sumber gambar utama: eggeeggjiew via iStock
Di era digital, dapur tidak lagi sekadar ruang fungsional untuk memasak. Ia berubah menjadi panggung visual yang memadukan fungsi dan estetika, terutama ketika rumah dan dapur mulai sering dijadikan konten di media sosial.
Fenomena “dapur aesthetic” muncul seiring maraknya konten seperti cook with me, meal prep aesthetic, hingga cleaning motivation. Dapur yang rapi, bersih, dengan peralatan tertata dan tampilan serasi, kini punya nilai visual yang tinggi dan menjadi daya tarik utama dalam konten.
Bagi penonton, visual yang bersih, terang, dan tenang menghadirkan rasa nyaman. Bagi kreator, dapur dan makanan yang estetik bukan hanya soal gaya hidup, tapi juga bagian dari branding personal di dunia digital.
Di sisi lain, generasi muda—terutama Gen Z—juga memperlakukan makanan sebagai bagian dari lifestyle digital. Sebelum makan, mereka menata makanan, mencari sudut terbaik, lalu memotret dari berbagai angle. Artinya, konten memasak dan makanan yang estetik sangat relevan dengan kebiasaan konsumsi konten saat ini.
Perencanaan Konten: Memilih Resep dan Konsep yang Menarik
Sebelum menekan tombol rekam, langkah penting ada di tahap perencanaan:
Pahami kebiasaan audiens
Gen Z, misalnya, suka konten makanan yang:Visualnya estetik dan rapi
Mudah difoto dan dibagikan
Bisa dijadikan bahan review singkat atau rating di story
Pilih jenis resep yang mudah dikembangkan jadi konten
Dari referensi yang ada, beberapa jenis makanan yang potensial untuk konten:Jajanan populer (martabak, croffle, croissant, seblak, cilok, cimol, cilor, dimsum, rice bowl, roti bakar, salad buah, western snack, Korean snack, ayam krispi, Arabian snack)
Menu rumahan yang dekat dengan keseharian (soto ayam, soto daging, soto Betawi, bubur sumsum, makanan rumahan, frozen food)
Tentukan konsep visual dan narasi
Misalnya:Meal prep aesthetic untuk konten persiapan makanan sehat
Jajanan favorit Gen Z untuk konten eksplorasi snack
Masakan rumahan hangat untuk konten bernuansa keluarga
Sesuaikan dengan identitas brand atau usaha
Jika Anda punya usaha makanan rumahan, konten resep bisa diselaraskan dengan nama dan konsep usaha, misalnya:Usaha bernuansa rumahan: Masakan Bunda, Dapur Nenek, Sajian Ibu
Usaha jajanan: Ngemil Sore, Jajanan Endul, Crispy Kriuk
Usaha makanan Korea/Jepang: Seoul Bite, Tteokbokki Treats, Tokyo Treats, Sushi Spot
Pencahayaan dan Komposisi Visual: Kunci Utama Estetika
Dari tren dapur estetik dan kebiasaan Gen Z memotret makanan, terlihat bahwa pencahayaan dan komposisi adalah kunci.
Pencahayaan
Dapur estetik cenderung memanfaatkan pencahayaan natural: terang, lembut, dan tidak terlalu kontras.
Visual yang bersih dan terang mendukung tren konten yang tenang dan mindful.
Warna dan nuansa ruang
Tren dapur estetik banyak menggunakan:Warna netral: putih, beige, pastel
Elemen kayu alami
Rak terbuka yang tertata rapi
Komposisi frame
Kebiasaan Gen Z saat memotret makanan menunjukkan beberapa pola komposisi:Background dibersihkan dulu agar tidak mengganggu visual
Makanan ditata rapi sebelum difoto
Foto diambil dari berbagai angle untuk mencari sudut paling menarik
Semua ini bisa diadaptasi ke konten memasak: pastikan area kerja bersih, gunakan cahaya yang cukup, dan pikirkan susunan objek di dalam frame sebelum merekam.
Penataan Makanan (Food Styling) dan Penggunaan Properti
Penataan makanan berperan besar dalam membuat konten terlihat estetik dan menggugah selera.
Penataan makanan
Dari contoh jajanan dan menu yang populer, beberapa pola food styling yang bisa ditarik:Martabak: potongan tebal, isian lumer, tampilan loyang utuh sebelum dipotong
Croffle/croissant: plating ala brunch, sering dipadukan dengan kopi
Seblak/cilok/cimol/cilor: permainan warna saus dan bumbu tabur yang mencolok
Salad buah dan smoothie bowl: penataan topping yang rapi dan berwarna-warni
Bubur sumsum: kontras bubur putih dengan kuah gula merah, bisa ditambah kelapa parut
Properti pendukung
Dapur estetik sering memanfaatkan:Peralatan masak yang juga estetik (warna pastel, kayu, kaca)
Wadah dan mangkuk yang serasi dengan tema
Background yang netral agar makanan tetap jadi fokus
Penataan yang konsisten dengan konsep akan membantu konten terasa utuh dan enak dilihat, baik untuk foto maupun video.

