MotoGP Mandalika sebagai Mesin Sport Tourism Ekonomi
MotoGP Mandalika adalah gelaran balap motor kelas dunia yang diselenggarakan di Mandalika International Circuit selama tiga hari dan dirancang bukan hanya sebagai tontonan olahraga, melainkan sebagai katalis sport tourism ekonomi yang menggerakkan pariwisata, perdagangan, akomodasi, transportasi, dan UMKM lokal melalui efek berganda kunjungan wisatawan dalam skala massif. Ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP™) kembali digelar pada 9–11 Oktober 2026 di Kawasan The Mandalika, Lombok Tengah. Fakta bahwa edisi sebelumnya mampu menarik 140.324 pengunjung menunjukkan bahwa ini bukan sekadar event hiburan; ini adalah mesin ekonomi yang sedang diuji keseriusannya. Dengan proyeksi Rp5 triliun perputaran uang di sekitar penyelenggaraan, MotoGP Mandalika memaksa kita melihat olahraga sebagai instrumen kebijakan ekonomi, bukan hanya agenda seremonial.
Daya Ungkit Rp5 Triliun: Dari Perhotelan ke UMKM
Proyeksi Rp5 triliun perputaran uang di sekitar MotoGP Mandalika adalah sinyal keras bahwa sport tourism ekonomi sudah layak diperlakukan sebagai sektor strategis, bukan pelengkap agenda pariwisata. Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan, “MotoGP Mandalika memiliki daya ungkit ekonomi yang besar. Potensi perputaran uang hingga sekitar Rp5 triliun menunjukkan bahwa sebuah ajang olahraga internasional dapat menciptakan efek berganda yang jauh melampaui arena balap.” Efek berganda tersebut terpampang jelas: perhotelan penuh, moda transportasi lokal sibuk, kuliner dan perdagangan ramai, ekonomi kreatif dan UMKM lokal ikut naik kelas. Gelaran sebelumnya sudah menggerakkan aktivitas perdagangan, akomodasi, transportasi, hingga usaha masyarakat. Tantangannya sekarang adalah memastikan uang yang berputar tidak berhenti di pemain besar, tetapi mengalir hingga ke pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Peran Strategis BRI: Dari Pembiayaan ke Ekosistem Terintegrasi
Dukungan BRI terhadap penyelenggaraan MotoGP™ Mandalika bukan sekadar sponsorship; ini adalah strategi membangun ekosistem terintegrasi yang menghubungkan olahraga, pariwisata, UMKM, dan keberlanjutan. Perusahaan ini menyatakan komitmen memacu pertumbuhan ekonomi kawasan berbasis pariwisata secara berkelanjutan, menjadikan sport tourism sebagai pilar pengembangan jangka panjang, bukan event musiman. Di level praktis, BRI menghadirkan layanan transaksi seperti BRImo, kartu debit dan kredit BRI, QRIS BRI, serta EDC untuk memudahkan pengunjung dan pelaku usaha bertransaksi. Langkah ini penting: ekonomi lokal yang mengandalkan kunjungan fisik harus masuk ke ekosistem transaksi digital agar perputaran uang tercatat, aman, dan bisa dianalisis untuk pengembangan kebijakan. Di sisi pembiayaan, keberpihakan kepada UMKM sekitar sirkuit menjadi penentu apakah efek MotoGP benar-benar menghadirkan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat, seperti yang diharapkan BRI.
Keberlanjutan Lingkungan: Ujian Kematangan Sport Tourism
Sport tourism yang modern tidak bisa hanya bicara tiket dan okupansi hotel; ia harus lulus ujian keberlanjutan. Di Mandalika, BRI mencoba mengisi celah ini lewat program Waste Management Warriors Mandalika yang berada di bawah payung Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli serta kampanye #YokKitaGAS. Inisiatif ini mencakup fasilitas pengelolaan sampah dan pemasangan Reverse Vending Machine (RVM) untuk mengumpulkan sampah yang dapat didaur ulang di area VIP Deluxe dan Festival. Ini langkah penting, karena event besar sering meninggalkan jejak sampah yang menggerus legitimasi pengembangan kawasan. Memosisikan pengelolaan limbah sebagai bagian dari pengalaman MotoGP berarti mengajarkan bahwa sport tourism ekonomi harus bertanggung jawab pada ruang hidup masyarakat sekitar. Namun, keberlanjutan lingkungan baru terasa kuat jika program seperti Waste Management Warriors tidak berhenti di tiga hari balapan, melainkan menjadi kebiasaan permanen kawasan.
Melampaui Tiga Hari: Menjadikan Mandalika Simbol Sport Tourism
Pertanyaan paling penting bukan seberapa besar keramaian selama 9–11 Oktober, melainkan apa yang tersisa setelah penonton pulang. Ajang ini sudah diproyeksikan sebagai pilar akselerasi pengembangan pariwisata berbasis sport tourism dan pemantik ekonomi lokal di perdagangan, akomodasi, transportasi, dan UMKM. Harapan BRI jelas: penyelenggaraan MotoGP dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat sekitar sekaligus membawa sport tourism Indonesia semakin dikenal di dunia. Artinya, Mandalika harus diposisikan sebagai destinasi olahraga yang hidup sepanjang tahun—dengan kalender event pendukung, penguatan kapasitas pelaku usaha, dan pembenahan layanan publik—bukan hanya sirkuit yang ramai sesekali. MotoGP Mandalika sudah memiliki modal: angka kunjungan ratusan ribu orang dan proyeksi Rp5 triliun perputaran uang. Jika modal ini diikat dengan kebijakan yang konsisten, Mandalika dapat menjadi contoh bagaimana sport tourism ekonomi mengubah wajah kawasan secara berkelanjutan, jauh melampaui tiga hari balapan.






