Putri Mako (kiri) dan Putri Kako (kanan) saat acara Ucapan Selamat Tahun Baru 2015 di Istana Kekaisaran Tokyo. Foto: Kounosu1 Wikimedia/Commons
Dari rangkaian kisah yang muncul dalam berbagai laporan, dua nama perempuan dari Keluarga Kekaisaran Jepang berulang kali disebut Putri Mako dan Putri Kako. Keduanya adalah putri dari Putra Mahkota Akishino (Fumihito) dan Putri Kiko, serta keponakan dari Kaisar Jepang Naruhito.
Putri Mako dikenal karena pilihan hidupnya: melepas status kebangsawanan untuk menikah dengan teman kuliahnya, Kei Komuro, pada 2021, lalu pindah dan hidup di New York.
Putri Kako, adiknya, semakin sering tampil di ruang publik setelah kakaknya keluar dari lingkaran resmi keluarga kekaisaran. Ia kerap mewakili keluarga di berbagai tugas kenegaraan luar negeri, termasuk lawatan ke Brasil.
Dua perjalanan hidup ini membentuk gambaran yang saling melengkapi: satu sosok yang memilih hidup di luar tembok istana, dan satu lagi yang melanjutkan tugas simbolik kekaisaran di mata publik.
Nilai yang Tampak di Balik Pilihan Hidup
Meski konteksnya berbeda, apa yang dilakukan Putri Mako dan Putri Kako sama‑sama memunculkan beberapa nilai yang berulang dalam pemberitaan: kerendahan hati, kesederhanaan, dan rasa tanggung jawab.
Putri Mako: Melepas Status Demi Pilihan Pribadi
Dari laporan yang ada, beberapa poin menonjol terkait Putri Mako:
Ia melepas status kebangsawanan dan keluar dari Keluarga Kekaisaran untuk menikah dengan Kei Komuro.
Saat menikah, ia menolak pembayaran tradisional yang biasanya diberikan pemerintah Jepang kepada perempuan kerajaan yang kehilangan statusnya karena pernikahan.
Dalam konferensi pers setelah pernikahan, ia menegaskan bahwa pernikahan dengan Kei adalah “pilihan yang tepat”, dan menyampaikan penyesalan atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul di publik, sekaligus rasa terima kasih pada mereka yang tetap mendukung.
Pilihan ini menggambarkan fokus pada kehidupan yang lebih tenang dan pribadi di luar struktur resmi kekaisaran, tanpa menonjolkan hak istimewa yang biasanya melekat pada status kerajaan.
Putri Kako: Menjalankan Tugas dengan Cara yang Sederhana
Sementara itu, Putri Kako justru semakin menonjol di ranah publik:
Ia disebut sebagai “harapan Jepang” oleh sejumlah media karena kecantikan, keanggunan, dan ketulusannya saat menjalankan tugas.
Pada upacara kedewasaannya, ia menyatakan bahwa setiap tugas yang dipercayakan harus dijalankan “dengan rendah hati, tulus, dan penuh rasa hormat.”
Dalam berbagai kesempatan resmi, ia tetap menjaga gaya dan penampilan, namun juga memperlihatkan sikap yang tenang, sopan, dan tidak berlebihan.
Dari dua figur ini terlihat pola: pilihan hidup boleh berbeda, tetapi sikap menghargai tanggung jawab, menjaga kesopanan, dan menghindari kemewahan yang dipamerkan menjadi benang merah yang konsisten.
Kisah Viral: Putri Kako di Kelas Ekonomi
Beberapa artikel menyoroti momen yang membuat nama Putri Kako viral secara internasional: sebuah video pendek yang merekam dirinya tertidur di kursi jendela pesawat kelas ekonomi.
Kronologi Singkat
Berdasarkan berbagai laporan:
Pada Juni 2025, Putri Kako melakukan lawatan resmi 11 hari ke Brasil dalam rangka memperingati 130 tahun hubungan diplomatik Jepang–Brasil.