sumber gambar: eggeeggjiew via iStock
Teknik Pengambilan Gambar dan Pengeditan Video/Foto
Dari kebiasaan pembuatan konten makanan dan dapur estetik, ada beberapa prinsip teknis yang bisa disimpulkan:
Angle pengambilan gambar
Gen Z biasa memotret makanan:Dari atas (flat lay) untuk menonjolkan komposisi
Dari samping untuk memperlihatkan ketebalan, lapisan, atau lelehan topping
Dari sudut miring untuk memberi dimensi dan kedalaman
Fokus pada detail
Konten yang menarik sering menonjolkan:Tekstur (kriuk ayam krispi, lembutnya bubur sumsum, kenyalnya candil atau cilok)
Momen dinamis (saus disiram, martabak dipotong, kuah soto dituangkan)
Pengeditan visual
Walaupun detail teknis editing tidak dirinci dalam referensi, dari tren yang disebutkan dapat ditarik beberapa poin umum:Warna cenderung lembut dan menenangkan
Tone bersih dan terang untuk memperkuat kesan estetik
Filter warna digunakan untuk menciptakan suasana dapur yang terasa seperti “rumah impian” meski ruang sebenarnya sederhana
Dengan kombinasi angle yang tepat, fokus detail, dan pengaturan warna yang konsisten, konten memasak akan lebih mudah menarik perhatian di feed maupun story.
Cek produk tripod agar pengambilan video memasakmu tetap stabil, checkout di KuyBeli!
Membangun Narasi dan Keterlibatan Penonton
Konten visual yang bagus akan lebih kuat jika didukung narasi yang relevan dengan kebiasaan audiens.
Narasi sebagai bagian dari pengalaman
Beberapa pola narasi yang muncul dalam referensi:Gen Z sering memberikan review, rating rasa, dan komentar setelah makan
Mereka terbiasa membandingkan versi satu makanan dengan lainnya di konten berikutnya
Makanan dan dapur menjadi sarana self-expression dan cerita pribadi
Mengajak penonton terlibat
Anda bisa menyusun konten memasak dengan ritme:Proses memasak yang tenang dan rapi
Disisipi cerita singkat: asal-usul makanan (misalnya bubur sumsum), filosofi, atau momen keluarga
Ditutup dengan ajakan interaksi: pendapat rasa, ide variasi, atau makanan favorit versi penonton
Konten yang berkelanjutan
Dapur estetik dan makanan punya daya hidup konten yang panjang karena bisa dikembangkan menjadi berbagai tema:Meal prep dan menu sehat
Jajanan viral dan favorit Gen Z
Masakan tradisional dan makanan rumahan
Cerita usaha makanan rumahan atau sampingan ibu rumah tangga
Dengan narasi yang konsisten, penonton tidak hanya melihat makanan, tetapi juga merasa terhubung dengan cerita di baliknya.
Konsistensi Gaya dan Branding Pribadi
Dari pembahasan tentang nama usaha makanan rumahan dan nama toko di TikTok Shop, terlihat bahwa penamaan dan gaya visual adalah bagian penting dari branding.
Nama dan identitas
Untuk kreator konten memasak yang juga berjualan, nama usaha bisa sekaligus menjadi identitas konten. Contoh:Nuansa rumahan: Dapurku, Sajian Khas Rumahan, Hidangan Legendaris
Nuansa sehat: Healthy Corner, Fit Choice, Dapur Sehat
Nuansa jajanan: Snack Hub, The Snack Lab, Cemil Kuy
Konsistensi visual
Mengacu pada tren dapur estetik dan feed Gen Z:Warna dan tone konten dibuat senada
Gaya penyajian makanan berulang dengan pola yang mirip
Dapur dan properti yang muncul di konten terasa “satu dunia” dengan nama dan konsep yang digunakan
Keselarasan antara rumah, dapur, dan konten
Fenomena “rumah jadi konten” dan “konten jadi rumah” menunjukkan bahwa:Rumah dan dapur menjadi bagian dari persona digital
Konten bisa menghadirkan versi ideal dari dapur atau rumah impian
Menjaga konsistensi gaya membantu penonton langsung mengenali konten Anda meski hanya sekilas lewat di timeline.
Praktik dan Eksperimen untuk Hasil Terbaik
Dari berbagai referensi—mulai dari tren dapur estetik, kebiasaan Gen Z terhadap makanan, hingga contoh usaha makanan rumahan—dapat disarikan beberapa poin penting untuk membuat konten memasak yang estetik:
Dapur dan makanan kini menjadi bagian penting dari identitas digital dan branding personal.
Visual yang bersih, terang, dan tertata adalah fondasi estetika konten masak.
Pemilihan resep, penataan makanan, dan penggunaan properti perlu selaras dengan konsep dan audiens.
Narasi yang dekat dengan keseharian (jajan, masakan rumahan, usaha sampingan) membuat penonton merasa terhubung.
Konsistensi gaya visual dan penamaan membantu membangun citra yang mudah diingat.
Di balik semua itu, penting untuk mengingat catatan yang muncul dalam tren dapur estetik:
Estetika sebaiknya tidak menggeser fungsi dapur sebagai tempat memasak.
Konten yang baik bukan hanya yang indah dilihat, tetapi juga yang membuat pemilik dapur merasa nyaman, produktif, dan tidak tertekan oleh standar visual yang berlebihan.
Dengan terus berlatih, mengamati tren, dan bereksperimen dengan resep, pencahayaan, serta penataan, kualitas konten memasak akan berkembang seiring waktu—tanpa harus mengorbankan esensi dapur sebagai ruang hidup yang nyata dan fungsional.

