Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Model Ekonomi Desa Tiongkok dan Taruhan Baru Kawasan Transmigrasi

Model Ekonomi Desa Tiongkok dan Taruhan Baru Kawasan Transmigrasi
Minat|Asia Tenggara

Mengapa Pemerintah Mengintip Model Desa Zhenwugong

Model ekonomi desa yang dipelajari pemerintah dari Desa Zhenwugong di Tiongkok adalah pendekatan pengembangan lapangan kerja perdesaan yang mengintegrasikan pertanian, pariwisata, penataan lahan, dan pemberdayaan masyarakat, dengan tujuan menjadikan desa transmigrasi sebagai pusat ekonomi baru yang mampu menarik investasi kawasan perdesaan dan menahan arus urbanisasi generasi muda. Langkah ini bukan sekadar studi banding wisata birokrat, melainkan sinyal bahwa kebijakan transmigrasi sedang digeser dari pola lama: pindahkan penduduk, bangun permukiman, lalu berharap ekonomi mengikuti. Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara secara terang menolak logika desa sebagai pemasok tenaga kerja murah ke kota; ia ingin desa transmigrasi menjadi tempat kerja yang layak, bukan sekadar alamat di KTP. Ini adalah taruhan politik dan ekonomi: menjadikan desa sebagai titik tumbuh, bukan ekor dari industrialisasi perkotaan.

Pelajaran Kunci dari Zhenwugong: Ekonomi Desa Harus Terintegrasi

Kunjungan ke Desa Zhenwugong di Distrik Jiulongpo, Chongqing, dilakukan Iftitah pada pertengahan Oktober dan kemudian dipaparkan dalam keterangannya beberapa hari sesudahnya. Desa ini bukan lagi tipikal desa agraris yang hidup dari jual gabah; lahan pertanian tradisional dipecah fungsinya menjadi hortikultura, perkebunan, pariwisata, penginapan, fasilitas pertemuan, dan berbagai usaha jasa. Hasilnya, sumber pendapatan warga melebar dari produksi, pengolahan, perdagangan, hingga layanan wisata. Kutipan yang patut dicatat: desa tersebut menerima sekitar 300.000 kunjungan wisata per tahun dengan nilai produksi ekonomi tahunan yang tinggi, dan pendapatan bersih per kapita warga dilaporkan melampaui 30.000 per tahun. Di balik angka itu ada logika yang ingin ditiru: ekonomi desa transmigrasi harus dibangun sebagai ekosistem, bukan proyek sektor tunggal. Pertanian dikaitkan dengan industri pengolahan, logistik, perdagangan, dan pariwisata agar nilai tambah tinggal di desa, bukan menguap ke kota.

Model Ekonomi Desa Tiongkok dan Taruhan Baru Kawasan Transmigrasi

Menahan Urbanisasi: Desa Sebagai Magnet Bagi Generasi Muda

Inti kegelisahan pemerintah jelas: industrialisasi yang terkonsentrasi di kota menghisap anak muda keluar dari desa. Iftitah menyebut fenomena ini secara gamblang, lalu menawarkan jawaban yang cukup radikal: membawa industri ke desa, bukan terus-menerus mengirim pemuda ke kota. Jika lapangan kerja perdesaan tumbuh melalui investasi kawasan perdesaan, kegiatan usaha, dan pekerjaan yang beragam, maka desa transmigrasi punya peluang menjadi pusat ekonomi baru yang layak dipilih generasi muda sebagai tempat membangun masa depan. Di Zhenwugong, warga yang menyewakan lahannya tidak hanya mendapat uang sewa; mereka juga ikut bekerja di usaha yang berdiri di atas lahan itu, setelah dilatih dan diberi keahlian. Pola ini mengubah relasi warga dengan tanah: dari sekadar pemilik pasif menjadi pelaku ekonomi aktif. Jika diterapkan konsisten, desa transmigrasi bisa berhenti menjadi ruang transit dan berubah menjadi destinasi karier.

Syarat Berat Transformasi: Lahan, Keterampilan, dan Investasi

Ambisi menjadikan ekonomi desa transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan tidak akan tercapai hanya dengan retorika "potensi lokal". Iftitah sendiri mengakui, kawasan transmigrasi memang kaya peluang di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan pariwisata, tetapi pengembangannya menuntut infrastruktur memadai, kepastian hukum atas lahan, investasi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan akses pasar. Tanpa kepastian hak atas tanah, sulit mengundang investor; tanpa pelatihan, warga lokal hanya akan menonton industri yang datang tanpa bisa ikut terlibat. Karena itu ia menekankan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat agar transformasi ekonomi berjalan berkelanjutan. Di sini terlihat pergeseran penting: transmigrasi tidak lagi dipandang sebagai kebijakan pemindahan penduduk, melainkan proyek industrialisasi luar Jawa yang berbasis desa—meski label industrialisasi itu baru akan berarti jika rantai nilai benar-benar dibangun di lokasi, bukan sekadar memindahkan pabrik tanpa ekosistem pendukung.

Kesimpulan: Menjadikan Desa Transmigrasi Pusat Ekonomi, Bukan Sekadar Alamat

Pengalaman Chongqing menunjukkan satu hal yang tidak nyaman diakui: transformasi ekonomi desa membutuhkan waktu dan konsistensi kebijakan, bukan proyek instan menjelang pemilu. Pemerintah berharap pendekatan Zhenwugong bisa diadaptasi sesuai karakteristik daerah untuk mendorong produktivitas, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan warga transmigrasi. Namun keberhasilan akan ditentukan oleh seberapa serius negara memperlakukan desa transmigrasi sebagai pusat ekonomi baru, bukan pelengkap kota. Jika investasi kawasan perdesaan diarahkan ke ekosistem yang terencana, lapangan kerja perdesaan dibuka untuk generasi muda, dan warga dilibatkan sebagai mitra usaha, maka transmigrasi bisa keluar dari citra lama sebagai program pemindahan kemiskinan. Jika tidak, studi ke Zhenwugong hanya akan menjadi catatan perjalanan, bukan titik balik kebijakan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!