Ia mengunjungi delapan kota dan, di salah satu hari yang padat, tercatat telah mengunjungi empat lokasi sebelum menaiki penerbangan domestik di Brasil.
Dalam penerbangan Sao Paulo–Campo Grande dengan pesawat komersial, ia duduk di kelas ekonomi di kursi dekat jendela.
Video yang viral memperlihatkan ia memasuki kabin sempit kelas ekonomi, terus mengucapkan permisi kepada penumpang lain, lalu kemudian tampak tertidur dengan kepala bersandar di jendela.
Gelombang Reaksi Netizen
Reaksi publik yang terekam dalam berbagai laporan bisa dirangkum menjadi dua kelompok:
Pujian dan simpati
Banyak netizen memuji kesederhanaan dan kerendahan hati Putri Kako karena memilih terbang di kelas ekonomi saat menjalankan tugas kenegaraan.
Beberapa komentar menyatakan ia tampak seperti “boneka porselen” yang wajar kelelahan karena jadwal padat.
Ada pula yang menyebutnya sebagai panutan pekerja keras dan rendah hati.
Kekhawatiran soal privasi dan etika
Sebagian netizen menilai video tersebut seharusnya tidak dibagikan, karena merekam momen pribadi tanpa izin.
Ada yang menegaskan bahwa alih‑alih mengekspos, publik seharusnya melindungi sosok yang dianggap teladan ini.
Dengan demikian, momen viral ini bukan hanya memunculkan kekaguman pada sosok Putri Kako, tetapi juga memantik diskusi tentang batas antara kekaguman publik dan hak privasi seorang anggota keluarga kerajaan.
Kesederhanaan dan Tradisi Anti-Pamer di Jepang
Beberapa laporan menempatkan momen Putri Kako di pesawat ekonomi dalam konteks yang lebih luas: budaya politik dan kenegaraan Jepang yang memandang pamer kemewahan sebagai aib.
Dalam tradisi kenegaraan Jepang, memamerkan kemewahan dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas, terutama bagi pejabat publik ataupun figur yang menjadi wajah negara.
Sejumlah kasus di Jepang menunjukkan bahwa gaya hidup mewah, menerima jamuan makan mahal, atau komentar yang menunjukkan jarak dengan kesulitan rakyat dapat berujung pada pengunduran diri pejabat.
Di bawah konteks ini, tindakan Putri Kako yang terbang dengan pesawat komersial, duduk di kelas ekonomi, dan tampil sederhana dipandang selaras dengan komitmen kuat keluarga kekaisaran untuk menjadi teladan dan pengayom rakyat, bukan figur yang berjarak dan berlebihan.
Sosok Putri Kako: Antara Tradisi dan Ekspresi Diri
Potret diri Putri Kako yang tersaji dalam berbagai artikel menunjukkan kombinasi yang menarik antara kepatuhan pada tradisi dan ekspresi personal yang lebih terbuka.
Latar Keluarga dan Peran Publik
Putri Kako adalah anak kedua dari Putra Mahkota Fumihito (Akishino) dan Putri Kiko.
Kakaknya, Putri Mako, meninggalkan keluarga kekaisaran pada 2021 setelah menikah.
Adiknya, Pangeran Hisahito, disebut sebagai penerus takhta berikutnya karena hukum Jepang saat ini hanya mengizinkan laki‑laki menjadi pewaris.
Sejak kakaknya keluar dari tugas resmi, peran publik Putri Kako menguat, termasuk mewakili keluarga dalam perjalanan solo ke luar negeri.
Ia digambarkan sebagai sosok yang tenang, anggun, cekatan, serta menjalankan tugas dengan cara yang sejalan dengan ucapannya sendiri: rendah hati, tulus, dan penuh hormat.
Pendidikan, Bakat, dan Aktivitas
Beberapa informasi yang muncul konsisten di berbagai artikel:
Pernah menjadi atlet seluncur indah dan memenangkan kejuaraan tingkat distrik pada 2007.
