Kuybeli

Simon Tahamata Jadi Mata Garuda: Dari Putra Maluku ke Arsitek Bakat Timnas

Profil Bagus SaputroBagus Saputro02-01

Babak Baru Sang Legenda

Setelah puluhan tahun mengasah talenta di berbagai akademi top Eropa, Simon Tahamata akhirnya kembali ke tanah leluhurnya.

Bukan sebagai pemain, bukan juga sekadar pelatih lapangan. Ia datang sebagai arsitek masa depan sepak bola Indonesia, dengan jabatan resmi sebagai Head of Scouting Timnas Indonesia.

Dengan segunung pengalaman, pria yang dulu dikenal sebagai winger kiri lincah ini kini akan beroperasi di balik layar. Tugasnya: menjadi mata Garuda, mengendus talenta terbaik untuk masa depan Merah Putih.

Namun muncul pertanyaan: sejak kapan tim nasional butuh Head of Scouting? Kenapa bukan direktur teknik? Dan sebenarnya, seberapa penting peran Simon di tubuh Timnas Indonesia?

Akar Maluku dan Identitas Simon

Sebelum bahas tugasnya di Timnas, menarik menengok dulu latar belakang Simon. Secara fisik, ia justru lebih mirip orang Indonesia ketimbang orang Belanda.

Warna kulit, bentuk wajah, hingga postur tubuhnya sangat identik dengan sosok bapak-bapak dari Maluku atau Jawa. Setelah ditelusuri, hal itu bukan kebetulan.

Simon Tahamata lahir di Vught, Belanda, pada 26 Mei 1956. Kedua orang tuanya berasal dari Indonesia Timur, tepatnya Maluku. Ia merupakan bagian dari gelombang besar masyarakat Maluku yang dibawa pemerintah Belanda pada awal 1950-an, setelah pembubaran KNIL.

Sekitar 12.500 orang Maluku saat itu dipindahkan ke Belanda dan ditempatkan di barak-barak khusus, salah satunya di Vught, tempat Simon lahir dan tumbuh.

Sejak muda, Simon sadar betul akan identitas dan akar budayanya. Ia memberi simpatinya pada gerakan komunitas Maluku di Belanda. Saat remaja, ia menyaksikan langsung berbagai aksi perjuangan orang Maluku, termasuk insiden pembajakan kereta di Wijster, Bovensmilde, dan De Punt.

Karena kedekatan emosional itu, Simon sempat diyakini masih memegang keyakinan bahwa cita-cita RMS (Republik Maluku Selatan), yang diproklamasikan pada 25 April 1950, akan menjadi kenyataan.

Keputusan Kontroversial di Mata Pendukung RMS

Langkah Simon menerima tawaran PSSI sebagai Head of Scouting Timnas Indonesia ternyata tak sepenuhnya disambut positif oleh semua pihak.

Di kalangan pendukung Republik Maluku Selatan, keputusan ini memicu pro dan kontra. Salah satu pendukung RMS di Belanda bahkan membuat video berisi kritik pedas terhadap Simon.

Dalam video tersebut, sang pembicara menilai Simon membiarkan nama besarnya dijadikan alat propaganda pemerintah Indonesia. Unggahan ini mendapatkan banyak respons dari komunitas pendukung RMS, dan banyak yang menyayangkan keputusan sang legenda.

Meski begitu, Simon tetap melangkah. Ia memilih peran baru ini demi sepak bola, demi memaksimalkan pengalamannya sebagai penggali bakat.

Dari Winger Lincah Jadi Guru Bakat Eropa

Di kancah sepak bola Belanda, nama Simon Tahamata bukan kaleng-kaleng. Ia adalah salah satu sosok yang sangat dihormati di Eropa.

Karier profesionalnya dimulai sebagai pemain. Bersama Ajax Amsterdam, ia dikenal sebagai winger lincah dengan dribbling dan teknik di atas rata-rata.

  • Bersama Ajax, ia meraih gelar Eredivisie.

  • Ia sempat satu tim dengan sejumlah legenda besar Belanda.

Pada 1980, Simon hijrah ke Belgia dan memperkuat Standard Liège. Di sana, kontribusinya begitu besar:

  • Membantu klub meraih dua gelar liga.

  • Mengantarkan Standard Liège ke final Piala Winners UEFA.

Setelah gantung sepatu, reputasinya justru makin naik ketika ia terjun sebagai pelatih teknik, terutama di akademi Ajax. Di titik inilah kemampuan Simon sebagai pengembang bakat benar-benar terlihat.

Ia tercatat pernah membina dan mengasah kemampuan banyak pemain top dunia, di antaranya:

  • Frenkie de Jong

  • Donny van de Beek

  • Matthijs de Ligt

  • Sven Botman

  • Justin Kluivert

Simon juga tidak hanya berkutat di Belanda. Ia pernah melatih tim junior Standard Liège, Beerschot, hingga merantau ke Asia untuk menangani tim muda Al-Ahli, klub yang kini dibela Riyad Mahrez.

Di Al-Ahli, ia bekerja selama lima tahun (2009–2014). Pengalaman ini membuatnya akrab dengan kultur sepak bola Asia, sebuah modal penting untuk tugas barunya bersama Timnas Indonesia.

Kenapa Head of Scouting, Bukan Direktur Teknik?

Rekam jejak Simon yang begitu mentereng memunculkan pertanyaan baru: kenapa PSSI justru menempatkannya sebagai Head of Scouting, bukan direktur teknik?

Apalagi, jabatan Head of Scouting biasanya lebih identik dengan level klub, bukan tim nasional.

Secara teknis, Indonesia sebenarnya sudah punya beberapa sosok penting di bidang pengembangan pemain:

  • Gerald Vanenburg yang fokus membina pemain muda.

