Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga Dekade Mode Pria dan Lahirnya Buku Navigasi Gaya Kasual

Tiga Dekade Mode Pria dan Lahirnya Buku Navigasi Gaya Kasual
Minat|Busana Kasual

Navigasi Mode Pria: Ketika Kamus Menjadi Peta Identitas

Navigasi Mode Pria: Kamus, Istilah, dan Referensi adalah buku ketiga desainer dan akademisi Ichwan Thoha yang memakai format kamus alfabetis untuk membongkar sejarah mode pria, istilah teknis, fungsi pakaian, dan cerita di balik setiap elemen busana, sehingga pembaca dapat memahami gaya kasual pria sebagai bahasa visual yang membentuk identitas dan posisi sosial mereka secara sadar dan kritis.

Inti penting dari Navigasi Mode Pria bukan sekadar daftar istilah, melainkan ajakan untuk mengerti bahwa gaya bukan kumpulan potongan kain, tetapi narasi hidup yang dikenakan di tubuh. Peluncurannya di Kinokuniya Grand Indonesia, Jakarta, bertepatan dengan perayaan “30 Tahun Ichwan Thoha Berkarya”, menjadikan buku ini seperti ringkasan sikap kreatifnya terhadap sejarah mode pria dan identitas busana pria yang ia lihat sebagai proses panjang, bukan hasil instan. Keputusan merayakan tiga dekade berkarya lewat buku kamus mode jelas menunjukkan pandangannya: fashion pria pantas mendapat arsip intelektual yang rapi, agar pria berhenti berpakaian dengan autopilot dan mulai membaca makna di balik setiap pilihan gaya.

Sejarah Mode Pria: Dari Kemeja dan Jas Menjadi Cerita Sosial

Selama ini, fashion pria kerap disederhanakan menjadi kemeja, celana, jas, sepatu, dan beberapa aksesori. Ichwan Thoha membantah anggapan minimalis ini dengan menunjukkan bahwa di balik setiap item terdapat sejarah mode pria yang panjang: perubahan bentuk, fungsi sosial, dan cara masyarakat memaknainya dari masa ke masa. Jas, misalnya, bukan sekadar pakaian formal, tetapi hasil evolusi berpikir tentang status, kerja, hingga ritual sosial.

Karena itu, Navigasi Mode Pria memakai pendekatan kamus alfabetis agar pembaca dapat menelusuri istilah dan item fashion pria berdasarkan abjad, sembari diajak menyimak sejarah, argumentasi, dan storytelling yang melatarbelakangi tiap elemen mode. Pendekatan ini mengubah cara kita melihat gaya kasual pria: T-shirt, jeans, atau sneakers tidak lagi terasa “biasa”, melainkan hasil pertarungan ide, kelas, dan budaya. Menurut Ichwan, pemahaman terhadap fashion seharusnya tidak berhenti pada bagaimana sebuah pakaian dikenakan; setiap item memiliki perjalanan dan konteks yang membuatnya punya karakter sendiri.

Identitas Busana Pria: Gaya Kasual sebagai Komunikasi Tanpa Kata

Ichwan memosisikan pakaian sebagai media komunikasi tanpa kata bagi pria masa kini. Ia menekankan bahwa memahami fashion pria berarti memahami bagaimana seorang pria membangun identitas melalui apa yang dikenakannya. Gaya kasual pria—entah berupa jeans lusuh, kemeja linen santai, atau sneakers putih bersih—menjadi sinyal tentang karakter, profesi, selera, dan cara seseorang menempatkan diri di lingkungannya.

Di tengah tren yang berubah cepat, pengetahuan tentang istilah dan sejarah mode membuat kita melihat pakaian secara lebih kritis, bukan sekadar produk yang mengikuti arus. Navigasi Mode Pria mengajak pembaca untuk membaca ulang lemari pakaian: mengapa memilih siluet tertentu, kenapa menyukai warna netral, atau apa makna sentimental dari satu jaket favorit. Di sini, identitas busana pria tidak berhenti pada “pantas” dan “nyaman”, tetapi menjadi refleksi nilai dan pengalaman. Bagi pria yang peduli penampilan, buku ini dirancang sebagai panduan praktis untuk menghubungkan pengetahuan dengan gaya sehari-hari.

Dari Kelas ke Lemari: Warisan Pengetahuan Tiga Dekade Ichwan Thoha

Ichwan melihat pengetahuan sebagai bahan bakar utama bagi perkembangan industri dan pendidikan mode. Ia menyebut menulis dan menerbitkan buku sebagai salah satu mimpi dan cita-citanya sejak kecil, sekaligus ungkapan rasa syukur atas bakat, minat, keberuntungan, dan kesempatan yang diberikan Allah SWT. Di tangan seorang praktisi yang juga akademisi, buku navigasi mode ini menjadi jembatan antara ruang kelas dan lemari pakaian, bukan hanya katalog istilah.

Cakupan Navigasi Mode Pria melampaui target awalnya sebagai panduan bagi kaum pria yang peduli penampilan; karya ini relevan sebagai referensi kampus, kursus, sekolah mode, hingga praktisi seni. Pengetahuan yang dituangkan Ichwan menjadi legacy atau warisan bagi industri mode pada umumnya dan pendidikan mode pada khususnya. Peluncuran di Kinokuniya Grand Indonesia, yang juga menjadi panggung apresiasi terhadap berbagai pihak pendukung, menandai tonggak penting dalam kariernya: tiga dekade berkarya dirangkum bukan dalam retrospektif foto, tetapi dalam kamus pemikiran mode pria.

Kesimpulan: Belajar Sejarah untuk Memilih Gaya dengan Lebih Sadar

Di era ketika gaya kasual pria sering direduksi menjadi kombinasi “aman” dan seragam, Navigasi Mode Pria mengajukan tantangan: berani berpakaian dengan pengetahuan. Ichwan menilai bahwa pemahaman istilah dan sejarah mode membantu seseorang menentukan gaya personal secara lebih sadar, bukan sekadar meniru tren. Dengan mengenali lapisan cerita di balik pakaian, pria dapat memilih item yang selaras dengan nilai, konteks kerja, dan cara mereka ingin tampil di ruang sosial.

Pada akhirnya, buku ini menegaskan bahwa sejarah mode pria bukan arsip yang diam, tetapi sumber inspirasi untuk membentuk identitas busana pria hari ini. Setiap halaman kamus, setiap sketsa, adalah undangan untuk mengedit gaya hidup melalui pakaian yang dipilih secara kritis. Tiga dekade karya Ichwan Thoha dirangkum dalam satu pesan lugas: jangan biarkan pakaian bicara asal-asalan. Pelajari narasinya, lalu biarkan ia berkata sesuatu yang tepat tentang diri Anda.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!