KuybeliKuybeli

NGT Bukan Sekadar Selang: Panduan Lengkap dan Aman Administrasi Obat

NGT Bukan Sekadar Selang: Panduan Lengkap dan Aman Administrasi Obat
Minat|Penggunaan Tablet

Memahami NGT dan Kenapa Administrasi Obat Itu Tidak Boleh Asal

Nasogastric tube (NGT) adalah salah satu jenis feeding tube yang dimasukkan melalui hidung dan berakhir di lambung.

Tujuan utamanya adalah mempertahankan asupan nutrisi ketika pasien tidak mampu makan per oral secara adekuat atau ketika akses saluran cerna terbatas.

Selain untuk nutrisi dan cairan, NGT juga sering dimanfaatkan untuk pemberian obat.

Administrasi obat melalui NGT tidak bisa disamakan dengan pemberian obat per oral biasa, karena ada beberapa risiko penting yang perlu diwaspadai:

  • Tidak semua sediaan per oral aman diberikan melalui NGT. Pemilihan bentuk sediaan yang keliru bisa menurunkan efektivitas obat, meningkatkan toksisitas, hingga menyumbat tube.

  • Menghancurkan tablet atau membuka kapsul sering kali dilakukan di luar lisensi produk. Tenaga kesehatan yang menginstruksikan atau menyiapkan obat memikul tanggung jawab bila terjadi efek samping atau kegagalan terapi akibat perubahan formulasi.

  • Data ilmiah terkait pemberian obat via NGT masih terbatas, sehingga kehati-hatian dan penilaian klinis sangat krusial.

Kenali Karakteristik Tube Sebelum Memberi Obat

Sebelum obat dimasukkan ke dalam NGT, karakteristik tube perlu dikaji, karena hal ini dapat memengaruhi kelancaran aliran obat dan efektivitas terapinya.

Ukuran tube

Diameter luar tube dinyatakan dalam satuan French (Fr), di mana 1 Fr setara dengan 0,33 mm.

Tube yang berdiameter sempit dan panjang lebih mudah tersumbat oleh partikel obat yang besar atau sirup yang sangat kental.

Rekomendasi untuk pasien dewasa:

  • Gunakan tube ukuran 8–12 Fr untuk pemberian obat.

  • Pilih bentuk sediaan obat yang sesuai.

  • Lakukan pembilasan tube sebelum dan setelah pemberian obat untuk meminimalkan risiko sumbatan.

Bahan tube

Feeding tube dapat dibuat dari:

  • Polyvinylchloride (PVC)

  • Polyurethane (PUR)

  • Silikon

  • Lateks

Bahan silikon dan lateks umumnya lebih lentur dan fleksibel dengan diameter lumen yang lebih kecil dibanding PVC atau PUR, meskipun ukuran Frenchnya sama.

Beberapa obat seperti Carbamazepine, Clonazepam, Diazepam, dan Phenytoin dapat berikatan dengan bahan plastik seperti PVC dan PUR sehingga berpotensi menurunkan jumlah obat yang benar-benar sampai ke pasien.

Rekomendasi bila menggunakan PVC atau PUR:

  • Larutkan Carbamazepine, Clonazepam, Diazepam, dan Phenytoin dengan 30–60 ml air.

  • Setelah pemberian, bilas tube dengan 15–30 ml air.

  • Lakukan monitoring respon klinis pasien dengan ketat.

Fungsi dan lumen tube

Sebagian feeding tube memiliki lebih dari satu lumen.

Lumen yang didesain untuk aspirasi atau drainase tidak boleh digunakan untuk pemberian obat, karena berisiko mengganggu fungsi utama dan menimbulkan komplikasi.

Cegah Interaksi Obat dan Makanan

Obat yang diberikan bersamaan dengan nutrisi enteral bisa berinteraksi sehingga mengubah bioavailabilitas obat.

Hal ini sangat penting diperhatikan pada obat dengan indeks terapi sempit, misalnya:

  • Digoxin

  • Phenytoin

  • Warfarin

Intinya: obat dan nutrisi enteral sebaiknya tidak masuk “bersamaan” di jalur yang sama tanpa jeda waktu yang memadai.

Pilih Bentuk Sediaan Obat yang Tepat

Secara umum, obat dalam bentuk larutan atau tablet yang mudah larut adalah pilihan utama untuk pemberian melalui NGT.

Menghancurkan tablet atau membuka kapsul sebaiknya dilakukan hanya bila tidak tersedia bentuk sediaan lain yang lebih sesuai.

