Tradisi yang Menjawab Tantangan Digital
Musik tradisional remaja adalah penggunaan warisan bunyi dan lagu lokal oleh anak muda untuk menyampaikan gagasan yang dekat dengan kehidupan mereka, termasuk pesan sosial dan etika digital. Muhammad Oziel Galang Saputra menunjukkan kekuatan pendekatan itu di Grand Final Festival Dai Cilik 2026 tingkat SMP/MTs di Atrium Plaza Madiun pada Sabtu, 24 Oktober. Mewakili SMPN 1 Kauman Ponorogo, ia memainkan gamelan untuk mengiringi tembang Jawa tentang pentingnya menjaga perkataan. Perpaduan gamelan dan tembang Jawa tersebut bukan sekadar hiasan panggung: tradisi menjadi cara yang akrab untuk menyampaikan gagasan tabayyun, yakni memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan informasi. Oziel mengingatkan, “Jangan hanya mengejar viral, tetapi justru abai terhadap kebenarannya,”. Pesan ini terasa tepat ketika popularitas di media sosial sering menjadi tujuan, sementara ketelitian mudah dikorbankan. Penampilannya memberi contoh bahwa konten bermakna dapat memikat tanpa ikut mengejar tren viral yang asal-asalan.
Drama Musikal Mengangkat Karhutla
Jika Oziel merangkai pesan melalui musik, siswa SMP Islamic Qon Gresik memilih cerita panggung. Mereka meraih Juara 1 Santri Got’s Talent di Gedung WEP pada Minggu, 25 Oktober 2026, lewat drama musikal isu sosial tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pertunjukan itu memadukan seni peran, lantunan ayat suci Al-Qur’an, bela diri Pagar Nusa, musik banjari, dan tari. Keragaman unsur tersebut menunjukkan bahwa pesan lingkungan tidak harus disampaikan lewat ceramah semata; cerita dan kerja sama antarpemain dapat membuat persoalan terasa dekat bagi penonton. Para siswa tidak hanya memamerkan kemampuan seni, tetapi juga menyuarakan kepedulian terhadap kelestarian alam. Pilihan tema ini penting karena kebakaran hutan dan lahan bukan isu abstrak yang layak berhenti sebagai latar pertunjukan. Ketika dikemas dengan disiplin artistik, panggung menjadi ruang belajar sekaligus ajakan untuk peduli.

Panggung Kompetisi sebagai Ruang Aktivisme
Dua penampilan ini memperlihatkan alasan kompetisi seni remaja patut dipandang lebih dari sekadar ajang mencari pemenang. Festival memberi ruang bagi peserta untuk menggabungkan warisan budaya lokal dengan kesadaran sosial dan lingkungan: Oziel membawa gamelan serta tembang Jawa, sementara siswa Islamic Qon merangkai beragam bakat dalam satu pertunjukan. Inilah seni pertunjukan aktivisme dalam bentuk yang sesuai usia dan konteks mereka—bukan slogan yang ditempelkan setelah karya selesai, melainkan pesan yang menjadi bagian dari musik dan cerita. Dampaknya juga praktis bagi penonton: ajakan memeriksa informasi sebelum membagikannya dan menjaga kelestarian alam dapat dibawa pulang dari sebuah pertunjukan. Sekolah dan penyelenggara sebaiknya memberi bobot pada gagasan serta penggarapan, bukan hanya kemeriahan panggung. Ketika remaja memilih karya yang relevan daripada viralitas kosong, tradisi tetap hidup dan isu penting mendapat pendengar. Itulah ukuran keberhasilan yang lebih berarti daripada tepuk tangan sesaat.






