KuybeliKuybeli

“Tidak Siap Untuk Diam”: Gaya Kerja Dinas Pendidikan Kota Serang yang Selalu Turun ke Lapangan

“Tidak Siap Untuk Diam”: Gaya Kerja Dinas Pendidikan Kota Serang yang Selalu Turun ke Lapangan
Minat|Gaya Kerja

Semangat Kerja yang Menolak Diam

Pelayanan pendidikan, menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang Ahmad Nuri, tidak bisa dijalankan dengan hanya menunggu di belakang meja.

Ia menegaskan, pelayanan yang berkualitas menuntut langkah cepat dan kehadiran langsung di lapangan, sejalan dengan gaya kerja Walikota Serang yang hampir setiap hari turun menemui masyarakat.

Meniru Gaya Kerja Walikota: Turun, Lihat, Selesaikan

Ahmad Nuri memaknai arahan Walikota sebagai isyarat jelas bahwa pelayanan pendidikan harus turun ke bawah, hadir langsung di tengah satuan pendidikan dan masyarakat.

Ia menggambarkan bagaimana Walikota Serang bisa mengunjungi hingga tiga lokasi dalam satu hari. Dari situ, lahir satu kesadaran: dinas tidak boleh hanya diam menunggu laporan datang.

Menurutnya, jika pimpinan sudah memberi contoh gerak yang cepat dan konsisten, maka perangkat di bawahnya pun harus ikut bergerak, bukan sekadar mengamati.

Lahirnya Diksi “Tidak Siap Untuk Diam”

Semangat gerak itu kemudian dirumuskan dalam satu diksi yang kuat: “tidak siap untuk diam”.

Istilah tersebut, kata Ahmad Nuri, bukan sekadar slogan yang muncul tiba-tiba. Ia lahir dari proses refleksi panjang atas perjalanan tugasnya di birokrasi, mulai dari menjadi camat hingga kini menjabat kepala dinas.

Baginya, kalimat itu adalah rangkuman dari pengalaman di lapangan: ketika ada persoalan yang belum siap atau belum selesai, maka tugas mereka adalah menyelesaikannya, bukan menundanya.

Ia menegaskan, ini adalah ruh teknis kedinasan yang bertumpu pada pergerakan untuk melayani masyarakat, khususnya melalui sektor pendidikan.

Pelayanan Pendidikan Harus Hadir, Bukan Hanya Tercatat

Bagi Dindikbud Kota Serang, pelayanan pendidikan tidak cukup berhenti pada laporan administrasi.

  • Permasalahan di sekolah

  • Kebutuhan tenaga pendidik

  • Tantangan yang dihadapi peserta didik

Semua itu, menurut Ahmad Nuri, harus direspons dengan kehadiran nyata dan penyelesaian konkret, bukan hanya dikaji di balik meja.

Dengan kata lain, laporan hanyalah pintu masuk. Aksi di lapanganlah yang menentukan apakah pelayanan benar-benar dirasakan.

Fondasi Nilai: Gerak sebagai Pengabdian

Ahmad Nuri juga menyinggung landasan nilai keagamaan yang membentuk cara berpikirnya. Ia menekankan bahwa agama mengajarkan Harakah (gerak) sebagai bagian tak terpisahkan dari pengabdian.

Dari perpaduan antara kesadaran pribadi dan temuan objektif di lapangan, konsep “tidak siap untuk diam” memperoleh makna yang lebih luas: bukan hanya soal aktivitas fisik, tapi komitmen untuk terus memberi manfaat.

Ia menegaskan, ketika tubuh sehat, jiwa sehat, dan ruh sehat, maka manusia seharusnya siap bergerak. Selama yang dijalankan itu produktif, membawa kebaikan, dan memberikan pelayanan, maka berhenti diam bukanlah pilihan.

Harapan untuk Dunia Pendidikan Kota Serang

Di akhir pemikirannya, Ahmad Nuri berharap semangat “tidak siap untuk diam” bisa menjalar ke seluruh jajaran pendidikan di Kota Serang.

Ia ingin pola kerja ini menjadi pemantik agar:

  • Seluruh pemangku kepentingan pendidikan lebih adaptif terhadap perubahan

  • Pengambil kebijakan lebih sering hadir langsung di lapangan

  • Setiap kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan direspons dengan aksi nyata

Bagi Dindikbud Kota Serang, pendidikan bukan sekadar urusan kurikulum dan administrasi. Pendidikan adalah pelayanan langsung kepada manusia, dan itu menuntut gerak tanpa henti, respons cepat, dan keberanian untuk selalu hadir di titik persoalan, bukan di zona nyaman.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!