Hidup di Era Diskon, Flash Sale, dan Barang Kekinian
Perkembangan teknologi di Indonesia melesat cepat, dan bersama arus informasi yang makin deras, muncul fenomena baru: barang trendy jadi incaran di mana-mana.
Dengan akses informasi yang gampang banget, orang bukan cuma lebih update soal pengetahuan, tapi juga lebih mudah terpapar tren, produk baru, dan barang-barang yang lagi hype. Akibatnya, keinginan untuk ikut tren dan punya barang kekinian makin kuat.
Di balik perilaku ini, ada satu kata kunci dari dunia psikologi konsumen: hedonic shopping motivation alias motivasi belanja hedonis.
Apa Sih Motivasi Belanja Hedonis?
Motivasi belanja hedonis adalah dorongan untuk belanja demi kesenangan, emosi, dan pengalaman menyenangkan, bukan sekadar karena butuh fungsi produknya.
Individu dengan motivasi belanja hedonis cenderung:
Berbelanja secara berlebihan
Mengutamakan rasa puas secara emosional
Kurang mempertimbangkan kegunaan produk
Ketika motivasi ini tidak terkontrol, dampaknya bisa bikin repot: finansial tertekan hanya demi memenuhi keinginan sesaat, terutama untuk barang-barang yang sedang tren.
Penelitian sebelumnya menggambarkan motivasi belanja hedonis sebagai perilaku yang fokus pada pemenuhan kepuasan emosional, bukan sekadar fungsi produk. Orang ingin merasa senang, terhibur, dan mendapatkan pengalaman belanja yang seru dan menarik.
Selain itu, rasa suka terhadap produk dan daya tarik estetika (desain, warna, gaya) juga memperkuat motivasi belanja hedonis, terutama saat menyangkut barang-barang kekinian.
Enam Dimensi Kunci: Kenapa Kita Gampang Kalap Belanja
Arnold & Reynolds (2003) menguraikan beberapa dimensi penting dari motivasi belanja hedonis. Masing-masing punya karakteristik perilaku yang sering banget kita temui di kehidupan sehari-hari.
1. Adventure Shopping
Ini adalah dimensi untuk kamu yang merasa belanja adalah petualangan.
Ada rasa penasaran eksplorasi produk baru
Menikmati stimulasi sensori: melihat display produk, mencium aroma tertentu, mendengar suara di toko atau platform belanja
Proses eksplorasi jadi pengalaman yang menyenangkan, bukan sekadar mencari barang
2. Social Shopping
Belanja di sini bukan soal barangnya saja, tapi momen kebersamaan.
Menikmati belanja bareng teman atau keluarga
Menggunakan belanja sebagai ajang sosialisasi
Mencari produk yang cocok untuk orang lain
Dengan kata lain, keranjang belanja jadi sarana buat menguatkan hubungan sosial.
3. Gratification Shopping
Ini adalah pola belanja ketika seseorang menjadikan shopping sebagai pelarian emosional.
Belanja untuk mengurangi stres
Memperbaiki mood yang lagi jelek
Memakai belanja sebagai bentuk self-reward atau memanjakan diri
Belanja jadi terapi cepat ketika hidup terasa berat.
4. Idea Shopping
Di dimensi ini, belanja dipakai sebagai cara untuk mengikuti perkembangan tren dan inovasi produk.
Mengamati model baru
Mengikuti update tren terbaru
Menikmati aktivitas “window shopping” untuk mencari inspirasi
Bukan sekadar beli, tapi juga update insight soal dunia barang kekinian.
5. Role Shopping
Belanja di sini terkait dengan peran sosial dan tanggung jawab.
Mencari barang yang sempurna untuk orang lain
Merasa puas saat pemberian hadiah mendapat respon positif
Belanja bukan lagi soal diri sendiri, tapi tentang bagaimana memainkan peran tertentu (teman, pasangan, anak, saudara, dan sebagainya).
6. Value Shopping
Ini cocok untuk kamu yang merasa diskon itu medan perang yang harus dimenangkan.
Berburu diskon dan promo
Merasa bangga kalau berhasil dapat harga miring
Menganggap promo sebagai tantangan atau permainan
Rasa “menang” karena dapat diskon menjadi sumber kepuasan tersendiri.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Penelitian ini memakai pendekatan kuantitatif deskriptif dengan sifat independen, artinya fokus pada satu variabel utama: motivasi belanja hedonis, tanpa membandingkan dengan variabel lain.
