pakai micellar water, face wash yang gue pakai terasa bekerja lebih maksimal.
Saat ini gue pakai Garnier Micellar Water yang warna biru. Alasan gue pilih ini karena kandungannya ada salicylic acid dan BHA, yang cocok buat kulit berminyak kayak gue. Sejauh ini, gak bikin perih atau ketarik.

sumber gambar: dok. pribadi Lintang Cahyani
Setelah itu gue lanjut pakai face wash dengan tekstur ringan tapi tetap efektif angkat kotoran. Face wash yang gue pakai sekarang adalah Garnier Vitamin C+ Serum Face Wash. Memang agak pricey, tapi setelah dipakai kulit terasa bersih tanpa kesan kering. Itu alasan kenapa gue cukup yakin buat repurchase.
Fokus skincare gue sekarang adalah meratakan warna kulit, mengurangi kusam, dengan bonus kelihatan sedikit lebih cerah. Karena itu, gue mulai pilih produk yang punya kandungan aktif seperti niacinamide, centella, dan vitamin C yang fungsinya memang untuk mencerahkan.
Masuk ke step toner, gue pakai Whitelab N-Dose+ Intense Brightening Essence Toner. Toner ini punya formula yang sudah di-upgrade dari versi sebelumnya. Kesan pertama pakai terasa ringan dan menyegarkan. Setelah pemakaian sekitar tiga bulanan, efek mencerahkannya jauh lebih kelihatan dibanding awal.
Untuk serum, awalnya gue pilih karena pengaruh iklan dan hype soal centella. Akhirnya gue coba Skin1004 Madagascar Centella Ampoule. Gue pakai varian Madagascar karena klaimnya fokus ke calming dan perbaikan skin barrier. Di kulit gue, serum ini cukup membantu nenangin wajah, terutama pas lagi agak sensitif setelah cobain pertama kali facial.
Dua step terakhir yang nggak pernah gue skip adalah moisturizer dan sunscreen.
Jujur, gue cukup gambling soal moisturizer karena sering dapet yang bikin muka terasa 'becek'. Sebelum akhirnya gue memutuskan beli Whitelab Cera-mug Barrier Moisturizing Gel, gue sempat pakai moisturizer dari Glowinc dan Emina. Moisturizer Glowinc lumayan enak, melembabkan tapi gak bikin wajah makin berminyak. Tapi kalau Emina, di kulit gue kurang cocok. Walaupun wanginya gak terlalu menyengat, tapi bikin wajah gue yang sudah berminyak jadi makin berminyak.
Untuk sunscreen, gue akhirnya balik lagi ke Azarine Hydrasoothe Sunscreen Gel SPF45 karena cuma dia yang bisa nahan minyak di muka gue sampai lebih dari 6 jam. Selain itu, sunscreen lain yang kemungkinan besar bakal gue repurchase adalah Skintific Sunscreen yang warna ungu. Sesuai pepatah, ada harga ada kualitas. Sunscreen ini juga cukup efektif nahan minyak dan bikin wajah terlihat sedikit lebih cerah.
Produk Tambahan untuk Efek Mencerahkan Semakin Nyata
Kadang, rasa kepo gue bikin impulsif juga. Selain basic skincare, gue punya dua produk tambahan yang sesekali gue pakai buat bantu fokus mencerahkan kulit.
Yang pertama The Ordinary Glycolic Acid 7% Exfoliating Toner (AHA). Awalnya gue beli ini buat area lengan dalam, siku, dan lutut. Tapi ternyata cukup oke juga dipakai di wajah sebagai step awal sebelum skincare, terutama pas ngerasa kulit lagi kusam banget.

sumber gambar: dok. pribadi Lintang Cahyani
Yang kedua EIEM Beauty Full Acid Peeling Solution, yang berfungsi sebagai exfoliator wajah. Gue pakai sekitar 2–3 kali seminggu, walaupun jujur tidak terlalu rajin. Karena pemakaiannya tidak terlalu konsisten, efeknya di gue juga tidak terlalu signifikan, jadi gue belum bisa kasih review yang terlalu dalam.
Tidak Ada Kata Terlambat!
Dari semua proses yang gue lakukan itu, satu hal yang gue pelajari adalah tidak ada kata terlambat dalam dunia skincare. Tidak peduli usia berapa, baru mulai kapan, yang kulit wajah butuhkan itu cuma perhatian, konsistensi, dan kesediaan.
Mulai di usia 25-an sama sekali bukan berarti ketinggalan. Buat gue, justru saat ini gue lebih sadar apa yang selama ini kulit butuhkan dan apa yang harus dihindari. Tidak perlu lagi dengan cara paksa, tidak asal ikut tren, dan tidak harus ikuti perjalanan kulit orang lain lalu dibanding-bandingkan dengan perjalanan kulit kita.
Kalau sekarang kulit terasa lebih bersih, lebih halus, dan perlahan membaik, itu bukan karena gue mulai dengan buru-buru. Tapi karena akhirnya gue berhasil mulai cara yang tepat.
Jadi, buat siapa pun yang baru mengenal skincare - usia berapa pun, tidak perlu lagi merasa minder karena tidak ada yang telat sama sekali! Selama sadar dan jujur sama kulit sendiri, itu udah lebih dari cukup.


komentar