Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Mesin Pasar hingga Kampung Pilah, Sampah Ditangani dari Sumbernya

Dari Mesin Pasar hingga Kampung Pilah, Sampah Ditangani dari Sumbernya
Minat|Solusi Pintar

Mengurangi sampah harus dimulai sebelum ke TPA

Pengelolaan sampah dari sumbernya adalah upaya mengurangi timbunan dengan menangani bahan buangan sedekat mungkin dengan tempat sampah itu dihasilkan, melalui pengolahan teknologi maupun perubahan kebiasaan warga. Gagasan ini lebih menjanjikan daripada terus mengandalkan pengangkutan ke tempat pembuangan akhir, tetapi keberhasilannya bergantung pada kecocokan cara dengan jenis sampah dan rutinitas masyarakat. Di Solo, pemerintah kota menguji mesin pengolah sampah organik di Pasar Jongke; di Kabupaten Bangka, pemerintah menjadikan lingkungan HOS Cokroaminoto sebagai kampung percontohan sampah dengan pemilahan berbasis warga. Keduanya berangkat dari masalah serupa: volume sampah yang menumpuk atau langsung dikirim ke TPA. Namun, satu pendekatan mengandalkan alat untuk mengolah sisa organik, sementara yang lain meminta warga memilah, mengomposkan, dan mengelola sampah anorganik. Perbedaan itu bukan soal memilih teknologi atau partisipasi, melainkan memastikan keduanya bekerja sesuai kebutuhan setempat.

Solo menguji mesin untuk sampah organik pasar

Wali Kota Solo Respati Ardi meninjau uji coba mesin di Pasar Jongke pada 28 Oktober 2026. Pemkot belum memutuskan penerapan lebih luas dan masih mengkaji kinerja serta skema layanan sebelum menjadikannya solusi permanen. Sikap menunggu ini tepat: keberhasilan demonstrasi belum otomatis membuktikan mesin efisien untuk operasi harian atau sesuai dengan kebutuhan pasar. Alat tersebut dilaporkan mampu mengurai sampah organik pasar seperti sisa makanan, tulang, ceker ayam, dan potongan sayuran. Menurut data yang disampaikan Respati, sekitar 70 persen sampah di Solo merupakan sampah organik. Besarnya porsi itu membuat pengolahan di lokasi layak diuji, tetapi kadar air sampah turut memengaruhi kemampuan mesin. Kapasitas yang ditawarkan beragam, dari 100 kilogram sampai 200 ton per hari. Hasil olahan berpotensi digunakan sebagai bahan pakan ternak, pupuk, atau biomassa; nilai praktisnya akan bergantung pada mutu hasil dan kepastian pemanfaatan.

Dari Mesin Pasar hingga Kampung Pilah, Sampah Ditangani dari Sumbernya

Di Bangka, pemilahan menjadi kebiasaan bersama

Pada 4 November 2026, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka meluncurkan Kampung Pintar Pilah Sampah dan Gerakan Memilah Pintar dan Mengelola Sampah (GEMPITA MAS) di RT 004 Lingkungan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Sungailiat. Program ini menjawab kebiasaan sampah warga yang sebelumnya diangkut langsung ke TPA Kenanga dan Belinyu. Alih-alih mengandalkan satu mesin, pendekatan tersebut mengajak warga memilah sampah organik untuk dijadikan kompos dan mengubah sampah anorganik menjadi tabungan melalui bank sampah. Dukungan berupa bak dan gerobak pilah serta pembinaan bank sampah membantu menyediakan sarana, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada konsistensi rumah tangga. Kepala DLH Bangka Boy Yandra menargetkan pengurangan sampah yang masuk ke TPA sebesar 30 persen. Target itu memberi ukuran yang jelas bagi program, asalkan hasil pemilahan dicatat dan partisipasi warga terjaga.

Teknologi dan warga perlu saling melengkapi

Dua model ini menawarkan pembagian kerja yang berbeda. Mesin dapat mengolah sisa organik dalam volume besar di satu titik, tetapi membutuhkan evaluasi kapasitas, kondisi bahan masuk, dan kegunaan hasilnya. Pemilahan warga mencegah bahan yang masih bernilai tercampur sejak awal, sekaligus membuka peluang kompos dan tabungan bank sampah; tantangannya adalah menjaga kebiasaan itu di banyak rumah. Karena itu, ukuran sukses seharusnya bukan hanya jumlah sampah yang diproses atau kegiatan yang diluncurkan, melainkan berapa banyak yang benar-benar tertahan dari TPA dan dapat dimanfaatkan. Di Solo, hasil uji mesin di Pasar Jongke akan menjadi bahan evaluasi sebelum teknologi mungkin diduplikasi. Di Bangka, RT 004 Lingkungan Cokro direncanakan menjadi model yang dapat direplikasi ke 81 desa dan kelurahan. Pilah sampah warga dan teknologi paling berguna ketika bekerja berurutan: warga mengurangi campuran, lalu pengolahan menangani sisa yang sesuai.

Kesimpulannya, tidak ada satu alat atau kampanye yang dapat menggantikan seluruh sistem pengelolaan sampah. Uji mesin pengolah sampah di Solo patut dilanjutkan hanya jika manfaat dan layanan terbukti cocok dengan kebutuhan lapangan, sedangkan kampung percontohan sampah di Bangka perlu membuktikan bahwa pemilahan menjadi kebiasaan yang terukur. Memulai dari sumber berarti menahan sebanyak mungkin sampah sebelum menjadi beban TPA; teknologi dan keterlibatan warga sama-sama penting untuk mencapainya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!