Hunian energi berbasis gas dan surya: definisi baru rumah masa depan
Hunian energi hijau adalah kawasan perumahan yang sejak awal dirancang dengan integrasi jaringan energi bersih seperti gas bumi, panel surya, konektivitas digital, dan sistem smart home berkelanjutan sehingga konsumsi energi rumah tangga menjadi lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan tanpa mengorbankan kenyamanan penghuni. Di Danantara Housing Expo 2026, konsep ini tidak lagi sebatas wacana. PT Perusahaan Gas Negara melalui anak usahanya, PT Permata Graha Nusantara, menghadirkan Indonesia First Energy-Based Housing Estate sebagai demonstrasi bahwa rumah bisa menjadi pusat ekosistem hunian cerdas, bukan sekadar bangunan untuk dihuni. Di tengah lebih dari 120.000 unit yang ditawarkan 130 pengembang, proyek ini sengaja tampil tidak sebagai yang termurah, melainkan sebagai perumahan berteknologi tinggi yang memadukan energi terbarukan, efisiensi energi rumah pintar, dan gaya hidup modern berbasis konektivitas.

Ekosistem hunian cerdas: gas bumi, surya, internet, dan smart home dalam satu paket
Kekuatan utama proyek ini bukan pada satu teknologi, melainkan pada cara seluruh komponennya disatukan menjadi ekosistem hunian cerdas. Setiap rumah terhubung ke jaringan gas bumi (jargas) PGN yang mengalir 24 jam dan diklaim mampu menghemat biaya energi sekitar 50 persen per bulan dibandingkan sumber energi konvensional."Jargas lebih ramah lingkungan dan praktis karena mengalir 24 jam. Dengan harga gas yang lebih kompetitif, penggunaan jargas berpotensi menghemat biaya energi sekitar 50 persen setiap bulannya," ujar Dian Kuncoro. Di sisi lain, panel surya 1.300 watt peak dipasang di setiap unit, memberi potensi penghematan listrik hingga 40 persen pada siang hari. Kombinasi ini membuat smart home berkelanjutan di Beranda Mas tidak berhenti pada aplikasi di gawai, tetapi menyatu dengan infrastruktur energi yang konkret dan terukur.
Perumahan berteknologi tinggi: dari fiber optik hingga kontrol rumah dari genggaman
Label perumahan berteknologi tinggi di sini bukan sekadar gimmick. Jaringan fiber optik milik grup PGN tersambung langsung ke setiap rumah, menyediakan koneksi internet hingga 100 Mbps menurut salah satu sumber dan hingga 10 Mbps menurut sumber lain, tergantung skema layanan yang digunakan. Di atas jaringan ini, fitur smart home dipasang sebagai standar: penghuni dapat menyalakan atau mematikan perangkat elektronik dari smartphone, memantau rumah melalui IP Live Camera, hingga mengatur pola konsumsi energi rumah pintar mereka dari jarak jauh. Dengan demikian, smart home berkelanjutan di proyek ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi layer kendali yang memanfaatkan data dan konektivitas untuk mengoptimalkan penggunaan gas bumi dan listrik surya. Inilah bentuk integrasi teknologi yang selama ini banyak dibicarakan, tetapi jarang diwujudkan secara utuh dalam proyek hunian.
Desain, kenyamanan, dan akses: menghubungkan gaya hidup hijau dengan keseharian
Efisiensi energi rumah pintar akan sulit diterima jika mengorbankan kenyamanan. Di sinilah peran desain Andra Matin, yang menerjemahkan konsep green living melalui permainan cahaya alami dan sirkulasi udara tanpa membuat rumah terasa kaku. Jarak antartembok dibuat berjarak untuk memberi ruang sinar matahari, mengalirkan udara, sekaligus menjadi pengaman pasif jika terjadi kebakaran. Lokasi Beranda Mas di kawasan terpadu dengan fasilitas pendidikan, olahraga, dan komersial membuat hunian energi hijau ini tetap relevan dengan ritme hidup urban. Mobilitas penghuni didukung akses TransJakarta, LRT, dan bus kawasan, serta kedekatan dengan gerbang tol yang memperluas jangkauan aktivitas sehari-hari. Hasilnya, ekosistem hunian cerdas tidak berdiri dalam ruang hampa; ia menyatu dengan kebutuhan sekolah anak, perjalanan kerja, hingga aktivitas rekreasi keluarga.
Model bisnis dan arah ke depan: dari pilot project ke standar baru hunian
Secara bisnis, proyek ini menunjukkan bahwa hunian energi hijau bisa dikemas dalam skema yang relatif terjangkau melalui kerjasama dengan bank-bank besar. Pada tahap pertama, 154 unit dibangun dengan 26 unit masih ready stock, mencakup tipe Tanagi, Anila, dan Adanu dengan rentang harga mulai Rp885 juta hingga Rp1,7 miliar, seluruhnya sudah berstatus HGB terpecah. Konsumen mendapat promo gratis iuran pemanfaatan gas bumi selama tiga tahun dan pilihan full atau semi-furnished. PGNMAS menyebut Beranda Mas sebagai pilot project layanan beyond gas yang mendukung Program Gasifikasi Nasional dan Sapta PGN, dengan rencana pengembangan tahap kedua di atas sisa lahan sekitar dua hektare. Pertanyaannya bukan lagi apakah pasar siap, melainkan kapan proyek serupa menjadi standar minimal perumahan baru. Jika BUMN energi konsisten mendorong ekosistem seperti ini, konsumen berhak menuntut setiap pengembang menghadirkan smart home berkelanjutan yang nyata, bukan sekadar label hijau di brosur pemasaran.






