Foto: erdikocak/istockphoto
Puasa Senin-Kamis adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah saw dikenal menjaga puasa di dua hari ini, dan amal manusia pun diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis. Selain bernilai spiritual tinggi, berbagai sumber menjelaskan bahwa puasa memberi manfaat medis: detoksifikasi alami, penurunan berat badan, penurunan risiko penyakit kardiovaskular, hingga penguatan kesehatan mental dan spiritual.
Namun dalam praktiknya, banyak orang merasa cepat lemas saat menjalankan puasa sunnah, apalagi ketika pola makan, hidrasi, dan istirahat tidak tertata. Di 2026, pembahasan seputar diet saat puasa, menu sahur-buka yang sehat, dan penggunaan suplemen makin sering diangkat karena pola hidup yang padat dan jam makan yang terbatas.
Penyebab Lemas Saat Puasa dan Kebutuhan Nutrisi
Berbagai tulisan tentang diet saat puasa dan tips sahur-buka menunjukkan beberapa pola yang berkaitan dengan rasa lemas ketika berpuasa:
Melewatkan sahur
Melewatkan sahur demi “cepat kurus” disebut sebagai kesalahan besar. Tanpa sahur, metabolisme melambat dan risiko makan berlebihan saat berbuka meningkat. Secara medis, kondisi ini membuat energi tidak stabil sepanjang hari.Komposisi sahur tidak seimbang
Sering kali sahur hanya berfokus pada “asal kenyang”, misalnya serba gorengan atau karbohidrat sederhana. Padahal, anjuran yang berulang di berbagai sumber adalah:utamakan karbohidrat kompleks (nasi merah, oatmeal, gandum utuh, ubi),
cukup protein (telur, ayam, ikan, tahu, tempe),
sertakan sayur dan buah untuk serat.
Asupan gula dan lemak berlebihan saat berbuka
Tren buka puasa dengan minuman manis dan gorengan menyebabkan lonjakan gula darah (insulin spike), kemudian turun cepat sehingga tubuh mudah lemas dan lapar kembali.Kurang hidrasi
Dehidrasi sering disalahartikan sebagai rasa lapar. Kurangnya minum air putih dan konsumsi minuman yang memicu banyak buang air kecil (seperti kopi, teh kental, minuman bersoda) mempermudah kelelahan.Pola makan terburu-buru mendekati imsak
Sumber jadwal imsakiyah menekankan bahwa imsak penting untuk memberi jeda sebelum Subuh. Makan terlalu dekat dengan Subuh, terlalu cepat, dan terlalu berat dapat mengganggu pencernaan serta memicu keluhan maag atau GERD yang berujung lemas sepanjang hari.
Dari rangkaian poin di atas, kunci untuk mencegah lemas adalah: sahur wajib, komposisi makan seimbang, gula dan lemak terkendali, hidrasi cukup, dan ritme makan tidak tergesa-gesa.
5 Suplemen Pilihan Penunjang Energi Saat Puasa Senin-Kamis
Dalam kondisi jam makan singkat seperti puasa, beberapa sumber membahas peran suplemen sebagai pelengkap bukan pengganti makanan bergizi. Beberapa jenis suplemen yang disebut dapat membantu energi dan stamina antara lain:
Multivitamin harian
Digunakan untuk membantu melengkapi kebutuhan vitamin dan mineral yang mungkin berkurang ketika variasi menu terbatas. Kandungan seperti vitamin B kompleks, vitamin C, vitamin E, dan mineral (misalnya zink, kalsium) disebut mendukung energi, daya tahan tubuh, dan kesehatan umum.Vitamin C
Ditekankan perannya untuk sistem imun dan perlindungan sel dari kerusakan oksidatif. Cocok bila asupan buah tinggi vitamin C saat sahur atau buka kurang rutin.Vitamin D dan kalsium
Dijelaskan penting untuk kesehatan tulang dan fungsi otot. Kombinasi keduanya bermanfaat ketika konsumsi susu dan produk olahannya tidak terlalu sering selama puasa.Suplemen elektrolit
Berisi natrium, kalium, magnesium untuk menjaga keseimbangan cairan dan fungsi otot. Disebut berguna bagi yang banyak berkeringat, beraktivitas tinggi, atau tinggal di cuaca panas.Probiotik
Membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus dan membuat pencernaan lebih nyaman saat pola makan berubah. Dikaitkan dengan berkurangnya keluhan sembelit selama puasa bila dikombinasikan dengan pola makan tinggi serat.
