Pengantar: Dari Hape Darurat Jadi Bahan Review
Pengalaman saya dengan ZTE nubia A56 sebenarnya dimulai dari kondisi darurat.
Hape istri tiba-tiba rusak parah, posisinya sudah nggak bisa nunggu lama, sementara budget untuk beli hape “proper” juga belum siap. Akhirnya, kami sepakat cari hape darurat di kisaran 1 jutaan – maksimal 2 juta.
Goal-nya simpel:
Cepat dibeli, supaya bisa segera mindahin data dari hape lama sebelum benar-benar mati total.
Kalau nanti ada rezeki beli hape lebih bagus, si hape darurat ini tinggal pensiun terhormat jadi Wi-Fi portable.
Awalnya saya sudah mengerucut ke tiga brand populer. Satu langsung saya coret karena nggak suka software dan build quality-nya. Tinggal dua kandidat: realme dan POCO.
Jujur, saat itu hati lebih condong ke realme. Selain pengen menghindari ekosistem tertentu yang menurut saya agak kurang ramah, saya juga penasaran ingin coba UI realme karena belum pernah sama sekali.
Sampai akhirnya muncul kabar bahwa nubia (sub-brand ZTE) akan merilis hape baru dalam waktu dekat. Setelah sedikit mikir (dan banyak kepoan), saya pun membujuk istri:
“Gimana kalau kita coba nubia A56 aja?”
Alasannya:
Pengen coba sesuatu yang baru, bukan brand yang itu-itu lagi.
Hape baru rilis = bahan review empuk buat dibahas.
Jadilah nubia A56 resmi masuk rumah dan menemani aktivitas harian selama lebih dari sebulan. Di bawah ini adalah pengalaman nyata saya memakainya: dari tugas harian, main game, sampai kekurangan yang bikin agak manyun.
Mindset Awal: Jangan Berharap Terlalu Banyak
Sejak awal, saya tanam satu mindset: “Jangan berharap banyak!”
Dengan harga cuma satu juta lebih sedikit, wajar kalau ekspektasi saya sangat rendah. Target minimalnya cuma:
Bisa dipakai normal
Nggak super lemot
Nggak bikin emosi tiap buka aplikasi
Saking rendahnya ekspektasi, saya sempat terlalu meremehkan hape ini. Ternyata setelah dipakai, di beberapa aspek nubia A56 justru lebih baik dari dugaan saya.
Unboxing & Kesan Pertama: Murah, Tapi Nggak Pelit
Isi Paket Penjualan
Untuk ukuran hape murah, isi kotak nubia A56 tergolong cukup lengkap.
Di dalam boks kamu akan menemukan:
Unit smartphone nubia A56
Softcase bening
“Kitab-kitab” (buku panduan & kartu garansi)
SIM ejector
Kepala charger
Kabel USB Type-C

Di layar, sudah ada lapisan plastik tipis yang kelihatannya semacam screen protector bawaan. Tipis banget sampai mirip plastik kemasan yang biasanya dikletek sebelum dipakai.
Saya sempat bingung, ini benar screen protector atau cuma plastik pengaman? Pada akhirnya saya memilih tidak melepasnya, demi mengurangi risiko layar gampang tergores.
Build Quality & Desain
Secara build quality, nubia A56 terasa cukup solid walau ada sedikit kesan “kopong”. Material yang dipakai jelas plastik/polikarbonat, dengan finishing belakang mengkilap seperti kaca.
Kalau dipegang dan dirasakan lama, tetap terasa plastik, tapi hal ini juga berkontribusi bikin bodi terasa lebih ringan dari kelihatannya.
Bagian belakang punya motif glitter yang bikin efek kelap-kelip. Cukup menarik sebenarnya.
Masalahnya ada di desain camera island:
Ukurannya terlalu besar
Penempatan modul kameranya kurang estetik
Kesan yang muncul: murahan

