Penembakan yang mengusik rasa aman
Penembakan ojol Sukabumi adalah dugaan serangan terhadap pengemudi ojek daring saat beristirahat di sela pekerjaan, yang kini diselidiki polisi dan memicu kecemasan pekerja malam. Seorang driver Maxim bernama Zhaldi, 25 tahun, diduga ditembak di Jalan Stasiun Timur, Kecamatan Cikole, pada dini hari Minggu, 25 Oktober 2026. Polisi menduga senapan angin digunakan; korban mengalami luka cukup parah di belakang leher dan dirawat intensif di RSUD R Syamsudin SH untuk persiapan penanganan proyektil. Serangan ini bukan sekadar perkara kriminal yang menimpa satu orang. Bagi pengemudi yang bekerja sendirian di jalan sepi, kekerasan semacam ini mengguncang keyakinan bahwa jeda menunggu pesanan pun aman. Karena itu, pengungkapan pelaku penting, tetapi rasa aman juga menuntut tindakan pencegahan yang tampak dan konsisten.
CCTV jadi petunjuk, identitas masih dicari
Keterangan awal menyebut Zhaldi baru selesai mengantar penumpang sebelum beristirahat di pelataran ruko seberang Toko Bangunan Roda Mas bersama dua rekan. Setelah kedua rekannya pergi menerima pesanan, ia melihat dua orang mencurigakan di bagian bawah toko, dekat sepeda motor bebek. Saat korban melihat telepon genggam, terdengar letusan; ia merasakan hantaman di leher belakang, pandangannya buram, lalu berlari meminta pertolongan. Polisi telah mengolah tempat kejadian, meminta keterangan saksi, mengecek kondisi korban, dan memeriksa rekaman CCTV. Rekaman tersebut mengarah pada dua orang yang identitasnya belum diketahui, dan polisi masih memburu mereka. Penyidikan harus menguji setiap petunjuk tanpa mendahului kesimpulan: jumlah orang yang terlihat belum menjelaskan motif ataupun memastikan siapa yang menembak. Kejelasan kronologi dan identifikasi yang akurat menjadi kunci agar kasus ini tidak berhenti pada dugaan.
Malam kerja yang tak bisa begitu saja ditinggalkan
Dampak penembakan ojol Sukabumi terasa jauh melampaui lokasi kejadian. Ugi, pengemudi Maxim, mengatakan rekan-rekannya yang biasa ngalong menjadi resah, terlebih lokasi itu dekat dengan titik kumpul mereka. Ilham, rekan korban yang membantu setelah kejadian, juga mengaku waswas, tetapi tetap harus menarik penumpang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Dilema ini menunjukkan bahwa imbauan agar pengemudi lebih berhati-hati tidak cukup: pekerja malam tidak selalu punya pilihan untuk berhenti. Mereka membutuhkan langkah keamanan yang nyata, bukan tanggung jawab yang dibebankan kepada masing-masing pengemudi. Permintaan untuk meningkatkan patroli malam ojol di titik rawan, terutama koridor pusat kota menjelang subuh, patut ditanggapi serius. Patroli yang terlihat dan teratur dapat membantu mencegah kejahatan sekaligus memberi pengemudi alasan untuk merasa bahwa ruang publik tidak dibiarkan tanpa pengawasan.
Pengusutan harus diikuti pencegahan
Langkah polisi memeriksa CCTV dan saksi merupakan awal yang penting, tetapi hasilnya perlu berujung pada pengungkapan serta perlindungan yang dirasakan warga. Polisi menyatakan penyelidikan masih berjalan untuk mengungkap pelaku dan memastikan kronologi kejadian. Sementara itu, patroli di titik rawan perlu ditingkatkan pada jam-jam sepi, dengan perhatian pada lokasi tempat pengemudi biasa menunggu pesanan dan berkumpul. Komunitas ojol juga layak mendapat saluran komunikasi yang jelas untuk melaporkan situasi mencurigakan tanpa menambah risiko bagi diri sendiri. Prioritas pertama tetap perawatan korban dan penanganan perkara secara cermat; setelah itu, aparat perlu menyampaikan perkembangan secara bertanggung jawab agar kabar simpang siur tidak memperbesar ketakutan. Kasus driver ojol ditembak ini menjadi pengingat bahwa keselamatan kerja di jalan harus dianggap kebutuhan dasar, bukan keberuntungan. Penangkapan terduga pelaku dan patroli yang konsisten perlu berjalan beriringan agar pengemudi dapat bekerja malam tanpa dihantui ancaman serupa.






