Lari 42K di Jantung Kota New York
Sebanyak 15 alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ikut turun ke lintasan New York City Marathon 2025 yang digelar di Kota New York, Amerika Serikat, pada Minggu, 2 November 2025.
Mereka bergabung dengan puluhan ribu pelari lain dari berbagai penjuru dunia dan menjadi bagian dari lautan manusia yang memenuhi jalanan kota.
Bagian dari 59 Ribu Lebih Pelari Dunia
Keikutsertaan para alumni ITB ini menambah warna dalam barisan 59.662 pelari yang berkompetisi di ajang maraton terbesar di dunia tersebut.
New York City Marathon bukan sekadar lomba lari, tetapi festival olahraga yang menyatukan pelari dengan latar belakang, budaya, dan cerita hidup yang berbeda-beda.
Setiap peserta membawa misi masing-masing, mulai dari mengejar personal best, menyelesaikan maraton pertama, hingga mewakili komunitas dan negara asal.
Rute Legendaris: Menyentuh Lima Wilayah New York
Lomba sejauh 42 kilometer ini dimulai dari Staten Island dan berakhir megah di Central Park, Upper Manhattan.
Rute New York City Marathon dikenal ikonik karena melintasi lima borough utama kota New York:
Staten Island: titik start yang penuh adrenalin
Brooklyn: suasana meriah dengan dukungan penonton yang padat
Queens: kombinasi budaya dan energi warga lokal
Bronx: segmen menantang menjelang akhir lomba
Manhattan: penutup emosional, terutama saat memasuki Central Park
Perpaduan pemandangan kota, jembatan, gedung tinggi, hingga sorak-sorai penonton membuat setiap kilometer terasa spesial.
Bersaing Bareng Publik Figur Dunia
Ajang tahun ini juga diramaikan oleh sejumlah figur publik internasional. Beberapa di antaranya adalah:
Matt James, tokoh televisi Amerika
Oliver Phelps, aktor asal Inggris
Anthony Ramos, aktor yang dikenal di kancah Hollywood
Claire Holt, aktris asal Australia
Carl Radke, figur reality show
Kehadiran nama-nama ini semakin mengangkat citra New York City Marathon sebagai panggung global yang menyatukan atlet amatir, pelari serius, dan selebritas dalam satu lintasan.
Alumni ITB: Mewakili Indonesia di Panggung Dunia
Para alumni ITB yang ikut serta berlari dengan semangat kebersamaan, saling menyemangati dari start hingga garis finish.
Mereka tidak hanya mengejar catatan waktu, tetapi juga membawa nama Indonesia di ajang olahraga internasional yang sangat prestisius.
Melalui partisipasi ini, mereka ikut menyuarakan nilai:
Sportivitas
Disiplin latihan dan persiapan
Gaya hidup sehat dan aktif
Kehadiran mereka di tengah puluhan ribu pelari dunia menjadi bukti bahwa komunitas lari Indonesia semakin diperhitungkan di kancah global.
Maraton Paling Prestisius dan Menantang
New York City Marathon dikenal sebagai salah satu lomba lari paling bergengsi di dunia.
Beberapa hal yang membuatnya istimewa antara lain:
Sistem kualifikasi ketat yang menyaring pelari berdasarkan performa atau mekanisme undian
Rute berbukit dan berangin yang menantang kekuatan fisik dan mental
Suasana kota yang hidup, dengan penonton yang tak henti memberi dukungan sepanjang rute
Bagi banyak pelari, bisa start di ajang ini saja sudah menjadi mimpi yang terwujud.
Uji Batas Diri dan Momen Solidaritas Global
Setiap tahun, New York City Marathon menjadi simbol kuat solidaritas dunia olahraga.
Di satu hari yang sama, puluhan ribu orang dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang berlari di jalan yang sama, mengejar garis finish masing-masing.
Bagi para peserta, termasuk para alumni ITB, maraton ini adalah:
Ajang untuk menguji batas kemampuan diri
Kesempatan merasakan euforia finish di salah satu maraton paling bergengsi di dunia
Momen untuk membawa pulang cerita, inspirasi, dan motivasi baru
Di balik angka 42 kilometer, selalu ada kisah perjuangan, rasa lelah, dan kebanggaan yang tak ternilai saat menembus garis akhir.






