Apa Itu Snapdragon C dan Mengapa Penting untuk Laptop Murah
Snapdragon C adalah chip ARM 8-core buatan Qualcomm yang dirancang khusus untuk laptop Windows kelas entry-level, dengan fokus pada kombinasi performa harian yang kencang dan efisiensi daya tinggi agar laptop murah tidak lagi identik dengan perangkat lemot dan boros baterai. Snapdragon C bukan sekadar tambahan satu nama lagi di daftar prosesor budget laptop; ini adalah upaya serius membawa pengalaman chip ARM Windows laptop ke kelas harga paling sensitif, yang sebelumnya dikuasai prosesor entry-level Intel. Strategi Snapdragon C cukup jelas: membawa pengalaman Windows berbasis Arm ke segmen laptop yang selama ini sangat sensitif terhadap harga. Jika Snapdragon X menyasar laptop dengan performa lebih tinggi, Snapdragon C mengambil posisi di bawahnya dengan prioritas harga, efisiensi, dan kebutuhan komputasi harian. Artinya, inilah senjata Qualcomm untuk membongkar stigma laptop murah 5 juta yang selama ini “asal nyala”.
Arsitektur ARM 8-Core: Keunggulan di Atas Intel Lawas
Kekuatan utama Snapdragon C ada pada CPU Kryo 8-core berbasis arsitektur ARM dan fabrikasi 6 nm, dengan kecepatan hingga 3 GHz untuk single-core. Di kelas prosesor budget laptop, konfigurasi ini langsung menantang dominasi chip Intel generasi sebelumnya seperti Intel N250. Qualcomm mengklaim, dalam pengujian menggunakan daya baterai, Snapdragon C mencatat performa single-core Geekbench hingga 44 persen lebih tinggi dan multi-core 24 persen lebih tinggi dibanding Intel N250. Pada Cinebench, selisihnya bahkan sampai 50 persen untuk single-threaded dan 67 persen untuk multi-threaded. Klaim ini memang datang dari vendor, tetapi trennya jelas: ARM di laptop murah bukan lagi sekadar hemat daya, melainkan mulai unggul performa melawan prosesor Intel yang selama ini menguasai segmen ini. Ditambah GPU Adreno hingga 900 MHz dan NPU Hexagon untuk tugas AI, Snapdragon C memposisikan laptop murah sebagai mesin kerja harian yang cukup lincah, bukan sekadar mesin ketik.
Baterai Seharian: Janji yang Menjawab Keluhan Pengguna Entry-Level
Keluhan klasik pemilik laptop murah 5 juta adalah baterai yang cepat habis ketika dipakai streaming atau rapat online. Di sinilah Snapdragon C mengubah permainan. Qualcomm menargetkan pelajar, keluarga, dan bisnis kecil yang aktivitasnya berkisar pada browsing, streaming video, pekerjaan produktivitas, dan panggilan video. Efisiensi daya jadi jualan utama: dalam pengujian internal, Snapdragon C disebut 106 persen lebih efisien saat menjalankan Netflix lewat Microsoft Edge, 68 persen saat browsing, dan 74 persen ketika digunakan untuk panggilan video Microsoft Teams. Qualcomm juga menyoroti efisiensi daya dalam aktivitas seperti Netflix, Microsoft Teams, dan YouTube, dengan angka 106 persen, 99 persen, dan 86 persen lebih efisien dibanding kompetitor. Klaim “all-day battery life” memang masih general, tetapi arah desainnya jelas: chip ARM Windows laptop ini ingin membuat skenario kerja dan kuliah seharian tanpa charger menjadi hal yang wajar di kelas entry-level.
Kompromi dan Batasan: Memori 32-bit dan Segmen yang Tepat
Meski ambisius, Snapdragon C tetap punya kompromi yang perlu disadari. Dukungan RAM memang sampai 16 GB dengan LPDDR4X, LPDDR5, dan LPDDR5X, tetapi antarmukanya 32-bit single-channel dengan bandwidth maksimum 25,6 GB/s. Artinya, untuk multitasking berat seperti puluhan tab browser plus aplikasi berat, jalur memori ini bisa menjadi bottleneck dibanding laptop kelas menengah ke atas. Dari sisi storage, dukungan NVMe melalui PCIe 3.0 x2 serta UFS 2.2 dan 3.1 sudah cukup modern untuk kelas entry-level. Ditambah Wi-Fi 6/6E dan USB hingga 3.1, tidak ada lagi alasan laptop murah harus ketinggalan konektivitas. Snapdragon C jelas bukan untuk kreator profesional atau gamer serius; ini prosesor budget laptop yang didesain realistis: cukup cepat, cukup hemat, dengan kompromi memori yang masih bisa diterima untuk target pengguna yang fokus pada produktivitas ringan dan konsumsi konten.
Persaingan Baru: Intel, AMD, Qualcomm dan Masa Depan Laptop Murah
Kedatangan Snapdragon C mengubah peta persaingan segmen entry-level menjadi tiga arah: Intel, AMD, dan kini Qualcomm. Chip berbasis arsitektur Arm ini secara khusus dirancang untuk mengotaki jajaran laptop murah yang selama ini didominasi prosesor entry-level Intel. Snapdragon C dijadwalkan hadir pada sejumlah laptop sepanjang 2026, dengan HP, Acer, ASUS, dan Lenovo sebagai mitra yang akan menghadirkan perangkat tersebut. Laptop Snapdragon C berpotensi hadir lebih banyak dalam ajang IFA atau CES mendatang. Strategi Snapdragon C cukup jelas: membawa pengalaman Windows berbasis Arm ke segmen laptop yang selama ini sangat sensitif terhadap harga. Jika Snapdragon X menyasar laptop dengan performa lebih tinggi, Snapdragon C mengambil posisi di bawahnya dengan prioritas harga, efisiensi, dan kebutuhan komputasi harian. Dalam bahasa sederhana: pengguna laptop murah 5 juta akhirnya punya alasan kuat untuk menuntut lebih—bukan hanya “yang penting bisa dipakai”, tetapi perangkat yang sanggup produktif seharian tanpa colokan dan tanpa tersiksa performa.