Ditambah lagi, walaupun di marketing disebut triple camera, sejatinya yang benar-benar terpakai ya satu kamera utama saja. Dua sisanya lebih condong ke gimmick, sesuatu yang sudah lama jadi “penyakit” hape murah, bahkan di beberapa hape yang lebih mahal.
Sejujurnya, satu kamera belakang pun tidak dosa. Malah bisa lebih estetik dan hemat biaya produksi, dibanding memaksakan banyak lensa tapi fungsinya minim.
Tampilan Depan & Sisi Bodi
Beralih ke bagian depan, saya justru minim komplain.
Layar terlihat cukup enak dipandang
Bezel sesuai kelas harganya
Beralih ke sisi-sisinya, kesan murah malah berkurang:
Penempatan tombol terasa presisi
Tombol enak ditekan, nggak goyang aneh
Secara umum, di area frame dan layout tombol, nubia A56 nggak memberikan kesan murahan yang berlebihan.
Layar & UI: Nggak Tajam-Tajam Amat, Tapi Enak Dipakai
ZTE nubia A56 dibekali layar:
Ukuran: 6,75 inci
Resolusi: HD+ (1600 x 720)
Refresh rate: 90Hz
Secara kepadatan piksel, jelas layar ini bukan yang tajam. Tapi dalam pemakaian sehari-hari, ketidaktajaman itu tidak terlalu terasa, apalagi kalau kamu bukan tipe orang yang suka menempelkan mata ke layar.
Panel yang digunakan adalah IPS, kualitasnya:
Oke untuk harga 1 jutaan
Masih kalah dibanding IPS di hape 2 jutaan ke atas
Bisa dibilang ini semacam “IPS level”. Tapi secara nyata:
Warna cukup oke
Viewing angle lumayan
Tidak kelihatan burik kalau dilihat sekilas

UI: Bersih, Nggak Kesan Murahan
Dari sisi tampilan antarmuka, nubia A56 menurut saya lumayan rapi:
Icon dan layout terlihat bersih
Nuansa mirip stock Android
Tidak ada kesan “UI asal jadi” seperti beberapa brand hape murah lain
Fitur-fitur yang tersedia antara lain:
Pengaturan auto-start dan aktivitas background aplikasi
Double tap to wake (ketuk dua kali untuk menyalakan layar)
Duplikat aplikasi (app cloning, meski terbatas hanya beberapa aplikasi)
Extended RAM (RAM virtual)
Sayangnya:
Tidak ada double tap to sleep (ketuk dua kali untuk matikan layar)
Extended RAM terasa hanya gimmick, tidak memberi peningkatan signifikan (bukan hanya di nubia A56, tetapi juga di banyak hape lain)
Soal Iklan & Bloatware
Ada satu hal yang cukup krusial: apakah ada iklan?
Jawabannya: ADA.
Tapi levelnya masih bisa ditoleransi:
Muncul di bagian atas/bawah aplikasi bawaan tertentu
Tidak sampai full screen menutupi layar
Tidak muncul di panel notifikasi
Tidak tiba-tiba mendownload aplikasi aneh tanpa izin

Soal bloatware, jumlahnya lumayan banyak. Untungnya:
Hampir semua bisa dihapus atau dinonaktifkan
Yang sudah dihapus tidak muncul lagi tiba-tiba

Kesimpulannya, dari sisi software, nubia A56 tidak termasuk tipe hape yang bikin kapok.
Performa & Gaming: Di Luar Ekspektasi
Alasan utama saya meremehkan nubia A56 di awal adalah spesifikasi performanya.
Chipset yang digunakan:
UNISOC T7200 (12nm)
CPU Octa-core (2×1.6 GHz Cortex-A75 & 6×1.6 GHz Cortex-A55)
GPU Mali-G57 MP1
RAM 4GB
Storage 128GB
Slot microSD dedicated, bisa dipakai bersamaan dengan dual nano SIM