Tidak semua orang wajib mengonsumsi suplemen. Sumber yang sama menegaskan bahwa suplemen lebih dibutuhkan ketika:
makanan kurang bervariasi,
aktivitas fisik tinggi,
atau ada kondisi kesehatan tertentu yang membutuhkan dukungan tambahan.
5 Snack Sehat dan Praktis untuk Sahur dan Buka

Foto: Leonardo Marino/istockphoto
Berbagai referensi menu sahur, buka, dan minuman sehat menunjukkan beberapa jenis snack dan hidangan praktis yang bisa diadaptasi sebagai camilan sahur atau buka puasa agar energi lebih stabil.
1. Kurma dan buah segar
Dalam beberapa panduan diet puasa, kurma direkomendasikan sebagai pengganti camilan manis olahan. Kurma:
memberi gula alami untuk pemulihan energi setelah seharian puasa,
dapat dikombinasikan dengan buah lain seperti semangka, pepaya, apel untuk menambah serat.
Snack ini cocok:
saat buka: 2–3 butir kurma + air putih,
saat sahur: kombinasi buah segar untuk menambah asupan serat.
2. Oatmeal atau roti gandum dengan lauk tinggi protein
Oatmeal dan roti gandum sering muncul sebagai karbohidrat kompleks andalan.
Bisa dipadukan dengan telur rebus, tempe, atau dada ayam,
memberi energi lepas lambat dan rasa kenyang lebih lama.
Ini bisa dijadikan snack sahur ringan bila tidak sanggup makan berat di pagi buta.
3. Sayur rebus atau tumis sederhana
Berbagai daftar menu sahur 30 hari menonjolkan sayuran seperti bayam, brokoli, kangkung, buncis, capcay, dan sayur bening. Sebagai snack:
sayur bisa menjadi pendamping nasi merah atau sumber karbo lain,
membantu pencernaan, mencegah sembelit, dan membuat kenyang lebih lama.
4. Smoothie buah dan yogurt
Pada bagian minuman sehat untuk sahur disebutkan smoothie buah dan yogurt drink:
kaya serat, vitamin, dan probiotik,
lebih mudah dikonsumsi bagi yang sulit makan buah utuh.
Smoothie kental bisa berfungsi sebagai snack sahur atau tambahan saat malam setelah tarawih.
5. Kentang rebus dengan sumber protein
Dalam menu sahur untuk orang diet, kentang rebus beberapa kali disebut sebagai pengganti nasi:
bisa dipadukan dengan telur, dada ayam panggang, atau ikan,
cukup praktis dan mengenyangkan,
cocok bagi yang ingin mengontrol porsi karbohidrat namun tetap butuh energi stabil.
Snack-snack di atas bersifat fleksibel: bisa jadi hidangan utama porsi kecil saat sahur, atau camilan bertahap dari buka hingga menjelang tidur.
Tips Tambahan: Hidrasi dan Pola Tidur Saat Berpuasa
Selain makanan, dua hal lain yang berulang kali ditekankan adalah hidrasi dan kualitas tidur.
1. Strategi hidrasi
Beberapa sumber merekomendasikan pola minum 2-4-2:
2 gelas saat berbuka,
4 gelas di malam hari,
2 gelas saat sahur.
Poin penting lainnya:
air putih dianjurkan sebagai minuman utama,
infused water, air kelapa, susu rendah lemak, susu kedelai, smoothie buah, jus tanpa gula tambahan, yogurt drink, wedang jahe, dan air madu disebut sebagai pilihan minuman sehat untuk sahur,
minuman berkafein (kopi, teh kental) dan minuman bersoda serta tinggi gula disarankan dibatasi, terutama di waktu sahur, karena:
bersifat diuretik (mempercepat kehilangan cairan),
memicu gula darah naik cepat lalu turun,
berpotensi memicu keluhan lambung dan rasa haus berlebih.