  • Alex Pastoor dan Denny Landzaat yang turut mengasah kemampuan individu pemain.

PSSI melihat Simon dari sudut pandang berbeda: insting scouting-nya.

Dari pengalamannya di Ajax dan klub-klub Belgia, Simon dikenal tidak hanya jago menggembleng teknik, tapi juga tajam dalam melihat potensi pemain muda, bahkan yang belum matang secara fisik dan teknik.

Model ini terinspirasi dari sistem Timnas Belanda. Di sana, selain direktur olahraga dan penasihat strategis, mereka juga punya Head of Scouting khusus. Sosok itu adalah Ronald Spelbos, yang dipilih karena paham betul seluk-beluk sepak bola Belanda dan hampir seluruh kariernya dihabiskan di Negeri Kincir Angin.

Misi Utama: Mencari dan Memetakan Talenta

Jika Indonesia ingin meniru kerapihan sistem sepak bola Belanda, muncul pertanyaan lain: kenapa tidak menunjuk sosok lokal yang paham betul kultur sepak bola nasional?

Di sinilah letak peran Simon yang sebenarnya.

Dalam fase pembangunan jangka panjang sepak bola Indonesia, PSSI membutuhkan figur yang bukan hanya paham teknik, tapi juga piawai menyusun sistem pemantauan bakat.

Tugas besar Simon antara lain:

  • Mendesain strategi scouting dari level akar rumput hingga diaspora Indonesia di luar negeri.

  • Menyusun jalur pemantauan pemain berbakat yang rapi dan berkelanjutan.

  • Membangun standar profesional dalam mencari dan menyeleksi pemain.

Posisi Head of Scouting memberinya ruang lebih luas daripada sekadar pelatih teknik. Ia bisa mengintervensi sistem pencarian talenta, bukan hanya mengurus latihan harian.

Implikasinya cukup jelas: proyek pemain keturunan dan naturalisasi tampaknya akan terus berjalan, baik dari Belanda maupun negara Eropa lain, dengan pendekatan yang lebih terstruktur.

Dari Dicari, Lalu Dikembangkan

Tugas Simon tidak selesai ketika pemain berbakat berhasil ditemukan. Justru setelah itu, pekerjaannya makin serius.

Ia harus memastikan bahwa pemain-pemain yang masuk radar Timnas:

  • Sesuai dengan kebutuhan taktik dan filosofi permainan Timnas Indonesia.

  • Punya karakter yang siap ditempa untuk level internasional.

Begitu para pemain ini dipanggil ke Timnas, Simon tetap akan berperan dalam mengawal proses pengembangan mereka.

Termasuk di dalamnya:

  • Mengidentifikasi pemain naturalisasi potensial untuk Kualifikasi Piala Dunia.

  • Bekerja sama dengan tim pelatih lain untuk memaksimalkan progres pemain.

Dalam keseharian, ia akan sering bersinggungan dengan sosok-sosok seperti Gerald Vanenburg dan Nova Arianto, yang juga terlibat dalam pengembangan pemain.

Harapan besar juga datang dari jajaran federasi. Pengalaman Simon di akademi Ajax dipandang sebagai senjata utama untuk membantu pemain muda Indonesia menyentuh level potensi tertinggi mereka.

Menyusun Ulang Peta Pemain Timnas

Peran Simon tidak hanya berhenti pada kelompok usia muda.

Legenda Ajax Amsterdam ini juga akan terlibat langsung dalam proses seleksi pemain untuk Timnas senior asuhan Patrick Kluivert.

Beberapa hal yang akan ia nilai antara lain:

  • Kemampuan teknis pemain.

  • Kondisi fisik.

  • Kematangan mental.

Tujuan akhirnya jelas: memastikan setiap pemain yang mengenakan seragam Timnas Indonesia selaras dengan filosofi permainan yang ingin dibangun.

Dampaknya, daftar pemain Timnas bisa berubah drastis.

Sebagian besar pemain saat ini adalah warisan dari era Shin Tae-yong. Dengan hadirnya Simon, kemungkinan besar akan ada:

  • Evaluasi ulang siapa yang layak dipertahankan.

  • Pemangkasan pemain yang dinilai tidak lagi sesuai kebutuhan.

  • Munculnya nama-nama baru yang sebelumnya tidak pernah menyentuh daftar pemanggilan.

Tidak menutup kemungkinan, akan ada pemain tak terduga yang tiba-tiba masuk radar. Di sinilah menariknya bekerja dengan seorang Head of Scouting berpengalaman seperti Simon.

Hasil akhirnya? Kita mungkin akan melihat wajah baru Timnas Indonesia, dengan komposisi yang lebih selektif, lebih terukur, dan lebih sesuai dengan arah permainan yang ingin dibangun.

Penutup: Saat Mata Elang Mengawasi Garuda

Kehadiran Simon Tahamata di Timnas Indonesia bukan sekadar penambahan nama besar di jajaran staf.

Ini adalah sinyal bahwa Indonesia ingin mulai bermain di level yang lebih serius dalam hal pemetaan talenta.

  • Memiliki akar Maluku dan identitas Indonesia yang kuat.

  • Dihormati sebagai legenda di Belanda dan Belgia.

  • Berpengalaman melatih dan mengembangkan pemain level dunia.

Semua itu menjadikannya kombinasi langka antara identitas, pengalaman, dan visi.

Jika misinya berjalan sesuai rencana, dalam beberapa tahun ke depan, daftar pemain Timnas Indonesia bisa terasa sangat berbeda.

Bukan cuma soal nama-nama baru, tapi kualitas, mentalitas, dan standar yang ikut naik. Dan di balik semua itu, akan ada satu figur yang bekerja dalam diam: Simon Tahamata, Sang Mata Garuda.

komentar

Belum ada komentar,