Ini adalah pertama kalinya saya mencoba SoC dari UNISOC, jadi ekspektasi saya benar-benar rendah. Apalagi, nubia A56 bermain di segmen smartphone super murah, yang biasanya performanya sekadarnya.
Penggunaan Harian
Dipakai untuk kebutuhan standar:
Buka Facebook
Buka Instagram
Responsnya:
Scroll terasa lancar
Buka-tutup aplikasi cukup responsif
RAM 4GB di tahun 2025 masih bisa diajak multitasking ringan
UI yang dipakai adalah MyOS, dan menurut saya masih cukup bersahabat untuk multitasking tipis-tipis. Kadang memang harus reload aplikasi kalau aplikasinya berat, tapi ini masih dalam batas wajar.
Sebagai gambaran, saya biasa menjadikan ROG UI di ROG Phone sebagai standar multitasking yang ideal, karena UI itu sangat pintar memanfaatkan RAM dan tidak terlalu agresif membunuh aplikasi di background.

Masalah Paling Mengganggu: Keyboard
Satu bug yang cukup bikin kesal adalah masalah keyboard virtual.
Kadang, saat ingin mengetik di:
WhatsApp
Instagram
Keyboard tidak mau muncul sama sekali, atau sempat muncul sebentar lalu hilang entah ke mana.
Saya curiga masalah ini lebih ke bug software/keyboard bawaan, bukan karena performa yang pas-pasan. Karena setelah saya mengganti keyboard bawaan dengan GBoard, masalah ini jauh berkurang.
Sesekali masih terjadi
Tapi biasanya keyboard bisa muncul lagi setelah menunggu sebentar
Harapan saya, semoga nubia mengirim update software untuk memperbaiki bug ini.
Dipakai Gaming: Bisa, Tapi Jangan Serakah
Pertanyaan penting: nubia A56 kuat buat main game?
Jawabannya: tergantung jenis gamenya.
Untuk game-game ringan dan casual, hape ini masih sangat sanggup.
Untuk Mobile Legends (MLBB):
Performa di luar ekspektasi
Bisa berjalan dengan lancar
Frame rate tinggi dan stabil

Tapi ada dua catatan penting:
Tidak ada sensor gyroscope
Multitouch kurang bagus
Respons sentuh sebenarnya cepat, tapi saat menyentuh layar dengan lebih dari satu jari sekaligus, sering kali:
Salah satu input jari tidak terbaca
Ini sangat berpengaruh untuk:
Game kompetitif seperti PUBG Mobile
Game balap seperti Real Racing 3 (dalam mode kontrol sentuh)

Dari sisi frame rate, masih bisa dibilang playable. Tapi kontrolnya yang kurang mendukung membuat pengalaman gaming di genre tertentu jadi kurang nyaman.
Jika kamu cuma bermain:
MLBB
Game santai
Maka nubia A56 masih cukup oke untuk dijadikan hape hiburan.
Temperatur & Stabilitas
Dipakai bermain game berjam-jam, nubia A56 terasa sangat adem.
Suhu bodi relatif dingin
Performa terasa stabil
Dalam simulasi stress test, skor kestabilan performanya bahkan tembus lebih dari 98%.

Kamera: Banyak Fitur, Hardware Apa Adanya
Seperti sudah disinggung sebelumnya, walaupun di brosur tertulis triple camera, kamera yang benar-benar bisa diandalkan di nubia A56 cuma kamera utama 13MP.
Kamera ini dibekali embel-embel “Matrix AI Camera”. Awalnya saya kira cuma gimmick, tapi ternyata AI-nya memang terasa efeknya di hasil foto.

Fitur Kamera
Untuk hape 1 jutaan, fitur kameranya tergolong menarik:
Mode Pro/manual
Pengaturan ISO, shutter speed, white balance, hingga fokus manual
Ada menu Peaking Focus untuk membantu menentukan titik fokus
Range pengaturan ISO dan shutter speed juga cukup lega, sehingga secara teori:
Penggemar fotografi bisa lebih bebas berkreasi

Sayangnya, karena sensor dan hardware kamera tergolong “apa adanya”, potensi maksimalnya juga ikut terbatas. Fitur-fitur yang terlihat keren di atas kertas, pada praktiknya terasa belum terlalu maksimal membantu.
Mode AI vs Mode Pro
Yang menarik, hasil foto dari AI Cam (mode auto) justru sering kali:
Lebih baik dynamic range-nya
Punya saturasi warna lebih hidup
Noise lebih sedikit
Ketajaman gambar lebih oke
Dibandingkan mode Pro/manual, AI Cam hampir selalu menang di hampir semua sisi.

