iPad di Sekolah Rakyat: Canggih, Tapi Benar Diperlukan?
Rencana penggunaan iPad di Sekolah Rakyat memicu perdebatan panas. Program ini dinilai tidak tepat sasaran dan dikhawatirkan justru mengabaikan kebutuhan paling mendasar: kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) menargetkan peluncuran Sekolah Rakyat pada Juli 2025. Program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini digadang-gadang sebagai cara memutus rantai kemiskinan di Indonesia.
Sekolah Rakyat: Gratis, Berasrama, dan Menyasar yang Paling Miskin
Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah gratis dengan konsep asrama, menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang masuk desil 1 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Rencananya, Sekolah Rakyat akan tersedia di jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Setiap sekolah ditargetkan menampung sekitar 1000 siswa.
Pada tahun pertama, pemerintah menargetkan pembukaan di 100 titik.
Dalam keterangan resmi, Kemensos menegaskan bahwa Sekolah Rakyat akan dilengkapi fasilitas yang disebut “lengkap”.
Fasilitas Mewah: Dari Asrama sampai iPad
Setiap Sekolah Rakyat direncanakan memiliki:
Laboratorium
Fasilitas olahraga
Asrama
Kebutuhan dasar seperti seragam
Alat belajar yang disebut mengikuti perkembangan zaman
Di titik inilah muncul kebijakan yang paling kontroversial: setiap siswa disebut tidak akan menggunakan buku dan kapur, melainkan langsung memakai iPad.
Menurut keterangan resmi, sistem pendidikan di Sekolah Rakyat akan berbasis teknologi. Pemerintah ingin meninggalkan cara belajar konvensional dan melompat ke pembelajaran digital.
Mengapa iPad Dipertanyakan?
Meski terdengar modern dan progresif, kebijakan ini justru dinilai meleset dari kebutuhan nyata di lapangan. Penggunaan gawai di tahap awal pendidikan bisa menimbulkan dampak negatif bagi proses belajar anak, terutama jika kemampuan dasarnya belum kokoh.
Seorang pengamat pendidikan menegaskan bahwa iPad bukanlah kebutuhan dasar anak saat ini. Untuk konteks pendidikan dasar, ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar menggenggam perangkat canggih.
Fokus Utama: Literasi, Numerasi, dan Kemampuan Saintifik
Pendidikan idealnya bertumpu dulu pada tiga kemampuan kunci:
Literasi: bukan sekadar bisa mengeja, tetapi mampu memahami isi bacaan.
Numerasi: kemampuan berhitung dan memahami angka dalam konteks sehari-hari.
Kemampuan saintifik: cara berpikir logis, kritis, dan berbasis bukti.
Tanpa tiga fondasi ini, digitalisasi hanya akan jadi lapisan mengkilap di atas bangunan yang rapuh. Penggunaan gawai seharusnya berada di tahap lanjutan, setelah kemampuan dasar benar-benar kuat.
Proses pendidikan yang sehat berjalan selangkah demi selangkah, bukan dengan lompatan instan yang hanya tampak modern di permukaan.
PR Besar: Anak Bisa Membaca, Tapi Tidak Memahami
Penguatan kemampuan dasar melalui buku teks masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia.
Banyak siswa secara teknis bisa membaca, tetapi:
Kesulitan memahami isi bacaan
Tidak mampu menganalisis pesan yang tersirat
Sulit mengaitkan isi bacaan dengan konteks kehidupan saat ini
Dalam situasi seperti ini, mendorong penggunaan iPad justru berpotensi memperlebar jurang: tampak pintar secara tampilan, tetapi kosong secara pemahaman.
iPad dan Jebakan Konten Negatif
Akses ke perangkat seperti iPad juga membawa risiko lain yang tidak bisa diremehkan, terutama bila pengawasan lemah.
Anak-anak bisa dengan mudah ters exposed pada:
Konten pornografi
Narasi radikalisme
Informasi menyesatkan yang sulit mereka saring
Tanpa sistem pengawasan yang kokoh, gawai yang dimaksudkan untuk belajar bisa berubah jadi pintu masuk berbagai pengaruh negatif.
Bayang-bayang Korupsi dan Digitalisasi yang Tergesa-gesa
Upaya digitalisasi pendidikan juga tercoreng oleh kasus dugaan korupsi pengadaan perangkat tertentu yang melibatkan kementerian terkait. Situasi ini membuat publik semakin skeptis: apakah digitalisasi benar untuk kepentingan siswa, atau hanya membuka peluang baru bagi penyimpangan anggaran?
Alih-alih memperkuat kepercayaan publik, langkah digitalisasi yang terburu-buru justru tampak “tidak elok” di tengah persoalan dasar pendidikan yang belum terselesaikan.
Belajar dari Negara Lain: Skandinavia Kembali ke Buku
Beberapa negara Skandinavia justru menjadi contoh menarik. Di saat banyak negara berlomba-lomba mengadopsi gawai di kelas, mereka memilih kembali mengutamakan buku teks dalam proses belajar.
Keputusan ini bukan langkah mundur, melainkan koreksi arah: mereka menilai bahwa interaksi langsung dengan buku dan teks fisik lebih efektif untuk membangun konsentrasi, pemahaman mendalam, dan daya kritis siswa.
Jadi, iPad: Simbol Kemajuan atau Kesalahan Langkah?
Pertanyaan besarnya: apakah iPad benar-benar menjawab kebutuhan mendesak anak-anak dari keluarga miskin, atau justru menjadi kesalahan langkah yang dibungkus jargon kemajuan teknologi?
Sebelum memaksa anak memegang iPad, sudahkah kita memastikan mereka:
Mampu membaca dan memahami teks dengan baik?
Mampu berhitung dan berpikir logis?
Mampu membedakan informasi yang benar dan menyesatkan?
Tanpa menjawab tuntas pertanyaan-pertanyaan ini, digitalisasi seperti di Sekolah Rakyat berisiko menjadi jebakan digital: tampak modern, tetapi melupakan pondasi pendidikan yang sesungguhnya.