Beberapa poin teknis penting:
Teknik sampling: non-probability purposive sampling
- Kriteria responden:
Usia 16–25 tahun
Sering belanja barang trendy baik di online-store maupun offline-store
Instrumen yang digunakan: Hedonic Shopping Motivations Scale (HSMS) dari Arnold & Reynolds (2003)
Jumlah aitem: 18 pernyataan, mewakili enam dimensi motivasi belanja hedonis
Setiap dimensi memiliki 3 aitem
Skala yang dipakai: Likert 1–7, dari “Sangat tidak setuju” hingga “Sangat setuju”
Responden berjumlah 43 orang, terdiri dari 34 perempuan dan 10 laki-laki, dengan rentang usia 19–25 tahun. Mayoritas responden adalah perempuan, tetapi variasi usia memberikan gambaran yang cukup luas mengenai motivasi belanja hedonis di kalangan anak muda.
Dimensi Mana yang Paling Menggoda Dompet?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua dimensi motivasi belanja hedonis punya kekuatan yang sama. Ada yang sangat dominan, ada pula yang justru lebih lemah.
1. Value Shopping – 84%
Ini adalah dimensi paling tinggi di antara semuanya.
Responden sangat termotivasi belanja ketika ada penawaran terbaik atau diskon
Ada sensasi “kemenangan” setiap kali berhasil dapat harga promo
Artinya, individu tidak hanya ikut tren, tapi sangat terdorong ketika merasa mendapatkan value lebih dari harga yang dibayar.
2. Gratification Shopping – 80%
Di urutan kedua, belanja muncul sebagai alat pengelola emosi.
Dipakai untuk mengatasi stres
Untuk memperbaiki suasana hati
Sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri
Belanja di sini berfungsi sebagai hadiah personal ketika penat menyerang.
3. Adventure Shopping – 74%
Angka ini menggambarkan bahwa responden cukup menikmati aktivitas eksplorasi ketika belanja.
Senang mencari dan menemukan barang yang unik
Tertarik pada produk yang sedang trendy
Proses jalan-jalan, scroll, dan eksplorasi produk itu sendiri sudah memberikan rasa senang.
4. Role Shopping – 73%
Dimensi ini menunjukkan bahwa sebagian responden menjadikan belanja sebagai bagian dari menjalankan peran tertentu.
Misalnya ketika memilih hadiah yang sempurna untuk orang terdekat
Merasa senang ketika melihat respon positif dari orang yang menerima
Ada kepuasan emosional saat berhasil memenuhi harapan sosial lewat pemberian barang.
5. Social Shopping – 73%
Angka yang sama dengan role shopping, tapi dengan fokus berbeda.
Belanja dinikmati karena aktivitas sosialnya
Senang belanja bareng teman atau keluarga
Suka menerima dan memberi rekomendasi
Menggunakan momen belanja sebagai sarana interaksi sosial
Di sini, kebersamaan lebih penting daripada barang itu sendiri.
6. Idea Shopping – 64%
Ini adalah dimensi dengan persentase terendah.
Menunjukkan bahwa motivasi belanja responden bukan terutama karena ingin mengikuti tren terbaru
Artinya, mereka mungkin lebih digerakkan oleh diskon, mood, dan pengalaman, daripada sekadar update model paling baru
Jadi, Barang Trendy Itu Soal Tren atau Soal Perasaan?
Hasil penelitian mengaitkan pembelian barang trendy dengan motivasi hedonis yang kuat.
Intinya:
Pembelian barang kekinian bukan sekadar urusan mengikuti tren
Value shopping adalah motivasi paling dominan dengan angka 84%
Individu sangat terpicu untuk belanja ketika ada penawaran terbaik dan potongan harga
Di samping keinginan untuk memiliki barang yang lagi hype, mereka juga merasakan:
Euforia kemenangan saat berhasil menemukan diskon
Kepuasan emosional ketika bisa mendapatkan produk trendy dengan harga lebih murah
Dengan kata lain, yang diburu bukan cuma barangnya, tapi juga sensasi menang, puas, dan senang saat belanja.
Refleksi: Nikmati Belanjanya, Sadari Motivasinya
Dari gambaran ini, belanja barang kekinian ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar “lihat, suka, beli”.
Ada beberapa poin yang layak direnungkan:
Motivasi hedonis itu wajar, selama masih terkontrol
Diskon dan promo memang menyenangkan, tapi perlu diwaspadai agar tidak menekan kondisi finansial
Mengenali apakah kamu lebih kuat di value, gratification, atau social shopping bisa membantu lebih sadar dalam mengambil keputusan belanja
Pada akhirnya, barang trendy boleh dikejar, tapi jangan sampai dompet dan mental yang jadi korban.
Belanja itu boleh banget jadi pengalaman yang menyenangkan – asalkan kamu tetap pegang kendali, bukan dikendalikan oleh rasa “kalap” setiap lihat promo dan tren baru.






