Jangan abaikan tanda awal
Gejala krisis moneter adalah tanda tekanan keuangan dan merosotnya kepercayaan pelaku usaha yang, bila dibiarkan, dapat meluas menjadi krisis ekonomi, sosial, keamanan, legitimasi, dan politik. Peringatan inilah yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal kepada pemerintah pada Minggu, 25 Oktober 2026. Ia meminta Presiden Prabowo Subianto tidak meremehkan persoalan keuangan maupun penurunan kepercayaan dari kalangan pengusaha di dalam dan luar negeri. Pelajaran dari 1998 seharusnya membuat pemerintah lebih peka, bukan lebih defensif. Dino mengingatkan bahwa pemerintahan Soeharto yang saat itu dinilai lebih kuat pun tumbang ketika krisis moneter berkembang menjadi krisis multidimensi. Peringatan itu bukan ramalan bahwa sejarah pasti berulang; ia adalah alasan untuk memperbaiki keadaan sebelum tekanan ekonomi merusak kepercayaan publik dan mempersempit pilihan kebijakan. Pemerintah juga perlu memastikan informasi tentang kondisi nyata di lapangan sampai kepada presiden secara utuh. Mengabaikan sinyal dari pengusaha besar hingga kecil berisiko membuat respons datang terlambat.

MSCI bukan lawan yang perlu diserang
Di tengah polemik penilaian terhadap MSCI Indonesia, Dino meminta pengerahan buzzer untuk menyerang Morgan Stanley Capital International dihentikan. Ia menilai serangan dan teori konspirasi tidak menyelesaikan persoalan pasar modal. MSCI merupakan organisasi nonpemerintah dan salah satu acuan utama investor global; karena itu, respons yang berguna adalah memahami tolok ukurnya, bukan mengubah kritik menjadi perkara gengsi atau nasionalisme. “MSCI bukan lawan yang harus kita tumbangkan, tapi wasit yang perlu kita dengar dan siasati, as long as we are in the game, playing the game,” ujar Dino. Perumpamaan itu tepat: penilaian eksternal mungkin tidak selalu menyenangkan, tetapi menyerang pihak yang memberi penilaian tidak memperbaiki pasar. Dino juga menegaskan bahwa serangan buzzer dari dalam negeri tidak akan memengaruhi lembaga yang tidak berkantor di Indonesia. Pemerintah sebaiknya mengalihkan energi dari pembelaan reaktif ke pembenahan yang dapat dilihat investor.
Transparansi menentukan kepercayaan
Bagi pasar modal Indonesia, persoalan utamanya bukan memenangkan perdebatan di media sosial, melainkan membangun transparansi dan akuntabilitas yang meyakinkan. Dino mendorong pemerintah membenahi masalah dari dalam untuk memulihkan kepercayaan investor global. Jika keyakinan terhadap pasar terus melemah, investor dapat keluar, menambah tekanan pada rupiah dan perekonomian nasional—dampak yang pada akhirnya melampaui lantai bursa. Pengalaman China memberi contoh bahwa penyesuaian pada standar bisa menjadi jalan maju: saham domestiknya ditolak selama tiga tahun berturut-turut sebelum negara itu berhasil masuk kategori pasar berkembang MSCI pada 2018. Contoh ini bukan jaminan bahwa hasil serupa otomatis tercapai, tetapi menunjukkan bahwa perbaikan lebih produktif daripada konfrontasi. Pemerintah perlu menjadikan polemik tersebut sebagai pemicu pemeriksaan atas mutu keterbukaan, tata kelola, dan akuntabilitas pasar. Kepercayaan tidak pulih lewat slogan; ia tumbuh ketika aturan jelas dan pelaksanaannya konsisten.
Waktu untuk bertindak masih ada
Dino menyarankan tindakan dini untuk menghentikan erosi kepercayaan dunia usaha dan menilai masih ada sekitar tiga tahun bagi pemerintah untuk memperbaiki situasi. Jangka waktu itu seharusnya diperlakukan sebagai kesempatan kerja, bukan alasan menunda. Ia juga mengusulkan satuan tugas khusus yang melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan agar pembenahan pasar modal memiliki koordinasi lintas lembaga. Kesimpulannya, peringatan berkaca pada 1998 patut dijawab dengan keterbukaan terhadap kondisi riil dan langkah konkret memulihkan kepercayaan. Menghentikan serangan buzzer, menelaah standar MSCI, dan memperkuat transparansi pasar lebih masuk akal daripada membungkam kritik. Pemerintah masih memiliki ruang untuk bertindak, tetapi ruang itu hanya berarti jika digunakan sekarang. Membiarkan gejala krisis moneter berkembang akan membuat biaya ekonomi dan sosial semakin luas; membenahi pasar sejak dini adalah pilihan yang lebih bertanggung jawab.






