Ketika Impian Spiritual Tidak Lagi Bisa Ditunda
Ziarah ke Yerusalem adalah perjalanan spiritual ke Tanah Suci yang dipandang sebagai puncak pengalaman iman, ketika seseorang mengunjungi tempat yang diyakini sebagai tanah kelahiran Tuhan Yesus Kristus, menapaki jejak sejarah religius, dan mengaitkannya dengan pergulatan batin, kehilangan, serta impian spiritual yang baru terwujud di usia lanjut setelah menunggu seumur hidup. Di usia 64 tahun, Rostimaline Munthe, atau Kak Ros, membuktikan bahwa ada mimpi yang tidak pernah kadaluarsa: hadir di Tanah Suci yang selama ini hanya ia genggam dalam doa dan kenangan. Perjalanan Holyland yang ia jalani bukan sekadar wisata religi emosional, tetapi sebuah pernyataan tegas bahwa jiwa berhak atas penantian yang panjang dan jawaban yang datang belakangan. Dalam dunia yang serba cepat, kisah Kak Ros mengingatkan bahwa ada impian yang memang tumbuh pelan, namun ketika tiba, mengubah cara kita memandang hidup.
Langkah Pertama di Yerusalem: Air Mata yang Tidak Perlu Disembunyikan
Saat akhirnya menginjakkan kaki di Yerusalem, Kak Ros tak kuasa menahan haru; air matanya pecah, seolah seluruh penantian dan kehilangan diberi ruang di antara batu-batu tua kota suci itu. Bersama sahabatnya, Sintua Elpi Tiopan Gultom yang berusia 65 tahun, ia menyusuri rangkaian perjalanan Holyland yang mengantar mereka ke berbagai tempat religius yang selama ini hanya mereka baca di Alkitab. Di tengah suasana itu, satu kalimatnya terasa seperti pengakuan kolektif banyak orang beriman: "Ini adalah impian setiap umat Kristiani. Bisa sampai ke tanah kelahiran Tuhan Yesus Kristus, sungguh sesuatu yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Saya sangat bersyukur." Tangisnya bukan kelemahan, melainkan reaksi wajar ketika realitas akhirnya menyusul doa yang telah bertahun-tahun menunggu jawaban.
Mengenang Arist Merdeka Sirait di Tanah Suci
Perjalanan ke Tanah Suci Yerusalem bagi Kak Ros tidak mungkin dipisahkan dari sosok mendiang suaminya, Arist Merdeka Sirait. Ziarah ke Yerusalem berlangsung setelah kepergian sang aktivis yang dikenal memperjuangkan hak buruh dan perlindungan anak; di setiap langkah, kenangan perjuangan mereka berdua ikut berjalan bersamanya. Di Tanah Suci, ia menyebut perjalanan ini sebagai kado terindah atas perjuangan yang pernah mereka jalani, sembari mengucapkan terima kasih kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui Program Ziarah Holyland Presisi yang diinisiasi Masyarakat Pecinta Polisi Indonesia atau Indonesian Police Fans Community sebagai wisata religi sekaligus misi kemanusiaan dan kepedulian sosial. Di tengah rasa haru, ia percaya suaminya melihat kebahagiaan ini dari Surga, seolah ziarahnya menjadi ruang baru untuk merayakan hidup bersama seseorang yang sudah tidak bisa lagi ia rangkul, tetapi tetap ia bawa dalam doa.
Perjalanan Holyland yang Menjahit Luka dan Syukur
Perjalanan Holyland Kak Ros dan Sintua Elpi tidak berhenti di Yerusalem saja; mereka menyusuri Mesir, Yordania, Yerusalem hingga kawasan Danau Galilea, menjadikannya rangkaian wisata religi emosional yang kaya akan kenangan dan simbol iman. Setiap lokasi yang mereka datangi bukan sekadar destinasi wisata, melainkan bab baru dalam buku hidup yang sudah diwarnai duka dan perjuangan. Di balik rasa lelah fisik di usia lanjut, ada semangat yang tampaknya justru menguat: kesediaan membiarkan diri disentuh oleh sejarah keselamatan yang selama ini mereka imani dari jauh. Pengalaman ini menjadi momen spiritual yang telah lama diimpikannya dan akan dikenang Kak Ros sepanjang hidup. Ziarah ke Yerusalem, dalam bentuk seperti ini, memperlihatkan bahwa perjalanan religius dapat menjadi cara yang lembut namun kuat untuk menjahit luka dengan benang syukur.
Mengapa Impian Ziarah Seumur Hidup Patut Diperjuangkan
Kisah Kak Ros menyampaikan pesan tegas: impian spiritual tidak harus selesai muda, tetapi ia layak diperjuangkan sampai napas dan langkah mengizinkan. Di usia 64 tahun, impian spiritual terwujud bukan sebagai pencapaian ego, melainkan sebagai peneguhan iman yang sudah ditempa oleh kehilangan dan pengabdian. Wisata religi emosional seperti ziarah ke Yerusalem memberi ruang bagi jiwa untuk memproses duka, berterima kasih, dan berdamai dengan masa lalu yang tidak selalu berjalan seperti rencana. Bagi banyak orang, mungkin Holyland tampak jauh dan sulit dijangkau; namun kisah ini mengingatkan bahwa yang paling penting adalah keberanian memelihara harapan. Ketika kesempatan datang, seperti Program Ziarah Holyland Presisi, mereka yang berani menjaga mimpi akan siap menerimanya sebagai anugerah. Pada akhirnya, impian spiritual bukan soal waktu kapan tercapai, melainkan sejauh apa ia mampu mengubah cara kita menatap hidup dan kematian.






