Pertanian Serentak dan UMKM Ekspor: Strategi Ganda Asahan
Program pertanian Asahan yang memadukan penanaman padi serentak, peremajaan sawit rakyat, dan penguatan UMKM ekspor terasi adalah strategi pembangunan daerah yang menghubungkan ketahanan pangan lokal dengan peningkatan nilai tambah ekonomi melalui komoditas olahan, sehingga petani dan pelaku usaha kecil tidak hanya bergantung pada hasil panen primer tetapi juga pada produk turunan yang siap bersaing di pasar internasional. Di Asahan, Bupati Taufik Zainal Abidin memilih jalur yang cukup berani: tidak memisahkan agenda sawah, kebun, dan UMKM, melainkan menjadikannya satu paket kebijakan. Pendekatan ini patut dibaca sebagai upaya keluar dari pola pikir sektoral yang selama ini membuat petani kuat di hulu tetapi lemah di hilir. Ketika pangan diperkuat lewat penanaman padi sekaligus sawit diremajakan, dan di saat yang sama UMKM ekspor terasi disiapkan, Asahan sedang menegaskan bahwa ketahanan pangan lokal hanya berarti jika berpadu dengan kemandirian ekonomi masyarakat.
PSR dan Padi Gogo di Bandar Pasir Mandoge: Fondasi Ketahanan Pangan Lokal
Penanaman perdana Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) pola kemitraan yang digabung dengan intercropping padi gogo di Desa Gotting Sodadi, Bandar Pasir Mandoge, menjadi titik penting arah baru program pertanian Asahan. Bupati Asahan turun langsung menanam sawit dan padi, bukan sekadar menghadiri seremonial. Di bawah Koperasi Produsen Petani Kelapa Sawit Kesepakatan, 181 anggota petani dihimpun untuk meremajakan tanaman sawit yang sudah berumur empat dekade, sekaligus menyiapkan 86 hektare lahan untuk padi gogo dan 98 hektare bagi komoditas lain. "Program ini juga merupakan bagian dari program nasional yang sejalan dengan upaya pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani". Di sini terlihat jelas orientasi ganda: menjaga produktivitas sawit sebagai penopang pendapatan, sambil memperluas produksi padi sebagai penyangga ketahanan pangan lokal. Jika pendampingan teknis dari mitra seperti PTPN IV konsisten, PSR plus padi gogo bisa mengurangi risiko petani yang selama ini terlalu bergantung pada satu komoditas sawit.
| Komponen Program | Luas/Jumlah | Dampak Utama |
|---|---|---|
| Anggota koperasi peserta PSR | 181 orang | Penguatan kelembagaan petani |
| Lahan padi gogo | 86 hektare | Penambahan produksi padi lokal |
| Lahan komoditas lain | 98 hektare | Diversifikasi sumber pendapatan |

Pelajaran dari Kabupaten Siak: Menyatukan Gerakan Penanaman Serentak
Sementara Asahan mengembangkan PSR dan padi gogo, Kabupaten Siak mendapatkan program Gerakan Penanaman Serentak 70.000 hektare dari Kementerian Pertanian, yang pelaksanaannya dimulai di sawah Kelompok Tani Pelita Mulya, Kampung Tuah Indrapura, Bungaraya. Gerakan penanaman padi serentak ini bertujuan meningkatkan indeks pertanaman di lahan Optimalisasi Lahan (OPLAH) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR), sehingga produktivitas padi naik tanpa harus selalu membuka lahan baru. Kecamatan Bungaraya yang memegang sekitar 54 persen lahan padi di Siak dijadikan pusat lumbung pangan, dengan indeks pertanaman yang sudah berada di kisaran 300, tanda intensitas tanam yang tinggi. Dari Siak, Asahan sebetulnya mendapat cermin: penanaman padi serentak bukan sekadar agenda anggaran kementerian, tetapi bisa menjadi kerangka besar lumbung pangan regional. Dengan menjahit PSR dan padi gogo ke arah penanaman serentak seperti di Siak, Asahan berpeluang memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus terlibat dalam jaringan lumbung pangan yang saling menopang di tengah ancaman kekeringan, seperti yang juga dialami Siak akibat El Nino.
UMKM Ekspor Terasi: Hilirisasi Rasa Lokal Asahan
Langkah berikutnya yang menunjukkan keberanian politik ekonomi Asahan adalah dukungan penuh terhadap UMKM ekspor terasi. Bupati Asahan menerima kunjungan Kepala Stasiun Pengawasan dan Pengujian Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (PPMHKP) Tanjungbalai Asahan, Aan Fibro Widodo, yang datang dengan tujuan jelas: menyiapkan UMKM produsen terasi (belacan) khas Asahan untuk ekspor perdana ke Thailand pada Oktober mendatang. Rencana kolaborasi ini tidak berhenti pada pengiriman satu kali, tetapi disertai komitmen pembinaan mutu dan promosi agar belacan Asahan menjadi ikon produk unggulan daerah. Di sinilah program pertanian Asahan bertemu hilirnya: UMKM ekspor terasi memanfaatkan kekayaan bahan baku perikanan lokal, menambahkan nilai lewat pengolahan, dan kemudian menembus pasar luar. Langkah ini diharapkan meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Jika pengawasan mutu PPMHKP dijalankan serius, UMKM terasi bukan sekadar cerita sukses satu kelompok usaha, melainkan bagian dari desain kemandirian ekonomi yang berdiri sejajar dengan agenda ketahanan pangan lokal.
Sinergi Pertanian dan UMKM: Jalan Panjang Menuju Kemandirian Asahan
Melihat rangkaian kebijakan ini, jelas bahwa Asahan sedang mencoba menyatukan dua jalur: penguatan produksi pangan dan pengembangan UMKM ekspor terasi. Di hulu, PSR dan penanaman padi gogo yang menjadi bagian program nasional ketahanan pangan menunjukkan komitmen untuk menjaga pasokan padi dan meningkatkan kesejahteraan petani. Di luar wilayah, gerakan penanaman serentak seperti di Siak memperlihatkan bagaimana koordinasi nasional bisa mengangkat indeks pertanaman dan menjadikan kecamatan sebagai pusat lumbung pangan. Di hilir, kolaborasi dengan PPMHKP untuk mempersiapkan UMKM ekspor terasi menandai kesediaan Asahan tampil di kancah internasional dengan produk olahan lokal. Konklusinya, Asahan berada di jalur yang tepat: ketahanan pangan lokal tidak cukup hanya dengan menanam lebih banyak padi, melainkan harus dikaitkan dengan penguatan kelembagaan petani, diversifikasi komoditas, dan hilirisasi produk UMKM ke pasar ekspor. Konsistensi pelaksanaan, pendampingan teknis, dan keberanian menjaga mutu akan menentukan apakah strategi ganda ini menjadi lompatan kemandirian atau tinggal deretan seremoni penanaman dan pelepasan ekspor perdana.





