Rambut Dicukur, Hati Tersentuh
Pemerintah Kota Bogor berkolaborasi dengan komunitas musisi jalanan dan Barberhood menggelar sebuah acara unik di Taman Ekspresi, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah.
Di satu sisi ada konser musik dari para musisi jalanan, di sisi lain ada layanan cukur rambut. Semuanya dibungkus dalam satu misi: menggalang donasi untuk para korban bencana alam di Sumatera.
Masyarakat yang datang bisa menikmati musik sekaligus merapikan rambut dengan sistem pembayaran seikhlasnya. Tidak ada tarif khusus, semua bergantung pada keikhlasan dan empati para pengunjung.
Aksi Kemanusiaan yang Mengajak Semua Turut Serta
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menegaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari upaya memperluas keterlibatan warga dalam aksi kemanusiaan.
Menurutnya, sudah banyak kegiatan pengumpulan donasi dari berbagai kalangan, dan konser amal ini menjadi salah satu cara kreatif untuk menambah jangkauan serta menggugah lebih banyak orang agar ikut membantu.
Ia berharap, melalui konser musik dan layanan cukur rambut ini, masyarakat yang sebelumnya belum sempat atau belum tahu cara berkontribusi, menjadi terdorong untuk ikut serta.
Dedie juga menekankan bahwa kegiatan ini murni berbasis keikhlasan.
Tidak ada target nominal donasi
Tidak ada paksaan jumlah sumbangan
Cukur rambut pun dilakukan dengan sistem seikhlasnya
Di tengah candanya, ia menyebut bahwa tukang cukur sebenarnya layak dibayar mahal, namun kali ini Barberhood memilih mengutamakan solidaritas.
Barberhood, Musik Jalanan, dan Kolaborasi dengan Pemerintah
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengungkapkan bahwa acara ini bermula dari keinginan komunitas untuk mengadakan aksi sosial. Dari situ, lahirlah ide untuk berkolaborasi dengan pemerintah agar dampaknya bisa lebih luas.
Dua hari sebelum acara, Barberhood melakukan audiensi. Di saat yang hampir bersamaan, pemerintah juga sedang merencanakan konser amal. Alih-alih berjalan sendiri-sendiri, keduanya dipadukan menjadi satu kegiatan: cukur rambut sambil menikmati musik.
Musisi yang tampil bukan sembarang musisi. Mereka adalah para pengamen jalanan binaan Pemerintah Kota Bogor.
Terdapat sekitar 20 grup musisi yang ikut tampil
Didukung delapan set alat musik yang disediakan panitia
Suasana Taman Ekspresi pun berubah menjadi ruang solidaritas terbuka, tempat hiburan, aksi sosial, dan kepedulian menyatu.
Diatur Waktunya, Dijaga Kenyamanannya
Agar tetap sejalan dengan kebijakan pembatasan kegiatan selama libur Natal dan Tahun Baru, Jenal menjelaskan bahwa acara ini dibatasi hingga pukul 14.00 WIB.
Pembatasan ini juga sejalan dengan kesepakatan antara Pemerintah Kota Bogor dan Forkopimda, demi menjaga keamanan dan ketertiban.
Ke depannya, pemerintah berencana untuk mengatur durasi kegiatan di Taman Ekspresi agar maksimal hanya sampai sekitar pukul 19.00 atau 20.00 WIB, mengingat lokasinya yang berada di area permukiman.
Langkah ini diambil sebagai upaya menyeimbangkan antara ruang ekspresi publik dan kenyamanan warga sekitar.
Rambut Boleh Pendek, Kepedulian Harus Panjang
Di penghujung acara, Pemerintah Kota Bogor menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada:
Komunitas Barberhood
Pasukan pengelola Taman Ekspresi
Komunitas musisi jalanan yang terlibat
Mereka bukan hanya menyumbangkan tenaga dan keterampilan, tetapi juga menjadi penggerak solidaritas sosial.
Harapannya, berapa pun nilai donasi yang terkumpul, bisa memberi manfaat nyata bagi korban bencana di Sumatera sekaligus menunjukkan bahwa kota Bogor memiliki empati yang kuat dan tidak abai terhadap sesama.
Pada akhirnya, acara ini membuktikan satu hal penting: dari sebuah kursi cukur dan panggung kecil di taman kota, lahir gelombang kepedulian yang bisa menjangkau jauh melampaui batas geografis Bogor.






