Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pertunjukan Fashion Performance Art ‘Rumah’ dan Warisan Seorang Perempuan Pemberdaya

Pertunjukan Fashion Performance Art ‘Rumah’ dan Warisan Seorang Perempuan Pemberdaya
Minat|Pertunjukan Busana

Rumah: Ketika Peringatan Seabad Menjadi Panggung Gagasan

Pertunjukan fashion performance art ‘Rumah’ adalah sebuah gelaran teater musik wastra yang menggabungkan mode nusantara, narasi biografis, dan aksi sosial untuk merayakan Rahmi Hatta centennial sebagai momentum refleksi atas warisan intelektual, kecintaan budaya, dan kepedulian kemanusiaan seorang perempuan pemberdaya. Dalam satu malam di Tenis Indoor Senayan, perayaan 100 tahun usia Siti Rahmiati Hatta diubah dari seremoni kenangan menjadi pernyataan sikap tentang apa makna rumah, keluarga, dan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat sekarang. Pilihan mengemas peringatan seabad lewat fashion performance art bukan sekadar keputusan estetik, melainkan keputusan politis: menempatkan perempuan, wastra tradisional, dan kisah hidup Rahmi Hatta di pusat panggung. Dengan sudut pandang ini, ‘Rumah’ terasa lebih seperti manifesto hidup daripada acara nostalgia. Rumah didefinisikan bukan sebagai bangunan, tetapi ruang tempat nilai, kasih sayang, karakter, dan keteladanan tumbuh serta diwariskan ke generasi berikutnya.

Teater Musik Wastra: Biografi yang Dijahit dengan Mode Nusantara

Di tangan sutradara teater senior Wawan Sofwan, ‘Rumah’ menjelma menjadi teater musik wastra yang ambisius: monolog, puisi, musik lintas generasi, tari, dan pertunjukan mode nusantara saling menyilang di satu panggung. Narasi perjalanan hidup Rahmi Hatta dari masa muda, perannya mendampingi Mohammad Hatta, hingga sosok ibu dan penggerak sosial dibawakan lewat monolog Maudy Koesnaedi dan pembacaan puisi Prilly Latuconsina, disanggah oleh energi musik Iwan Fals, Isyana Sarasvati, Vicky Mono, Aqi Singgih, dan Audrey. Di titik ini, busana berhenti menjadi dekorasi. Deretan wastra nusantara tampil bukan sekadar pertunjukan mode, tetapi arsip hidup kecintaan Rahmi Hatta terhadap kain tradisional dari berbagai daerah. Koleksi pribadinya yang kental nuansa budaya Nusantara dipamerkan anggun oleh Top 4 Puteri Indonesia dan Abang None Jakarta Barat, menjadikan setiap langkah di runway sebagai pernyataan bahwa identitas budaya layak berdiri sejajar dengan seni dan pemikiran. “Warisan Ibu bukan hanya sesuatu yang berbentuk benda atau peninggalan, tetapi lebih kepada contoh hidup,” ujar Ketua Pelaksana, Fajrin Saadi, menegaskan bahwa wastra di panggung itu adalah simbol cara Rahmi Hatta memandang dunia dan masyarakat.

Rumah sebagai Ruang Kemanusiaan: 40 Pasangan dan Akses Hukum

Keputusan Yayasan Meutia Hatta Swasono menjadikan puncak Rahmi Hatta centennial sebagai ajang nikah massal 40 pasangan adalah titik paling politis dari seluruh acara. Fashion performance art ‘Rumah’ dipadukan dengan prosesi “Ikatan Cinta” yang mengakhiri masa lajang 40 pasangan, sekaligus meresmikan mereka secara hukum dan agama di hadapan Wakil Menteri Agama, Muhammad Syafi’i. Di sini, rumah tidak berhenti di narasi panggung, tetapi diwujudkan dalam fondasi keluarga yang sah. Fajrin Saadi menegaskan komitmen yayasan untuk mempermudah akses legalitas pernikahan bagi warga yang terkendala sosial dan ekonomi, menjadikan seni sebagai pintu masuk ke tindakan nyata. Pernyataan Muhammad Syafi’i bahwa perkawinan adalah peristiwa sosial, keagamaan, sekaligus hukum yang memberi kepastian hak dan kewajiban suami, istri, dan anak, mengikat gagasan itu pada kerangka ketahanan keluarga. Fashion, musik, dan teater dalam ‘Rumah’ akhirnya menemukan relevansi karena bersentuhan langsung dengan persoalan dasar masyarakat: hak untuk membangun rumah yang sah dan terlindungi.

Warisan Seorang Pembaca Wastra: Pelajaran bagi Perempuan Masa Kini

Di balik gemerlap pertunjukan mode nusantara, sosok Rahmi Hatta muncul sebagai perempuan yang menggabungkan tiga hal: kecintaan pada ilmu, wastra, dan kemanusiaan. Meutia Farida Hatta mengenang ibunya sebagai pembaca tekun yang mengoleksi buku terbitan dalam dan luar negeri untuk mendidik diri sendiri, sekaligus pecinta kain tradisional yang setiap kali mendampingi Bung Hatta berdinas ke daerah, menyempatkan membeli kain setempat dan mengenakannya dengan bangga. Ini bukan hobi estetis, tetapi sikap politik yang melihat budaya sebagai bagian dari kewajiban moral. Peringatan seabad ini ditutup dengan harapan Meutia agar perempuan masa kini lebih percaya diri, menjadikan semangat Rahmi Hatta sebagai inspirasi pemberdayaan perempuan yang lebih maju. Pesan itu terasa konsisten dengan seluruh desain acara: perempuan bukan ditempatkan sebagai objek dalam pertunjukan, tetapi sebagai subjek gagasan, penggerak aksi sosial, dan penjaga nilai. ‘Rumah’ pada akhirnya menegaskan satu hal: warisan paling kuat bukanlah benda, melainkan cara hidup. Di Tenis Indoor Senayan, seni, mode, dan tindakan konkret bersatu untuk menunjukkan bahwa rumah yang sehat dibangun dari karakter, cinta budaya, dan keberpihakan pada sesama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!