Bentuk Sediaan yang Dapat Diberikan Melalui NGT

1. Larutan

Obat dalam bentuk larutan merupakan opsi yang paling ideal untuk pasien dengan NGT karena:

  • Siap pakai dan mudah diukur.

  • Lebih jarang menyebabkan sumbatan tube.

  • Bersifat homogen sehingga dosis yang diberikan lebih akurat.

Namun, bentuk larutan juga punya beberapa kelemahan:

  • Larutan dengan kandungan sorbitol tinggi dapat menimbulkan diare dan kram perut. Batas aman sorbitol umumnya < 15 g/hari.

  • Larutan yang terlalu kental berpotensi menyumbat tube. Kekentalan dapat dikurangi dengan penambahan 30–60 ml air.

  • Sebagian larutan mengandung alkohol dalam jumlah tinggi sehingga tidak cocok untuk pasien epilepsi atau pasien yang mendapat Metronidazole maupun Warfarin.

2. Suspensi

Keuntungan sediaan suspensi:

  • Dosis relatif mudah diukur.

  • Siap pakai.

Kelemahannya:

  • Ukuran partikel obat yang besar dapat meningkatkan risiko sumbatan tube.

  • Memerlukan pengocokan yang adekuat sebelum pemberian untuk menjamin dosis yang tepat.

3. Tablet kempa

Contoh: Paracetamol tablet, Amlodipine tablet, CTM tablet.

Langkah penyiapan:

  • Masukkan tablet ke dalam syringe kemudian tambahkan 10 ml air.

  • Biarkan tablet larut, lalu kocok syringe sebelum obat diberikan.

  • Alternatif lain: gerus tablet sampai menjadi serbuk halus, kemudian larutkan dalam 15–30 ml air.

  • Penggerusan tablet sitostatika dan hormon harus dilakukan di ruang handling sitostatika untuk mencegah paparan pada petugas.

4. Tablet effervescent

Contoh: CDR®, Redoxon®, Fluimucil® effervescent.

Langkah penyiapan:

  • Larutkan tablet dalam 50 ml air.

  • Berikan obat melalui NGT setelah tablet larut sempurna.

5. Tablet dispersible dan orodispersible

Contoh: Zinc tablet, Harnal-D®, Madopar® dispersible, Prosogan FD®, Vometa FT®, Brainact O-dis®, Ondavell ODT®.

Langkah penyiapan:

  • Campurkan tablet ke dalam 10–15 ml air.

  • Biarkan sampai tablet larut sempurna sebelum diberikan.

6. Kapsul gelatin keras

Contoh: Celebrex®, Fluimucil kapsul®, Clindamycin kapsul.

Langkah penyiapan:

  • Buka cangkang kapsul.

  • Campurkan serbuk di dalamnya dengan 15 ml air sampai larut atau terdispersi merata.

Bentuk Sediaan yang Tidak Disarankan untuk NGT

Tidak semua obat boleh dimodifikasi atau dialihkan ke jalur NGT. Beberapa bentuk sediaan berikut sebaiknya dihindari untuk administrasi melalui NGT.

1. Tablet/kapsul salut enterik

Sediaan salut enterik dirancang untuk melepaskan zat aktif di usus, bukan di lambung.

Tujuannya:

  • Melindungi zat aktif dari kerusakan oleh asam lambung.

  • Melindungi lambung dari obat yang bersifat mengiritasi.

Menggerus tablet atau kapsul salut enterik akan merusak desain formulasi, sehingga:

  • Zat aktif bisa rusak sebelum mencapai lokasi absorpsi.

  • Risiko iritasi saluran cerna meningkat.

  • Partikel salut enterik bisa menyumbat tube.

Contoh: Bisacodyl®, Voltaren®, Salofalk®, Farmasal®, obat golongan Proton Pump Inhibitor (PPI).

2. Tablet/kapsul modified release (MR)

Sediaan lepas lambat ini dirancang untuk melepaskan zat aktif secara perlahan dalam jangka waktu tertentu.

Menggerus tablet/kapsul MR akan:

  • Mengubah profil farmakokinetik obat.

  • Menyebabkan peningkatan tajam konsentrasi obat di plasma.

  • Meningkatkan risiko efek samping.

Biasanya ditandai dengan kode seperti: SR, XR, MR, CR, ER, XL, LA, CD, OROS, OCAS, OD, Retard.

