Pembuka yang Lebih dari Sekadar Pemanasan
9 Dewa Gitar adalah pertunjukan kolaboratif yang menyatukan sembilan gitaris legendaris dalam satu penampilan spesial sebelum konser Guns N’ Roses di Jakarta. Bagi pencinta konser rock, susunan ini menjadikan pembuka acara sebagai salah satu alasan utama untuk datang lebih awal, bukan sekadar jeda sebelum band utama.
Konser Guns N’ Roses World Tour Jakarta 2026 dijadwalkan berlangsung pada 21 November di Indonesia Arena. Sebelum band rock asal Amerika Serikat itu naik panggung, penonton akan menyaksikan 9 Dewa Gitar, sebuah gagasan yang mempertemukan tokoh-tokoh dengan warna musik dan perjalanan karier berbeda. Pilihan ini terasa lebih menarik daripada menempatkan satu penampil pembuka biasa: panggung menjadi ruang pertemuan lintas generasi sekaligus penghormatan pada perjalanan musik rock Tanah Air.
Sembilan Nama, Satu Panggung
Formasi utama menghadirkan Rhoma Irama bersama Ian Antono, Eet Sjahranie, John Paul Ivan, Dewa Budjana, Totok Tewel, Edi Kemput, Pay Burman, dan Azis MS. Keragaman latar mereka adalah daya tarik utama: masing-masing membawa karakter permainan dan sejarah bermusik yang berbeda, sehingga kolaborasi ini berpotensi terasa lebih kaya daripada parade solo gitar.
Kehadiran Rhoma Irama menambah lapisan lintas genre pada pertemuan tersebut. Ia dikenal sebagai Raja Dangdut, tetapi juga pernah berkecimpung dalam musik rock pada awal kariernya. Karena itu, keterlibatannya bukan sekadar nama kejutan; ia memperluas gagasan tentang siapa yang layak berada dalam sebuah perayaan gitar dan rock. Sembilan gitaris legendaris ini juga berkarya pada masa kejayaan Guns N’ Roses pada era 1980-an dan 1990-an, membuat pertemuan mereka dengan penampilan utama terasa selaras secara generasi.
Aransemen Kolaboratif, Bukan Parade Nama
Dewa Budjana dipercaya menjadi pengarah musik 9 Dewa Gitar. Para gitaris direncanakan membawakan lagu dari perjalanan karier masing-masing, dengan sejumlah bagian dimainkan bersama. Keputusan untuk merangkai materi solo dan permainan kolektif memberi pertunjukan ini arah yang jelas: kekuatan utamanya bukan hanya sembilan nama besar, melainkan bagaimana karakter mereka dipertemukan dalam satu aransemen.
Panggung juga diperkuat Achmad Albar, Roy Jeconiah, dan Krisyanto sebagai vokalis, serta Rere Reza, Shadu Rasjidi, dan Rio Ricardo pada instrumen pengiring. Founder promotor, Anas Alimi, menjelaskan bahwa proyek ini lahir dari proses memilih dan mengkurasi musisi lokal untuk menjadi pembuka. Ia memberi ruang kepada para musisi untuk menentukan kombinasi lagu agar penampilan berkembang dari proses latihan mereka, bukan sekadar susunan nama di atas kertas.
Alasan Datang Sebelum Band Utama
Nilai paling kuat dari 9 Dewa Gitar adalah kesempatan menyaksikan pertemuan musisi lintas generasi dalam satu panggung sebelum Guns N’ Roses tampil. Bagi penonton, ini membuat jadwal konser pada 21 November di Indonesia Arena terasa seperti satu rangkaian pengalaman, bukan hanya penantian menuju set utama. Penampilan tersebut juga memberi sorotan pada warisan rock lokal tepat di hadapan penggemar band internasional.
Kesimpulannya, 9 Dewa Gitar berpotensi menjadi pembuka yang punya bobot musikal dan cerita sendiri. Perpaduan Rhoma Irama, para gitaris, vokalis, dan pemain pengiring menjanjikan lebih dari nostalgia: ini adalah pertemuan beragam suara yang layak mendapat perhatian penuh. Untuk pencinta konser rock, datang sejak awal menjadi pilihan yang masuk akal—sebab pertunjukan istimewa itu dimulai sebelum Guns N’ Roses mengambil alih panggung.