Secara keseluruhan, untuk hape sejutaan, hasil fotonya bisa dibilang:
Lumayan kalau cahaya mendukung
Kurang konsisten di kondisi pencahayaan sulit
Kelemahan paling jelas:
Clarity/keterlihatan detail kurang tajam
Tapi mau bagaimana lagi, hardware kamera murah memang punya batas.

Untuk perekaman video, saran saya simpel: jangan berharap lebih.
Di kondisi indoor atau kurang cahaya, kamera sering kesulitan mencari fokus
Fitur Lain: VoLTE, Fingerprint, dan Baterai
Ada beberapa fitur tambahan yang menurut saya cukup penting untuk disebut.
VoLTE
nubia A56 sudah mendukung VoLTE, yaitu kemampuan melakukan dan menerima panggilan telepon langsung di jaringan 4G.
Ini berguna agar:
Kualitas suara telepon lebih jernih
Tidak perlu pindah ke jaringan 3G/2G saat menelpon (kalau operator sudah mendukung)
Fingerprint Sensor
Sensor sidik jari berada di tombol power.
Posisi nyaman dijangkau
Kecepatan baca sidik jari terasa gesit

Baterai & Pengisian Daya
Untuk pemakaian normal, nubia A56 masih sanggup bertahan seharian penuh.
Yang agak terasa kurang adalah kecepatan charging:
Charger bawaan hanya 15W
Wajar lambat, mengingat harganya
Hal menarik yang patut diapresiasi:
Ada opsi batas pengisian hingga 80%
Fitur ini berguna untuk memperpanjang umur baterai dalam jangka panjang

Kesimpulan: Di Atas Ekspektasi, Tapi Tetap Hape Sejutaan
Secara jujur, nubia A56 berhasil melampaui ekspektasi saya, terutama di dua hal:
Kualitas layar
Performa harian dan gaming ringan
Awalnya saya kira ini akan jadi hape super lemot dengan layar burik. Ternyata:
Layar masih enak dipandang
Dipakai main game mainstream seperti MLBB pun masih sangat layak

Tentu saja, hape murah tetaplah hape murah:
Kualitas kamera standar
Multitouch terbatas
Tidak ada gyro
Ada bug menjengkelkan di keyboard bawaan
Desain kamera belakang terlihat kurang estetik
Namun, yang membuat saya cukup salut adalah:
Kekurangannya tidak sebanyak yang saya bayangkan
Kalau saja desain modul kameranya dibuat lebih cantik, mungkin orang tidak akan menyangka kalau ini hape sejutaan lebih sedikit
Cocok Untuk Siapa?
Menurut saya, nubia A56 cocok untuk:
Orang tua yang butuh smartphone simpel untuk telepon, chat, dan sedikit hiburan
Anak-anak yang baru pertama kali pegang smartphone
Dijadikan hape cadangan/darurat, seperti yang saya lakukan
Dipakai harian masih cukup bisa diandalkan, selama kamu sadar batasannya.
Saran penting dari saya:
Setelah beli, segera ganti keyboard bawaan ke GBoard atau keyboard lain yang kamu suka
Ini untuk mengurangi risiko terkena bug keyboard yang tiba-tiba menghilang tadi
Kesimpulan akhir:
Untuk harga 1 jutaan lebih sedikit, nubia A56 adalah salah satu contoh hape murah yang masih masuk akal untuk dibeli, selama kebutuhan kamu tidak berlebihan dan ekspektasi disetel di level yang tepat.