Menempuh studi di Universitas Gakushuin dan kemudian mengikuti ujian masuk Universitas Kristen Internasional, kampus yang juga pernah ditempuh Putri Mako.
Melanjutkan studi di Universitas Leeds di Inggris, dalam bidang seni pertunjukan dan psikologi.
Terampil menggunakan bahasa isyarat dan aktif dalam berbagai kegiatan amal.
Gambaran ini menunjukkan sosok yang tidak hanya bertumpu pada status kebangsawanan, tetapi juga mengasah kemampuan akademis, seni, dan sosial untuk mendukung perannya di ruang publik.
Gaya Busana dan Pengaruhnya
Laporan lain menyoroti gaya fesyen Putri Kako yang relatif berbeda dari pola konservatif keluarga kekaisaran:
Ia kerap mengenakan warna-warna berani dan desain yang lebih ekspresif, berbeda dari dominasi hitam, putih, dan warna bumi yang biasa.
Dalam kunjungan ke Brasil, ia memakai gaun putih bermotif bunga camellia yang fotonya mendapat lebih dari 500.000 likes di media sosial.
Dalam kunjungan ke Yunani, pakaian yang ia kenakan hingga aksesori tertentu dilaporkan ludes terjual atau penjualannya meningkat tajam setelah ia tampil mengenakannya.
Karena itu, beberapa media menggambarkan Putri Kako sebagai semacam ikon mode di Jepang, yang pengaruhnya tampak nyata pada respons pasar terhadap item fesyen yang ia gunakan.
Putri Mako: Dari Istana ke Kehidupan Pribadi di New York
Berbeda dengan adiknya yang semakin kuat di ranah publik Jepang, kisah Putri Mako dalam laporan-laporan yang ada berfokus pada transisi keluar dari keluarga kekaisaran dan kehidupan barunya.
Pernikahan dan Keputusan Besar
Poin‑poin penting dari kisahnya:
Mako dan Kei Komuro bertemu sebagai mahasiswa di International Christian University di Tokyo.
Mereka bertunangan setelah lamaran pada 2013 dan melalui beberapa kali penundaan jadwal pernikahan.
Pada 26 Oktober 2021, mereka resmi menikah.
Mako melepaskan status kebangsawanan, menolak pembayaran tradisional pemerintah, dan kemudian pindah ke New York, tempat Komuro bekerja sebagai pengacara.
Dalam sebuah konferensi pers, Mako menyampaikan bahwa ia mencintai Kei, menegaskan pernikahan sebagai pilihan yang tepat, dan menyatakan penyesalan jika perjalanannya menimbulkan ketidaknyamanan bagi publik.
Kesederhanaan sebagai Warisan Nilai
Dari sosok Putri Mako yang memilih jalur hidup di luar istana, hingga Putri Kako yang menjalankan peran publik dengan gaya sederhana namun ekspresif, rangkaian kisah ini menggambarkan satu hal yang konsisten:
Kesederhanaan dan kerendahan hati bukan hanya citra, tetapi nilai yang dijaga, baik lewat pilihan hidup maupun cara menjalankan tugas.
Dalam konteks Jepang, nilai tersebut diperkuat oleh tradisi yang menilai pamer kemewahan sebagai hal yang tidak patut, terutama bagi figur publik.
Kisah-kisah yang muncul—mulai dari kursi ekonomi di pesawat, sampai stroller bayi di taman New York—tidak memberikan jawaban tunggal tentang bagaimana seharusnya seorang anggota atau mantan anggota keluarga kekaisaran hidup. Namun, yang tampak jelas dari informasi yang tersedia adalah bagaimana setiap langkah mereka senantiasa dibaca sebagai cermin nilai: tentang kerja keras, kesederhanaan, serta upaya menjaga martabat, baik di hadapan publik maupun dalam ruang pribadi.


komentar