2. Pola tidur dan adaptasi tubuh
Perubahan jam makan dan tidur di awal Ramadan dijelaskan dapat memengaruhi metabolisme, keseimbangan cairan, dan kualitas istirahat.
Kurang tidur dikaitkan dengan gangguan hormon lapar dan kenyang (ghrelin dan leptin) dalam salah satu artikel diet puasa.
Disarankan tidur lebih awal setelah tarawih agar:
bisa bangun sahur dengan segar,
kebutuhan tidur 7–8 jam tercapai secara akumulatif.
Minggu pertama puasa disebut sebagai fase adaptasi. Tanpa persiapan, keluhan seperti maag, gangguan pencernaan, dan vertigo lebih mudah muncul.
Kapan Waktu Terbaik Konsumsi Suplemen dan Snack?
Berdasarkan pola makan yang dijelaskan di berbagai sumber, pengaturan waktu menjadi salah satu kunci agar energi stabil:
1. Saat sahur
Fokus sahur:
karbohidrat kompleks,
protein cukup,
sayur dan buah,
minuman sehat (air putih, susu rendah lemak, susu kedelai, smoothie, yogurt drink, air kelapa, wedang jahe, air madu dalam porsi wajar).
Suplemen yang logis dikonsumsi saat sahur (sesuai sumber):
multivitamin harian,
vitamin C,
vitamin D dan kalsium,
probiotik.
Tujuan: menunjang energi, pencernaan, dan imunitas sepanjang hari.
2. Saat berbuka
Panduan diet dan minum menekankan pola buka bertahap:
mulai dengan air putih dan sedikit buah (misalnya kurma dan buah segar),
beri jeda 15–20 menit sebelum makan besar.
Di fase ini bisa ditambahkan:
snack ringan sehat: buah, sedikit sayur, atau sup bening,
bila diperlukan dan sesuai anjuran, sebagian suplemen elektrolit, terutama bagi yang banyak berkeringat atau beraktivitas berat.
3. Malam hari hingga menjelang tidur
Malam setelah tarawih sampai menjelang tidur menjadi waktu yang bisa dimanfaatkan untuk:
melengkapi hidrasi (pola 2-4-2),
mengonsumsi snack sehat seperti yogurt, buah, atau smoothie bila masih kurang asupan,
mengatur jarak antara makan terakhir dan waktu tidur agar pencernaan tidak terlalu berat.
Di beberapa sumber, olahraga ringan menjelang buka direkomendasikan sebagai “golden time” pembakaran lemak. Setelah itu, asupan makanan dan minuman bisa disesuaikan untuk pemulihan.
Puasa Senin-Kamis yang Berkah Tanpa Lemas
Dari berbagai pembahasan tentang puasa, diet, menu sahur-buka, dan minuman sehat, tampak jelas bahwa kunci menjalani puasa—termasuk Senin-Kamis—tanpa lemas ada pada manajemen gaya hidup:
Sahur jangan ditinggalkan, dan isi dengan karbohidrat kompleks, protein, serat, serta minuman sehat.
Buka puasa secara bertahap, hindari langsung makan besar dan batasi minuman serta makanan tinggi gula dan lemak.
Jaga hidrasi terstruktur dengan air putih sebagai minuman utama dan batasi minuman berkafein serta bersoda.
Manfaatkan suplemen seperlunya, terutama multivitamin, vitamin C, vitamin D dan kalsium, elektrolit, dan probiotik bila asupan makanan belum seimbang.
Atur tidur dan aktivitas fisik agar tubuh lebih mudah beradaptasi dengan perubahan jam makan.
Dengan pola makan yang lebih cerdas, hidrasi tercukupi, dan istirahat yang cukup, puasa Senin-Kamis dapat dijalani dengan lebih nyaman. Nilai spiritual tetap terjaga, manfaat kesehatan tetap dirasakan, dan keluhan lemas dapat diminimalkan berdasarkan prinsip-prinsip yang digarisbawahi dalam berbagai sumber di atas.


komentar