Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pameran Fotografi Perdana Remaja 14 Tahun yang Mengguncang Komunitas

Pameran Fotografi Perdana Remaja 14 Tahun yang Mengguncang Komunitas
Minat|Gaya Fotografi

Pameran Fotografi Remaja yang Menantang Cara Kita Memandang Waktu

Pameran fotografi remaja bertajuk “Terjebak Dalam Waktu” adalah pameran foto perdana yang digelar oleh seorang fotografer muda berusia 14 tahun untuk mengajak penonton merenungkan dinamika kehidupan dan makna waktu melalui serangkaian karya visual yang memadukan gerak, emosi, dan momen-momen sosial di sekitarnya. Di Kumpeni Coffee & Art Space, Anggarakzza Rayyi Pagihari, siswa kelas VIII SMP Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, menggelar pameran fotografi tunggal pertamanya pada 26 September hingga 23 Oktober 2026. Fakta bahwa ini adalah pameran tunggal, bukan sekadar ikut lomba atau pengisi sudut ruang, membuat peristiwa ini penting: generasi muda seni fotografi tidak lagi menunggu “dewasa” untuk diakui, mereka mengambil panggung sendiri.

Pameran Fotografi Perdana Remaja 14 Tahun yang Mengguncang Komunitas

Dari Kelas IV SD ke Ruang Pamer: Konsistensi Lebih Penting dari Usia

Keberanian Rayyi tidak lahir tiba-tiba. Ia telah menekuni fotografi sejak duduk di kelas IV SD, artinya sebelum banyak teman sebayanya mengerti konsep dasar eksposur, ia sudah memikirkan bagaimana gerak dan cahaya bertemu di dalam satu bingkai. Pameran foto bertajuk “Terjebak Dalam Waktu” ini menampilkan enam serial karya yang merekam peristiwa sosial dan budaya berbeda-beda, dari aksi protes di jalanan hingga latihan kesenian di ruang bermain. Ini bukan portofolio tugas sekolah; ini pernyataan artistik seorang fotografer muda Yogyakarta yang menempatkan dirinya di tengah denyut kota. "Usianya baru 14 tahun, tetapi sudah memberanikan diri mengadakan pameran tunggal," tulis pembina SALAM, Sri Wahyaningsih, dalam apresiasinya terhadap langkah Rayyi.

Slow Shutter sebagai Bahasa Visual: Menangkap Dinamika Kehidupan

Rayyi memilih teknik slow shutter sebagai bahasa utama dalam pameran ini. Keputusan teknis ini bukan sekadar gaya; di tangan yang sensitif terhadap peristiwa, blur menjadi metafor waktu yang mengalir, sementara bagian yang tetap tajam adalah penanda bahwa ada detail-detail kehidupan yang layak diingat. Serial seperti “Ketika Dapur Turun ke Jalan” merekam aksi sosial komunitas ibu-ibu yang membenturkan alat dapur sebagai bentuk protes, sementara “Jathilan di Ruang Bermain” mengabadikan latihan anak-anak tanpa sekat ritual yang kaku. Jurnalis foto Aka Rahman menilai Rayyi mampu menangkap energi peristiwa melalui permainan garis buram dan bayangan, dari ayunan perkakas dapur, hentakan kaki penari Jathilan, hingga kepakan raket anak-anak yang berlatih bulutangkis. Di sini, teknik menjadi cara menjahit dinamika kehidupan ke dalam satu narasi visual.

Apresiasi Profesional dan Peran Komunitas dalam Mengasuh Talenta Muda

Yang membuat pameran fotografi remaja ini menonjol adalah respons komunitas profesional. Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta, Andreas Fitri Atmoko, menilai teknik slow shutter Rayyi mampu membangun cerita visual yang dramatis dan emosional. Pengakuan ini penting: karya seorang remaja ditempatkan dalam standar yang sama dengan fotografer dewasa. Kurator Aka Rahman menulis bahwa lewat sudut pandangnya, Rayyi menangkap kepulan emosi dan dinamika kehidupan secara jujur. Apresiasi seperti ini bukan pujian manis, melainkan validasi bahwa generasi muda seni fotografi layak mendapat ruang serius. Pendiri SALAM menegaskan pendidikan perlu memberikan ruang, waktu, dan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan minat serta potensi tanpa harus mengikuti pilihan yang seragam. Artinya, talenta fotografi tidak tumbuh sendirian; ia membutuhkan ekosistem yang percaya pada eksplorasi.

Implikasi: Saat Generasi Muda Mengambil Alih Narasi Visual

Pameran foto perdana Rayyi menunjukkan sebuah pergeseran: generasi muda tidak hanya menjadi objek foto, tetapi aktif mengarahkan bagaimana realitas diabadikan. Dengan enam serial yang merentang dari teater, pantomim, latihan jathilan, pertandingan bulu tangkis, hingga pentas ekspresi komunitas, Rayyi membuktikan bahwa mata seorang remaja mampu membaca isu sosial dan budaya dengan kepekaan yang tajam. Di tengah kecemasan banyak orang bahwa anak muda hanya tenggelam dalam gawai, ia menjadikan kamera sebagai medium refleksi waktu dan kehidupan. Pencapaian di usia 14 tahun ini menegaskan potensi besar generasi muda seni fotografi, selama mereka diberi kepercayaan dan akses ruang berkarya. Pertanyaannya bukan lagi apakah remaja mampu, tetapi apakah kita mau memberi mereka panggung dan mengakui mereka sebagai bagian sah dari percakapan fotografi hari ini.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!