Teknologi disabilitas yang bergerak dari akar masalah
Teknologi disabilitas berbasis wearable seperti kacamata pintar AR dan rompi AI tunanetra adalah perangkat yang dikenakan di tubuh untuk memberi bantuan personal, mulai dari membaca teks hingga mendeteksi rintangan, dengan memanfaatkan sensor, kamera, dan kecerdasan artifisial secara waktu nyata agar penyandang disabilitas dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih mandiri dan aman. Di balik istilah teknis itu, ada perubahan penting: bantuan tidak lagi terpusat di ruang terapi atau kelas khusus, tetapi menempel langsung pada tubuh pengguna. Dua contoh paling segar datang dari inovasi mahasiswa lokal. Kacamata LEXILIGHT dan rompi Netravest menunjukkan bahwa solusi aksesibilitas dapat lahir dari empati di lapangan, bukan sekadar dari laboratorium yang jauh dari realitas pengguna. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi bisa membantu, melainkan apakah kita mau merancangnya dengan sudut pandang disabilitas sebagai pusat.
LEXILIGHT: kacamata pintar AR yang menantang batas dukungan baca disleksia
LEXILIGHT adalah kacamata pintar AR yang dirancang lima mahasiswa Universitas Halu Oleo untuk anak dengan disleksia yang kesulitan membedakan huruf dan menjaga fokus saat membaca. Inovasi ini muncul setelah mereka terjun ke Taman Baca Masyarakat dan bertemu anak-anak yang berjuang mengikuti teks di halaman buku. Berbeda dari pendekatan konvensional yang bergantung pada sesi belajar terstruktur, LEXILIGHT menempatkan dukungan membaca di mana pun anak berada. Perangkat ini menggunakan kamera, OCR, dan AR untuk menangkap tulisan, mengubahnya menjadi teks digital, lalu menampilkan bentuk yang lebih mudah diikuti pengguna. Biaya pembuatan satu unit prototipe diperkirakan sekitar Rp4 juta, angka yang menunjukkan bahwa kacamata pintar AR untuk disleksia sedang bergerak dari ide konseptual menuju produk nyata.
Pilihan teknologinya juga tepat sasaran. OCR membantu "mengurai" huruf yang saling bertumpuk di mata penyandang disleksia, sedangkan AR memberi lapisan visual baru yang bisa mengarahkan fokus ke baris bacaan tertentu. Tim bahkan menambahkan fitur pemrosesan bahasa untuk membantu pemusatan perhatian, bukan sekadar menampilkan teks secara mentah. Sikap mereka jelas: disleksia bukan soal kurang pintar, tetapi soal cara otak memproses simbol. Dengan menyesuaikan cara teks ditampilkan, LEXILIGHT mencoba membalik narasi dari “anak yang sulit belajar” menjadi “sistem yang mau menyesuaikan diri”. Meski masih tahap pengembangan dan efektivitasnya belum bisa disimpulkan sepenuhnya, arah yang diambil patut diapresiasi: teknologi disabilitas tidak sekadar alat, melainkan medium untuk mengembalikan kepercayaan diri saat berhadapan dengan tulisan.
| Spesifikasi | LEXILIGHT | Catatan |
|---|---|---|
| Fokus utama | Dukungan baca anak disleksia | Mengurangi kesulitan membedakan huruf dan menjaga fokus |
| Teknologi inti | Kamera, OCR, Augmented Reality | Mengubah teks fisik ke digital dan menampilkan ulang |
| Perkiraan biaya prototipe | Rp4 juta per unit | Masih tahap pengembangan dan penelitian |
Netravest: rompi AI tunanetra sebagai asisten mobilitas cerdas
Sementara LEXILIGHT mengubah pengalaman membaca, rompi Netravest mengubah cara penyandang tunanetra bergerak di ruang publik. Tongkat putih selama ini menjadi alat bantu penting, tetapi hanya efektif untuk rintangan di jangkauan bawah—spanduk, papan reklame, dan objek tinggi lain sering luput dari deteksi. Lima mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia merespons persoalan ini dengan merancang rompi AI tunanetra yang berperan sebagai asisten mobilitas cerdas, bukan pengganti tongkat putih. "Tujuan kami bukan menggantikan tongkat, tetapi memberikan informasi tambahan kepada pengguna mengenai apa yang ada di sekitar mereka sehingga mobilitas dapat dilakukan dengan lebih aman dan mandiri". Di balik rompi ini terdapat sistem computer vision dengan algoritma YOLOv8n, kamera untuk mengenali objek, serta sensor LiDAR untuk mengukur jarak sebelum semua informasi digabung melalui sensor fusion.
