KuybeliKuybeli

27 Mei Ternyata Penuh Makna: Dari Jamu Nusantara sampai Tabir Surya

27 Mei Ternyata Penuh Makna: Dari Jamu Nusantara sampai Tabir Surya
Minat|Tabir Surya

27 Mei: Bukan Sekadar Tanggal di Kalender

Tanggal 27 Mei bukan cuma angka di kalender, tapi deretan momen penting yang menyentuh banyak sisi kehidupan: dari pertahanan negara, kesehatan tradisional, sampai kesadaran menjaga kulit.

Di tanggal ini, dunia dan Indonesia khususnya menandai beberapa peringatan penting yang sarat makna.

Jamu, sebagai salah satu ikon warisan Nusantara, turut menjadi bintang utama pada 27 Mei. Di saat yang sama, Amerika Serikat menjadikan tanggal ini sebagai momen untuk mengingatkan dunia pentingnya tabir surya.

Singkatnya, 27 Mei adalah hari tentang perlindungan: negara, budaya, dan tubuh manusia.

Apa Saja Peringatan pada 27 Mei?

Pada 27 Mei 2025, ada tiga momen penting yang diperingati:

  • Hari Ulang Tahun Kodam IX/Udayana

  • Hari Jamu Nasional

  • Hari Tabir Surya Nasional di Amerika Serikat

Masing-masing punya cerita dan pesan yang berbeda, tapi semuanya bertemu pada satu kata kunci: perlindungan.

1. Kodam IX/Udayana: Benteng di Ujung Timur Nusantara

Pada 27 Mei 1957, Kodam IX/Udayana resmi dibentuk sebagai salah satu komando utama pertahanan Indonesia di kawasan timur.

Berbasis di wilayah strategis:

  • Bali

  • Nusa Tenggara Barat (NTB)

  • Nusa Tenggara Timur (NTT)

Kodam IX/Udayana membawahi tiga Korem penting:

  • Korem 161/Wira Sakti di Kupang

  • Korem 162/Wira Bhakti di Mataram

  • Korem 163/Wira Satya di Denpasar

Dengan mandat menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI, Kodam IX/Udayana bukan hanya siaga menghadapi ancaman militer, tetapi juga siap digerakkan untuk membantu memulihkan stabilitas nasional ketika terjadi berbagai gangguan.

Mereka adalah barisan terdepan yang memastikan batas negara tetap aman dan rakyat bisa hidup tenang.

2. Hari Jamu Nasional: Warisan Nusantara untuk Kesehatan

Masih di tanggal yang sama, Indonesia merayakan Hari Jamu Nasional. Peringatan ini ditetapkan pada 27 Mei 2008 sebagai langkah nyata untuk mengangkat kembali pamor jamu di tengah gempuran obat modern dan gaya hidup instan.

Jamu bukan sekadar minuman tradisional. Dalam filosofi lama, jamu berkaitan dengan doa, obat, dan kesehatan. Sejak zaman nenek moyang, jamu hadir sebagai penjaga kebugaran dan keseimbangan tubuh.

Beberapa contoh jamu yang akrab di tengah masyarakat:

  • Kunyit asam: dikenal membantu meredakan nyeri haid dan menyegarkan tubuh

  • Beras kencur: dipercaya meredakan pegal, menambah nafsu makan, dan memberi rasa hangat di badan

Di balik ramuan sederhana, ada kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Hari Jamu Nasional mengingatkan kita bahwa solusi kesehatan tak selalu harus mahal atau rumit — kadang justru lahir dari dapur dan kebun sendiri.

3. Hari Tabir Surya Nasional: Alarm dari Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, 27 Mei ditandai sebagai Hari Tabir Surya Nasional. Di era aktivitas luar ruang yang makin tinggi, penggunaan tabir surya bukan lagi sekadar urusan estetika, tapi kebutuhan kesehatan.

Peringatan ini mengajak masyarakat dunia untuk lebih peduli terhadap paparan sinar ultraviolet (UV), yang bisa menyerang kapan saja, terutama saat:

  • Berlibur ke pantai

  • Berolahraga atau bersantai di taman

  • Beraktivitas di halaman rumah

Penggunaan produk perawatan kulit yang mengandung SPF (Sun Protection Factor) dianjurkan bukan hanya demi menjaga kulit tetap mulus, tapi juga untuk mencegah risiko penyakit kulit serius, termasuk kanker kulit akibat paparan sinar Matahari yang berlebihan.

Pesannya jelas: sebelum keluar rumah, jangan cuma cek cuaca — cek juga apakah kamu sudah pakai tabir surya.

Refleksi 27 Mei: Satu Spirit, Tiga Wujud Perlindungan

Kalau ditarik ke satu benang merah, tiga peringatan ini bicara tentang hal yang sama: perlindungan.

  • Perlindungan negara melalui kekuatan pertahanan

  • Perlindungan kesehatan lewat jamu sebagai warisan budaya Nusantara

  • Perlindungan tubuh dari bahaya sinar Matahari melalui tabir surya

Tanggal 27 Mei mengingatkan bahwa kekuatan sebuah bangsa bukan hanya diukur dari senjata dan strategi militer, tetapi juga dari kemampuan merawat warisan leluhur dan kepedulian terhadap kesehatan masyarakatnya.

Dengan merawat semua aspek itu — pertahanan, budaya, dan kesehatan — sebuah bangsa membangun fondasi yang lebih kokoh untuk masa depan.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!