Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Nagara Krtagama ke Jathilan: Strategi Baru ISI Menyatujan Sastra Klasik dan Musik Kontemporer

Dari Nagara Krtagama ke Jathilan: Strategi Baru ISI Menyatujan Sastra Klasik dan Musik Kontemporer
Minat|Maestro Klasik

ISI Yogyakarta dan Paradigma Pendidikan Musik Berbasis Budaya

Pendidikan musik berbasis budaya adalah pendekatan pengajaran yang menempatkan warisan seni lokal—sastra klasik, tetabuhan etnis, dan instrumen tradisi—sebagai pondasi penciptaan dan pembelajaran musik kontemporer, sehingga mahasiswa dan komunitas tidak hanya mempelajari teknik, tetapi juga memahami konteks sejarah, identitas, dan nilai yang membentuk bunyi yang mereka mainkan. ISI Yogyakarta seni tradisi tidak lagi diperlakukan sebagai ornamen romantik masa lalu, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang setara penting dengan teori musik Barat. Di kampus ini, komposisi musik Nusantara dibaca sebagai teks hidup: diteliti, diinterpretasi, lalu diuji lewat eksperimen artistik. Pilihan ini jelas politis—ISI Yogyakarta menolak menjadi hanya pabrik gelar, dan memilih menjadi simpul ekosistem kebudayaan yang menjembatani arsip, panggung, dan ruang kelas.

Transformasi Nagara Krtagama Menjadi Simfoni: Sastra Klasik di Panggung Orkestra

Sesi “Transforming the Nagara Krtagama into Symphonic Composition” bersama Singgih Sanjaya dan Kelas Orkestra II Program Studi Penyajian Musik digelar di Auditorium Musik ISI Yogyakarta pada Rabu, 23 September 2026, pukul 15.30 WIB. Di sini, Nagara Krtagama simfoni bukan sekadar gimmick akademik, melainkan eksperimen serius menjadikan teks sejarah sebagai bahan baku komposisi. Karya Indonesia Mulia Symphony dibangun dari riset panjang: disertasi “Transformasi Nagara Krtagama dalam Simfoni Indonesia Mulia” tahun 2019 yang kemudian diterbitkan sebagai buku. Simfoni ini dirancang untuk orkestra, paduan suara, dan instrumen gamelan, disusun dalam tiga bagian—Introduksi, Nagara Krtagama, dan Indonesia Mulia—yang diikat tema melodi dan harmoni. Kutipan pentingnya: “Dengan menjadikan warisan budaya Nusantara sebagai sumber penciptaan musik simfoni, tradisi dibaca ulang, bukan sekadar disimpan dalam rak perpustakaan.”

Dampak pendidikan musik berbasis budaya terasa jelas. Mahasiswa Kelas Orkestra II tidak hanya mempelajari partitur, mereka menyaksikan bagaimana riset lapangan—kunjungan ke situs sejarah, observasi komposisi lain, proses mendengarkan dan revisi—berujung pada karya yang harus mereka eksekusi di panggung. Komposisi musik Nusantara diolah dalam format simfoni, memaksa orkestra bernegosiasi dengan warna bunyi gamelan. Model ini mengkritik tradisi pembelajaran yang terlampau tekstual; di ISI Yogyakarta, teori, praktik, dan pengalaman artistik sengaja ditempatkan dalam satu ekosistem. Sesi ini terbuka untuk umum, mengundang masyarakat, mahasiswa, musisi, peneliti, dan pemerhati seni untuk hadir pada 23 September 2026 pukul 15.30 WIB. Pilihan membuka forum ini keluar kampus jelas adalah sikap: pengetahuan seni tidak boleh dipagari tembok institusi.

Inovasi Jathilan Turonggo Kos-Kosan: Tetabuhan Nusantara sebagai Laboratorium Pedagogi

Jika Nagara Krtagama simfoni memperlihatkan bagaimana teks klasik beralih ke orkestra, inovasi Jathilan Turonggo Kos-Kosan memperlihatkan bagaimana tetabuhan etnis menjadi mesin regenerasi tradisi. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026, tim ISI Yogyakarta mengimplementasikan inovasi Jathilan berbasis tetabuhan etnis Nusantara di Bakulan Wetan, Kalurahan Patalan, Jetis, Bantul. Program ini jelas menolak logika pelestarian pasif; Jathilan tidak diawetkan di etalase, melainkan diajak bernegosiasi dengan komposisi musik Nusantara yang baru. Kegiatan mencakup penyusunan komposisi Jathilan berbasis tetabuhan etnis, pelatihan dengan pendekatan ansambel, penciptaan Musik Pambuko Turonggo Kos-Kosan, hingga pendampingan tata teknik pentas. Tujuannya tegas: memperluas kemungkinan artistik tanpa menghapus karakter kesenian yang sudah hidup di masyarakat.

Dari sisi data, program ini berani mengukur dampak. “Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan sebesar 80 persen, peningkatan partisipasi remaja 50 persen, keberhasilan penciptaan komposisi Musik Pambuko 100 persen, serta tingkat kepuasan mitra 95 persen”. Angka-angka ini penting bukan hanya sebagai kebanggaan, tetapi sebagai bukti bahwa inovasi seni tradisional bisa berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas komunitas. Metode pembelajaran dikembangkan agar Jathilan semakin dekat dengan generasi muda melalui eksplorasi musikal yang kontekstual, tanpa memutus hubungan dengan nilai dan identitas budaya. Secara kualitatif, ruang latihan Jathilan beralih fungsi menjadi forum interaksi antargenerasi dan laboratorium pendidikan musik berbasis budaya yang lebih menarik, efektif, dan efisien.

Dari Kampus ke Komunitas: ISI Yogyakarta sebagai Pusat Ekosistem Seni Tradisi

Dua contoh di atas menegaskan satu hal: ISI Yogyakarta memposisikan diri bukan sekadar sebagai sekolah, melainkan pusat pengembangan seni yang mengintegrasikan pengetahuan tradisional dengan kebutuhan pendidikan kontemporer. Di satu sisi, kelas orkestra menjadi ruang pertemuan antara penelitian, sejarah, dan praktik penciptaan; mahasiswa belajar bahwa karya seni bisa sekaligus memiliki argumentasi, metodologi, dan kontribusi terhadap pengetahuan. Di sisi lain, program Jathilan Turonggo Kos-Kosan menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat dirangkai dalam satu model pengembangan seni. Kegiatan ini dengan tegas menjadikan tradisi Nusantara bukan sekadar objek pelestarian, tetapi sumber pengetahuan dan penciptaan yang terus dikembangkan melalui riset, pendidikan, inovasi, dan kolaborasi.

Pendekatan ini patut dibaca sebagai kritik terhadap cara banyak institusi memandang seni: sebagai produk estetis yang selesai di panggung. ISI Yogyakarta menunjukkan alternatif—karya adalah proses panjang yang melibatkan arsip, laboratorium kelas, dan praktik di komunitas. Pendidikan musik berbasis budaya di sini tidak anti-modern; teknologi, ansambel, musik kamar hingga live concert tetap dikembangkan, tetapi ditempelkan pada kerangka identitas yang jelas. Konsekuensinya, baik Nagara Krtagama simfoni maupun inovasi Jathilan bukan hanya eksperimen sesaat, melainkan bagian dari strategi jangka panjang: tradisi tetap berakar, inovasi terus bergerak. Di tengah arus global yang kerap menyingkirkan lokalitas, pilihan ini adalah pernyataan politik seni yang tajam: masa depan musik kontemporer tidak harus memutus masa lampau.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!