Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lima Rilisan Rock Lokal yang Menandai Babak Baru Skena

Lima Rilisan Rock Lokal yang Menandai Babak Baru Skena
Minat|Musik Rock

Kuartal Penuh Eksperimen: Rock Lokal Mengganti Gigi

Kompilasi single terbaru rock lokal yang dirilis kuartal ini memperlihatkan bagaimana band rock Indonesia baru menguji batas genre, dari indie rock berbalut pop kreatif hingga stoner metal Indonesia yang menggandeng inspirasi komik, sekaligus menggunakan format maxi single indie rock untuk merapikan visi artistik jangka panjang. Dalam rilisan-rilisan ini, tiap band tidak hanya menambah katalog, tetapi mendefinisikan ulang identitas: siapa mereka sekarang, dan suara seperti apa yang ingin mereka tawarkan ke pendengar yang kian cerdas memilah musik. Pilihan berkolaborasi lintas medium, meminjam figur pop, sampai menulis lagu dari pengalaman personal, menjadikan kuartal ini sebagai gambaran kecil betapa ekosistem rock lokal sedang jauh dari kata stagnan. Yang menarik, kelimanya tidak berlomba menjadi “paling keras” atau “paling underground”. Mereka memilih jalur berbeda: Tone Waves bereksperimen dengan memori dan aroma, graf menguji format maxi single sebagai jembatan ke album penuh, Temaram mengoplos fanboy Marvel dengan muramnya doom, sementara for Revenge dan Rumi membuka bab baru lewat kolaborasi dan rebranding. Jika Anda ingin tahu ke mana arah rock lokal bergerak beberapa waktu ke depan, lima rilisan ini adalah kompas yang layak diikuti.

Tone Waves dan Graf: Indie Rock Mengasah Cerita dan Format

Di kubu band rock Indonesia baru yang mengedepankan melodi dan narasi, Tone Waves dan graf menawarkan dua pendekatan yang kontras namun saling melengkapi. Tone Waves, unit asal Bandung berisi Aziz (keyboard), Jan (vokal), Rai (bass), dan Gian (drum), merilis single terbaru berjudul “Parfum” sebagai kelanjutan empat single independen dan satu EP berisi empat lagu yang mereka luncurkan lebih dulu. Lagu ini lahir dari pengalaman Gian bertemu mantan kekasih, lalu memadukan tema aroma dan kenangan menjadi komposisi pop-rock yang berusaha “mendeskripsikan wangi lewat lagu” melalui permainan instrumen dan tekstur suara. Kehadiran “Parfum” di program Music Live Chat Pro 2 FM menunjukkan ambisi Tone Waves untuk keluar dari sirkuit gig kecil dan menyasar pendengar yang lebih luas tanpa mengorbankan kedalaman tema. Sementara itu, graf memilih langkah lebih strategis dengan memanfaatkan format maxi single indie rock untuk dua lagu baru mereka, “Rahim” dan “Episode Akhir”, di bawah label demajors. Sebagai band indie/alternative rock yang terbentuk akhir 2022, mereka sadar bahwa album penuh bukan sekadar kumpulan lagu. Maxi single ini menjadi batu loncatan yang memaparkan dua sisi graf: “Rahim” dengan riff gitar berdistorsi dan vokal utama Alverdio Rollando yang membahas kemarahan terhadap sistem dan penyesalan eksistensial, lalu “Episode Akhir” yang lebih lapang, memotret manusia di antara putus asa dan harapan. Keduanya menandai tahap matang di mana graf tidak lagi sekadar menambah rilis, tetapi menguji daya tahan konsep sebelum album perdana mereka tiba.

