Jangan Mudah Panik: Gosip soal Tabir Surya Berbahaya
Selama bertahun-tahun, berbagai klaim soal “bahaya” tabir surya berseliweran di media sosial.
Belakangan, muncul lagi narasi bahwa memakai tabir surya justru berbahaya dan bisa menyebabkan kanker kulit.
Klaim ini terdengar mengkhawatirkan, tapi seberapa benarkah?
Untuk meluruskan informasi yang makin liar ini, seorang ahli dermatologi terkemuka, Elizabeth Buzney, MD, direktur klinis rawat jalan Departemen Dermatologi di Brigham and Women’s Hospital dan asisten profesor di Harvard Medical School, memberi penjelasan berdasarkan ilmu, bukan rumor.
Benarkah Tabir Surya Menyebabkan Kanker Kulit?
Pertanyaannya: bagaimana menjawab orang yang berhenti memakai tabir surya karena membaca di media sosial bahwa tabir surya bisa menyebabkan kanker kulit?
Jawaban inti dari dr. Buzney:
Serangkaian klaim belakangan ini tidak didasarkan pada riset atau data ilmiah baru.
Tidak ada bukti bahwa penggunaan tabir surya menyebabkan kanker kulit.
Yang sudah jelas dan terbukti justru sebaliknya:
Paparan sinar matahari menyebabkan kerusakan DNA pada sel-sel kulit.
Kerusakan ini bisa memicu mutasi yang berujung pada kanker kulit.
Paparan sinar matahari sejak usia muda meningkatkan risiko kanker kulit di kemudian hari, dan sangat terkait dengan melanoma.
Penyamakan kulit (tanning), bahkan tanpa terbakar, adalah tanda kerusakan akibat sinar UV dan ikut berkontribusi pada pembentukan kanker kulit.
Selain itu, penggunaan tanning bed juga diketahui secara jelas meningkatkan risiko kanker kulit secara signifikan.
Bukti Nyata: Tabir Surya Justru Melindungi
Penelitian tidak hanya menunjukkan bahaya sinar matahari, tapi juga manfaat perlindungan yang tepat.
Dua studi besar di Australia menemukan bahwa:
Insiden melanoma berkurang hingga 50% pada mereka yang menggunakan tabir surya secara teratur.
Karsinoma sel skuamosa berkurang hingga 40%.
Angka ini bukan kecil—itu efek perlindungan yang sangat besar.
Intinya, melindungi kulit dari sinar matahari sejak usia muda dan menjaganya secara konsisten sepanjang hidup adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah kanker kulit.
“Sudah Telanjur Kena Matahari, Masih Ada Gunanya Pakai?”
Banyak orang berpikir: “Saya sudah bertahun-tahun sering kepanasan dan kena matahari. Kalau sekarang rajin pakai tabir surya, masih ada gunanya?”
Jawabannya: masih sangat berguna.
Beberapa hal penting yang perlu dipahami:
Kanker kulit sering kali memiliki masa laten panjang.
Kerusakan yang terjadi bertahun-tahun atau puluhan tahun lalu bisa baru muncul sebagai kanker kulit jauh kemudian.
Karena itu, seseorang bisa saja didiagnosis kanker kulit saat ia sudah rajin memakai tabir surya, tapi hal itu bukan berarti tabir surya penyebabnya.
Sebagian tumor muncul dengan cepat, namun kebanyakan kanker kulit berkembang pelan dan lama.
Meski begitu, tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai melindungi kulit.
Perlindungan yang konsisten sejak sekarang akan membantu mencegah kerusakan tambahan dan menurunkan risiko masalah di masa depan.
Perlindungan Matahari Bukan Cuma Tabir Surya
Dr. Buzney menegaskan, ketika membahas perlindungan dari sinar matahari, tabir surya itu penting, tapi bukan satu-satunya.
Selama ribuan tahun, cara paling aman dan efektif yang digunakan manusia untuk melindungi diri dari matahari adalah:
Meminimalkan paparan langsung sinar matahari, terutama di jam-jam terik.
Menggunakan pakaian pelindung yang menutupi kulit.
Memakai topi bertepi lebar dan pelindung lain.
Setiap diskusi tentang perlindungan matahari idealnya dimulai dari langkah-langkah fisik ini, kemudian dilengkapi dengan tabir surya untuk area kulit yang tetap terpapar.
Takut Bahan Kimia di Tabir Surya?
Sebagian orang ragu memakai tabir surya karena takut dengan “bahan kimia” di dalamnya.
Menurut dr. Buzney, cara pandang ini sering kali kurang tepat.
Beberapa poin penting:
Pada dasarnya, semua benda di sekitar kita adalah bahan kimia.
Molekul itu sendiri adalah bentuk bahan kimia.
Bahkan tabir surya yang sering disebut sebagai tabir surya “fisik” dengan kandungan seng dan titanium pun tetap berupa bahan kimia.
Klasifikasi yang lebih akurat untuk bahan tabir surya adalah:
Organik (berbasis karbon), misalnya avobenzone atau bemotrizinol (BEMT), yang sudah lama digunakan di banyak negara dengan data keamanan yang baik, dan diperkirakan akan mendapat persetujuan FDA pada akhir 2025 atau awal 2026.
Anorganik, yaitu mineral seperti zinc oxide dan titanium dioxide.
Jadi, fokus seharusnya bukan sekadar pada kata “bahan kimia”, tapi pada jenis bahan, cara kerjanya, dan data keamanan ilmiahnya.
Butuh Motivasi Tambahan untuk Rajin Pakai Tabir Surya?
Masih merasa malas mengoles tabir surya setiap hari?
Inilah “pancingan” yang cukup kuat: banyak orang datang ke dokter kulit dengan pertanyaan seperti:
“Bagaimana cara mencegah penuaan kulit?”
“Apa yang paling efektif supaya kulit tetap tampak awet muda dan sehat?”
Mereka sering kali berharap jawaban berupa prosedur canggih atau produk antipenuaan yang mahal.
Jawaban dr. Buzney justru sangat sederhana dan tajam:
Bukan dimulai dari perawatan mahal.
Jika ingin kulit tampak muda dan segar sekarang, 10 tahun lagi, bahkan 20 tahun lagi, kuncinya adalah perlindungan dari matahari.
Aturan emasnya:
Temukan tabir surya yang formulanya cocok dan nyaman di kulit Anda.
Gunakan setiap hari, bersama dengan bentuk perlindungan matahari lainnya.
Hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk kulit Anda—baik untuk kesehatan maupun penampilan jangka panjang—adalah konsisten melindunginya dari sinar matahari.






