Kideco Run: Dari Ajang Lari Menjadi Motor Pergerakan Paser
Kideco Run adalah event lari tahunan berskala besar yang digelar PT Kideco Jaya Agung sejak 2024, menghadirkan ribuan pelari dari berbagai daerah untuk berkompetisi di Tanah Grogot sambil menggerakkan wisata, okupansi hotel, dan perputaran ekonomi UMKM lokal melalui sport tourism yang terorganisasi. Kideco Run 2026 kembali dihelat pada 6 September sebagai bagian perayaan hari jadi ke-44 perusahaan, menjadikan tahun ketiga penyelenggaraan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi pernyataan bahwa Paser layak berdiri di peta destinasi sport tourism Kalimantan. Dengan peserta lebih dari 4.500 orang dari berbagai wilayah, skala event lari Paser ini sudah melampaui ukuran lomba komunitas dan mulai menyentuh kategori atraksi wisata olahraga yang berpengaruh. Di saat banyak daerah masih mencari formula, Paser sudah punya jawaban konkret: jadikan pelari sebagai wisatawan baru yang menginap, makan, dan berbelanja, lalu pastikan manfaatnya kembali ke masyarakat.
4.500 Pelari: Wisatawan Dadakan yang Mengisi Hotel dan Warung
Angka 4.500 peserta di Kideco Run 2026 adalah titik balik: Paser belajar melihat pelari sebagai wisatawan dengan dompet dan waktu luang. Mereka datang dari berbagai daerah, start di depan Kantor Bupati Paser untuk kategori 10K pukul 06.00 Wita dan 5K lima belas menit kemudian, lalu menyebar ke penginapan, warung, dan lapak UMKM di Tanah Grogot. Direktur Utama M Kurnia Ariawan menegaskan secara lugas, “Banyak pelari yang datang ke Paser, tentu banyak juga yang menginap, banyak yang makan, otomatis ada dampak ekonominya untuk Kabupaten Paser.” Pernyataan ini bukan jargon, melainkan pengakuan bahwa event lari Paser sudah menjadi instrumen ekonomi lokal UMKM: hotel tidak kosong di akhir pekan, pedagang kuliner kebanjiran pelanggan, dan usaha kecil merasakan efek nyata dari sekali gelaran. Jika kuota terus bertambah, skala dampaknya akan ikut melonjak, selama pemerintah dan pelaku usaha siap menyambut.

Kabut Asap: Ujian Kesiapan Sport Tourism, Bukan Penghalang
Tidak semua kartu Paser bagus di meja; kabut asap akibat karhutla justru menyelimuti lintasan Kideco Run pada pagi pelaksanaan. Para pelari dipaksa mengatur ritme napas sambil berhadapan dengan jarak pandang yang menurun. Di banyak daerah, situasi seperti ini mudah menjadi alasan pembatalan atau sepi peserta. Namun di Tanah Grogot, semangat runners tidak surut; kabut asap menjadi tantangan, bukan penghalang. Antusiasme yang tetap tinggi menunjukkan satu hal: daya tarik Kideco Run 2026 cukup kuat untuk mengalahkan ketidaknyamanan cuaca. Kurnia bahkan mengapresiasi pelari yang tetap menuntaskan lomba hingga garis finis, dan memuji kerapian penyelenggaraan, mulai dari water station 5K yang berjumlah dua hingga detail medali. Dari sudut pandang sport tourism, ini adalah ujian dini: Paser harus menanggapi persoalan lingkungan dan kesehatan dengan serius, tetapi juga belajar bahwa event besar mesti siap menghadapi ketidakpastian.
Kolaborasi Perusahaan dan Pemerintah: Fondasi Sport Tourism Kalimantan
Kekuatan Kideco Run bukan hanya di angka peserta, tetapi di komposisi “pemain” yang terlibat. Di garis start, hadir langsung Bupati Paser dr Fahmi Fadli bersama jajaran forkopimda dan Wakil Gubernur yang ikut berlari memeriahkan event lari Paser. Di belakang layar, PT Kideco Jaya Agung tidak sekadar menempelkan logo, melainkan merancang acara sebagai bagian dari perayaan 44 tahun mereka beroperasi dan wujud terima kasih kepada masyarakat lokal. Tema “Berlari Untuk Lestari” yang diikuti pembagian bibit pohon kepada peserta dan Bupati memperlihatkan bahwa sport tourism Kalimantan tidak perlu mengorbankan isu lingkungan; ia bisa menjadi wadah edukasi penghijauan. Di titik ini, Kideco Run layak disebut embrio ekosistem olahraga-wisata Paser: perusahaan membawa dana dan manajemen, pemerintah menyediakan legitimasi dan infrastruktur, masyarakat menyediakan energi dan UMKM. Tinggal apakah sinergi ini dijaga berkelanjutan, atau berhenti di seremoni tahunan.

Menuju Paser Sebagai Destinasi Lari dan Ekonomi UMKM yang Hidup
Jika Paser serius menjadikan Kideco Run sebagai etalase sport tourism, targetnya tidak boleh sekadar “lebih besar dari tahun lalu”. Kurnia sudah menyebut harapan peserta tahun depan minimal sama atau lebih banyak, namun yang lebih penting adalah kualitas pengalaman pelari dan skala manfaat bagi ekonomi lokal UMKM. Hotel butuh standar pelayanan yang naik kelas, pedagang kuliner perlu memperkuat kebersihan dan citra, dan pemerintah wajib menyiapkan kebijakan yang melindungi lingkungan sekaligus mempermudah penyelenggaraan event. Gelaran ini sudah terbukti mampu menggerakkan penginapan, kuliner, dan perdagangan masyarakat. Tugas berikutnya: menjadikan momentum tahunan ini sebagai pintu bagi event lain, termasuk mendukung Paser sebagai tuan rumah ajang olahraga besar seperti Porprov yang didoakan sukses oleh Kideco. Kesimpulannya tegas: selama Kideco Run terus diorganisasi dengan niat membesarkan daerah, Paser punya peluang nyata naik kelas dari kota persinggahan menjadi destinasi lari yang dituju.