Lima Rilisan Rock Lokal yang Menandai Babak Baru Skena

Temaram: Stoner/Doom Metal yang Jatuh Cinta pada Marvel

Di sisi berat dan gelap spektrum rock lokal, Temaram menunjukkan bahwa stoner metal Indonesia bisa akrab dengan budaya pop tanpa kehilangan intensitas. Trio berisi Yudha Nugraha (gitar), Nugraha Adam (drum), dan Iqbal Tawakkal (gitar) ini bersiap merilis single terbaru berjudul “Tiamut”, sebuah langkah lanjutan dari hampir satu dekade perjalanan menjelajah ide musik, wacana, dan visual. “Tiamut” tidak lahir dari mitologi tradisional, melainkan kecintaan mereka pada film dan komik Marvel; sosok celestial yang muncul dari planet yang rusak akibat perang dan industri menjadi titik berangkat tema lagu. Band ini menelanjangi tokoh tersebut, mengonversinya ke audio, dan menyelaraskan suara di tangan Bable Sagala dari Watchtower Studio. Yang menonjol, Temaram tidak puas berhenti di formula loud doom standar. Menurut Nugraha Adam, “Lagu ini menjadi sebuah perubahan konsep art dan musik Temaram itu sendiri. Masih dengan gaya loud instrumental doom tapi kami kembangkan dengan menambah gaya ke post-metal atau sejenisnya”. Dengan kata lain, mereka menggunakan figur Marvel bukan untuk gimmick, melainkan sebagai pintu masuk ke transformasi sonik yang lebih ambisius. Dalam konteks kuartal ini, “Tiamut” berdiri sebagai bukti bahwa bahkan subgenre sepekat stoner/doom pun bisa berkembang, selama band berani memadukan obsesinya di luar musik ke dalam proses kreatif.

Lima Rilisan Rock Lokal yang Menandai Babak Baru Skena

for Revenge, Reza Arap, Tepe: Kolaborasi Pop-Culture di Studio

Jika Temaram mengutip Marvel untuk memperluas spektrum stoner metal Indonesia, kubu lain skena rock memilih strategi berbeda: mengajak figur pop-culture lokal masuk ke studio. Band asal Bandung for Revenge mengunggah video di akun TikTok yang memperlihatkan Reza Arap dan Tepe berada di studio bersama mereka, dengan Reza sedang take vokal dan Tepe menabuh drum dalam sesi rekaman. Unggahan itu disertai tulisan “September 2026” serta mention ke kedua nama tersebut, cukup untuk memicu spekulasi penggemar bahwa sebuah proyek musik baru tengah disiapkan dan akan melibatkan mereka bertiga. Walau belum ada keterangan resmi, isyarat visual yang jelas membuat rumor kolaborasi terasa sangat masuk akal. Secara artistik, ini adalah langkah berani. for Revenge membuka ruang bagi sosok yang dikenal luas di ranah konten dan musik elektronik untuk ikut mengacak formula rock emosional mereka. Tepe yang sebelumnya sudah beberapa kali tampil membawakan lagu-lagu populer for Revenge di panggung, dari “Serana” hingga “Jakarta Hari Ini”, kini tampak masuk lebih dalam ke dapur kreatif. Bila kolaborasi ini terwujud dalam bentuk single terbaru rock lokal, hasilnya berpotensi mengaburkan batas antara band, kreator digital, dan figur publik lintas medium—sesuatu yang skena rock sering butuhkan untuk keluar dari gelembungnya sendiri.

Rumi: Pop Kreatif yang Lahir dari Rebranding dan Maxi Single

Di luar spektrum murni rock, hadir Rumi sebagai contoh bagaimana musisi yang lahir dari akar band rock Indonesia baru memilih berbelok ke pop kreatif tanpa kehilangan keberanian bereksperimen. Berawal dari kuartet Angkasara yang aktif sejak 2018, unit ini resmi memasuki babak baru sebagai trio pada Januari dengan formasi Agnesia Puji Karisma Putri (Agnes), Pramatatya Marta Mahendra (Tata), dan Mohamad Isra’ Ardiansyah (Bom Bom). Setelah sempat mengubah konsep musik Angkasara menjadi city pop, mereka memutuskan rebranding total—melahirkan nama Rumiko yang kemudian dikenal sebagai Rumi, sekaligus merombak arah musikal. Maxi Single “Rumi” yang dirilis 4 September menjadi rilisan resmi pertama, sekaligus kartu nama sonik mereka ke publik. Agnes menyebut musik Rumi sebagai pop kreatif, gabungan pop dengan city pop, R&B, soul, jazz, dan unsur lain yang dimasak sesuai karakter mereka saat ini. Lagu seperti “Irama Lantai Dansa” bahkan memasukkan sedikit irama salsa dengan lirik santai yang mengajak pendengar ikut berdansa. Secara proses, maxi single ini dikerjakan beriringan dengan produksi album perdana: dimulai workshop Januari yang menghasilkan sembilan lagu, diperas menjadi delapan materi untuk album, lalu melalui sesi rekaman di Paraduta Record dan tahap editing, mixing, mastering di RA2 Studio antara Februari hingga Agustus. Pilihan menggunakan maxi single sebagai pintu pembuka menunjukkan pemahaman mereka bahwa di era streaming, identitas lebih penting daripada sekadar jumlah track. Rumi tidak terburu-buru mengejar status, mereka sibuk mengokohkan warna.

Lima Rilisan Rock Lokal yang Menandai Babak Baru Skena

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!