Keunggulan Netravest terletak pada kecepatan dan cara sistem berkomunikasi dengan pengguna. Dalam pengujian, rompi memberikan peringatan saat objek berjarak sekitar 110–150 sentimeter, dengan pemrosesan fungsi sekitar 200 milidetik. Audio disalurkan lewat bone conduction sehingga telinga tetap bebas menangkap suara lingkungan, ditambah getaran sebagai sinyal tambahan. Rompi AI tunanetra ini bahkan memiliki fitur pengenalan nominal uang rupiah dan sistem SOS yang terhubung aplikasi pendamping serta bot Telegram untuk mengirim lokasi dan status perangkat dalam keadaan darurat. Meski bobot prototipe masih sekitar 2 kilogram dan ditargetkan turun menjadi sekitar 1 kilogram melalui miniaturisasi komponen, arah pengembangan yang sedang disiapkan—peningkatan algoritma AI, efisiensi daya, dan kenyamanan pakai—menunjukkan ambisi jelas: menjadikan Netravest teknologi asistif yang ringkas, tahan dipakai seharian, dan benar-benar menyatu dengan rutinitas pengguna.

Mengapa inovasi mahasiswa lokal penting bagi masa depan teknologi disabilitas
Baik LEXILIGHT maupun Netravest lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta, yang mendorong mahasiswa mengembangkan gagasan langsung dari persoalan yang mereka temui di masyarakat. Pola ini penting: teknologi disabilitas menjadi hasil dialog dengan pengguna, bukan sekadar proyek tugas akhir yang berakhir di laci. Tim LEXILIGHT berangkat dari pengalaman menemani anak-anak membaca di komunitas sosial; tim Netravest memulai dari diskusi dan wawancara dengan penyandang tunanetra untuk memahami tantangan mobilitas di lingkungan yang belum dikenal. Artinya, desain berpusat pada pengalaman nyata, bukan asumsi.
Pendekatan akar rumput ini juga menantang anggapan bahwa inovasi harus mahal dan kompleks. Netravest menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa lokal tidak harus dimulai dari teknologi yang rumit; ia bisa berangkat dari rintangan sederhana yang sering menabrak kepala pengguna tongkat putih dan kemudian diterjemahkan menjadi asisten mobilitas cerdas yang memberi peringatan sebelum benturan terjadi. Di sisi lain, LEXILIGHT menyoroti bahwa akses literasi untuk anak disleksia tidak boleh berhenti di ruang kelas—kacamata yang mereka kenakan setiap hari bisa menjadi portal ke dunia teks yang lebih ramah. Bila ekosistem pendanaan, industri, dan kebijakan mau mengikuti langkah berani mahasiswa ini, teknologi disabilitas dapat bergeser dari solusi sesekali menjadi bagian tetap dari kehidupan sehari-hari penyandang disabilitas.
Dari prototipe ke dampak nyata: pekerjaan rumah yang tidak boleh ditunda
Meski menjanjikan, baik kacamata pintar AR LEXILIGHT maupun rompi AI tunanetra Netravest masih berada di tahap prototipe dan penelitian, sehingga efektivitasnya belum dapat disimpulkan secara menyeluruh. Di titik ini, ada dua pilihan: membiarkan karya-karya itu berhenti sebagai poster kompetisi, atau mengawalinya menjadi produk siap pakai yang mempengaruhi hidup ribuan orang. Jalan kedua menuntut kerja lanjutan: uji coba dengan lebih banyak pengguna disleksia dan tunanetra, penyempurnaan algoritma, pengurangan berat perangkat, hingga penyesuaian harga agar terjangkau tanpa mengorbankan kualitas.
Tim Netravest sudah menyebut rencana peningkatan algoritma AI, miniaturisasi hardware, efisiensi daya, dan kenyamanan rompi sebagai fokus pengembangan ke depan. Tim LEXILIGHT pun masih menyempurnakan kacamata mereka sambil mengikuti linimasa PKM, dari logbook hingga presentasi daring dan penilaian laporan akhir. Namun pekerjaan besar berikutnya ada di luar kampus: menggandeng industri, komunitas disabilitas, dan pemangku kebijakan agar teknologi disabilitas semacam ini masuk ke skema dukungan resmi. Kesimpulannya tegas: kalau kita serius ingin akses literasi dan mobilitas yang inklusif, prototipe seperti LEXILIGHT dan Netravest tidak boleh berhenti sebagai berita hangat; mereka harus diberi jalan untuk menjadi standar baru dalam layanan disabilitas.