Contoh: Miozidine MR®, Glumin XR®, Adalat OROS®, Harnal OCAS®, Trizedon OD®.

3. Tablet bukal dan sublingual

Tablet jenis ini dimaksudkan untuk diserap melalui mukosa mulut, sehingga dapat melewati metabolisme lintas pertama di hati dan memberikan onset yang lebih cepat.

Bila diberikan melalui NGT:

  • Absorpsi dan bioavailabilitas menurun.

  • Efektivitas obat berkurang atau onset menjadi tertunda.

Contoh: Isosorbide dinitrate tablet sublingual, Farsorbid® 5 tablet sublingual.

4. Tablet hisap

Tablet hisap dirancang agar melarut perlahan di rongga mulut untuk memberikan efek lokal atau sistemik.

  • Vitamin dengan efek sistemik dapat diabsorpsi secara bukal atau setelah tertelan.

  • Obat dengan efek lokal (misalnya dekongestan atau antiseptik) memerlukan kontak langsung di area mulut atau tenggorokan.

Jika tablet hisap digerus dan diberikan melalui NGT, efek lokal di mukosa mulut dan tenggorokan tidak akan tercapai.

Contoh: FG Troches®.

5. Tablet kunyah

Data spesifik mengenai pemberian tablet kunyah via EFT masih terbatas.

  • Tablet kunyah yang dirancang untuk mempermudah penelanan atau mempercepat pelepasan zat aktif (misalnya Aspilets chewable®, Maltofer® chewable) bisa digerus dan berpotensi diberikan via NGT.

  • Namun, tablet kunyah yang mengandalkan absorpsi melalui mukosa mulut (misalnya Tegretol® chewtabs) akan mengalami penurunan absorpsi bila digerus dan dialirkan melalui NGT.

Artinya, tidak semua tablet kunyah otomatis aman untuk dimodifikasi.

6. Kapsul gelatin lunak

Obat dalam kapsul gelatin lunak biasanya bersifat kurang larut air dan dikemas dalam larutan berminyak.

Secara teori, cangkang kapsul lunak dapat dibuka dan isinya diambil dengan jarum spuit, tetapi:

  • Akurasi dosis sangat bergantung pada keterampilan petugas.

  • Tidak ada jaminan bahwa seluruh isi kapsul termanfaatkan.

Karena itu, bentuk sediaan ini sebaiknya tidak digunakan untuk pemberian obat melalui NGT.

Contoh: kapsul minyak ikan, Ever E 250®.

7. Sediaan injeksi

Pemberian sediaan injeksi melalui NGT tidak direkomendasikan karena:

  • pH dan bentuk garam zat aktif pada sediaan injeksi berbeda dengan sediaan oral, sehingga bioavailabilitas per oral menjadi tidak dapat diprediksi.

  • Beberapa sediaan injeksi mengandung bahan tambahan seperti Polyethylene glycol yang tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi per oral.

  • Ada sediaan injeksi yang bersifat hipertonis dan dapat memicu diare osmotik bila diberikan lewat saluran cerna.

Ringkasan Praktis: Kunci Administrasi Obat Aman via NGT

Untuk memudahkan praktik sehari-hari, berikut poin-poin penting yang perlu selalu diingat:

  • Pilih bentuk sediaan yang paling sesuai:

    • Larutan.

    • Tablet yang dapat digerus atau mudah larut.

    • Kapsul gelatin keras (dengan serbuk yang dapat disuspensikan).

  • Lakukan pembilasan tube secara rutin:

    • Bilas tube dengan 15–30 ml air sebelum pemberian obat.

    • Bilas di antara pemberian obat yang berbeda.

    • Bilas kembali setelah semua obat selesai diberikan.

  • Bersihkan alat bantu penyiapan:

    • Mortar, pot, atau alat lain yang digunakan untuk menggerus atau melarutkan obat harus dibilas dengan 15 ml air.

    • Air bilasan juga diberikan melalui EFT agar seluruh dosis obat tersalurkan.

  • Pisahkan waktu obat dan nutrisi enteral:

    • Obat sebaiknya tidak diberikan bersamaan dengan nutrisi.

    • Pemisahan ini membantu mencegah interaksi yang dapat menurunkan efektivitas terapi.

Dengan memahami karakteristik tube, memilih sediaan obat yang tepat, dan menerapkan teknik penyiapan serta pembilasan yang benar, administrasi obat melalui NGT dapat dilakukan dengan lebih aman, efektif, dan minim komplikasi bagi pasien.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!