BESTARI: Ketika Biopestisida Bertemu Kecerdasan Buatan
Inovasi STEM siswa adalah penerapan pengetahuan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika oleh pelajar untuk menciptakan solusi nyata atas masalah di lingkungan sekitar, mulai dari pertanian berkelanjutan hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari, yang lahir dari proyek sekolah dan kompetisi nasional sebagai laboratorium ide generasi muda. Di titik inilah karya tim SMAN Sumatera Selatan bernama BESTARI (Biopesticide Eco-Spray Technology with Artificial Intelligence) menjadi menarik: bukan sekadar proyek tugas, tetapi inovasi yang diakui di panggung kompetisi nasional pelajar melalui predikat Silver Winner dalam Astra Honda Motor Best Student (AHMBS) 2026.
BESTARI menggabungkan biopestisida ramah lingkungan dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menjawab persoalan klasik dunia pertanian: bagaimana melindungi tanaman tanpa merusak ekosistem dan kesehatan manusia. Di balik konsep itu, ada pesan penting bagi pendidikan menengah: siswa SMA mampu merancang solusi yang memadukan ilmu hayati, rekayasa alat semprot, dan algoritma cerdas. Tim yang diketuai Fajrin Al Majid ini, dengan bimbingan pihak industri, menunjukkan bahwa inovasi STEM siswa bukan lagi wacana, melainkan karya konkret yang siap diuji di kompetisi nasional pelajar.
Kompetisi Nasional Pelajar sebagai Laboratorium STEM dan Kepedulian Lingkungan
AHMBS sebagai kompetisi nasional pelajar jelas bukan sekadar ajang lomba karya tulis; ia berfungsi sebagai laboratorium sosial tempat gagasan STEM diuji terhadap masalah nyata. Kompetisi tahunan ini menjadi wadah bagi siswa SMA, SMK, dan MA sederajat untuk mengembangkan gagasan kreatif dan inovasi melalui karya tulis, dengan tema “Gen Z Berkarya, Indonesia Berdaya” yang mendorong generasi muda menghadirkan ide dan solusi bagi berbagai tantangan di masyarakat. Di dalam kerangka itu, BESTARI berdiri sebagai contoh bagaimana biopestisida ramah lingkungan dapat diposisikan sebagai teknologi masa depan, bukan sekadar alternatif murah bagi pestisida kimia.
Dampak praktisnya bagi masyarakat cukup jelas: inovasi seperti BESTARI berpotensi memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat dengan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya dan meningkatkan efisiensi penyemprotan melalui AI. Yang lebih penting, kompetisi nasional pelajar ini mengajarkan bahwa STEM di sekolah menengah tidak berhenti di rumus dan praktikum, tetapi harus menyentuh isu lingkungan, kesehatan, dan keberlanjutan. Ketika siswa dipaksa memikirkan aplikasi nyata, mereka belajar melihat ilmu sebagai alat problem-solving, bukan sekadar materi ujian.
AI dalam Pendidikan: Dari Teori ke Proyek Lapangan
Kehadiran AI dalam pendidikan sering dibicarakan dalam konteks aplikasi belajar atau chatbot, tetapi BESTARI menunjukkan arah yang lebih menarik: AI sebagai bagian integral dari solusi teknis yang dikembangkan siswa. Karya ini menggabungkan biopestisida ramah lingkungan dengan teknologi kecerdasan buatan, menjadikan AI bukan hanya alat bantu, tetapi otak yang mengatur cara penyemprotan dan pemantauan tanaman. Di sini, pelajar belajar memprogram, menganalisis data, dan memahami perilaku sistem cerdas, sekaligus memikirkan dampak ekologis dari setiap keputusan teknis.
Pendekatan seperti ini menggeser posisi AI dalam pendidikan menengah: dari materi tambahan menjadi komponen wajib dalam inovasi STEM siswa. Ketika siswa SMAN Sumatera Selatan mampu mengintegrasikan AI ke dalam biopestisida, mereka membuktikan bahwa pelajar tidak perlu menunggu kuliah untuk menyentuh teknologi tingkat lanjut. Ini juga menantang sekolah untuk menyediakan ruang proyek lintas disiplin, di mana pelajaran biologi, fisika, dan informatika bertemu dalam satu prototipe. Tanpa itu, AI akan tetap abstrak dan jauh dari realitas kehidupan sehari-hari siswa.
Prestasi Siswa SMA dan Harapan bagi Pendidikan Berbasis Solusi
Predikat Silver Winner yang diraih siswa SMAN Sumatera Selatan di tingkat nasional bukan hanya deretan kata di piagam; ia adalah bukti bahwa prestasi siswa SMA kini diukur dari kemampuan mereka menjawab persoalan nyata, bukan sekadar nilai rapor. Pencapaian ini menjadi bentuk kontribusi pelajar Sumatera Selatan dalam menghadirkan inovasi yang berpotensi memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Menurut Kepala Wilayah Astra Motor Sumsel, karya ini menunjukkan bahwa generasi muda Sumsel memiliki potensi menghadirkan inovasi yang relevan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Yang tidak boleh diabaikan adalah pesan lanjutan dari pihak pembina: prestasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi menjadi pemicu bagi pelajar untuk terus mengembangkan inovasi yang bisa diterapkan dan memberi manfaat lebih luas. Harapan ini sejalan dengan dorongan agar pelajar berani mengembangkan ide dan membawa nama daerah ke tingkat nasional. Jika sekolah menengah menangkap momentum ini, mereka bisa mengarahkan budaya belajar ke arah problem-solving dan kewirausahaan teknologi, menjadikan inovasi STEM siswa seperti BESTARI bukan pengecualian, melainkan standar baru.






