Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ketika Lagu Pop Dipakai Tanpa Izin: Cara Artis Melindungi Karya

Ketika Lagu Pop Dipakai Tanpa Izin: Cara Artis Melindungi Karya
Minat|Penyanyi/Band Pop

Penggunaan Lagu Tanpa Izin Bukan Sekadar Masalah Teknis

Penggunaan lagu tanpa izin adalah praktik ketika musik dipakai sebagai latar atau bahan promosi tanpa persetujuan eksplisit pemiliknya, yang bukan hanya persoalan teknis hak cipta musik pop, tetapi juga menyangkut hak artis mengendalikan konteks, pesan, dan nilai yang diasosiasikan dengan karya mereka di ruang publik dan platform digital yang semakin dominan dalam industri musik modern. Dalam kasus terbaru Ariana Grande, ketegangan ini tampak jelas ketika akun TikTok Team Trump mengunggah video Donald Trump berjalan menuju podium, memakai lagu hit Grande 2024, "We Can't Be Friends (Wait for Your Love)", sebagai musik latar pada Kamis (20/8). Momentum politik yang tajam, dicampur dengan musik pop yang sedang berada di puncak popularitas, menjadikan konflik perizinan ini jauh lebih sarat makna daripada sekadar sengketa teknis di belakang layar.

Respons Keras Ariana Grande: Menolak Dikaitkan dengan Narasi Politik

Kemarahan Ariana Grande bukan muncul dalam ruang hampa. Video Team Trump tidak hanya memakai lagunya, tetapi juga menyematkan tulisan bernada politik tentang isu gender dan olahraga perempuan, lalu diberi keterangan bahwa opini tersebut "seharusnya tidak kontroversial". Dengan konteks seketat itu, Grande langsung menegur: "Jangan pernah gunakan musik saya lagi. Selain itu, kebenaran versi Anda adalah salah". Ini adalah pernyataan sikap yang tegas: ia menolak lagu-lagunya dipakai untuk menguatkan narasi yang bertentangan dengan nilai yang ia dukung, termasuk hak LGBTQ+ dan kebijakan imigrasi yang manusiawi. Menariknya, label yang menaungi Grande segera bergerak untuk mengupayakan penghapusan lagu dari unggahan tersebut, dan suara video itu kemudian kena mute dengan keterangan bahwa pemilik hak cipta tidak menyediakan suara di wilayah tertentu.

Pola Berulang: Dari ICE sampai Team Trump

Insiden ini bukan kasus tunggal. Dalam dua bulan terakhir, Ariana Grande berkali-kali memprotes penggunaan lagunya oleh pemerintahan Trump tanpa persetujuan. Pada Juni, Gedung Putih memakai lagu "Bye" rilisan 2024 sebagai latar video operasi penangkapan oleh agen Immigration and Customs Enforcement (ICE), menampilkan orang-orang diborgol dan ditangkap. Grande merespons dengan kalimat yang tajam: "Tolong jangan pernah menggunakan musik saya untuk hal barbar, tidak manusiawi, dan keji seperti ini. F*** ICE". Komentar itu kemudian dihapus, tetapi pernyataan sikapnya sudah telanjur menjadi bagian dari jejak digital dan politiknya. Di ajang Golden Globes, ia mengenakan pin "ICE Out" sebagai simbol penolakannya terhadap kebijakan tersebut. Pola yang muncul jelas: setiap kali musiknya dipakai untuk memutihkan kebijakan yang ia anggap kejam, Grande menjadikan protes publik sebagai alat koreksi moral.

Hak Kontrol Artis dan Identitas di Era Lisensi Musik Digital

Konflik antara Ariana Grande dan Team Trump menggambarkan betapa rumitnya lisensi musik digital ketika lagu pop diubah menjadi alat propaganda. Secara komersial, lisensi reguler sering kali mengatur kapan dan bagaimana sebuah track boleh dipakai, tetapi artis pop seperti Grande menunjukkan bahwa ada lapisan lain: hak kontrol atas konteks dan identitas yang melekat pada karya. Ketika album studio ketujuhnya, "Petal", debut di posisi pertama tangga album Billboard 200 dengan 295.000 unit album ekuivalen, jelas bahwa ia bukan sekadar pemilik lagu, melainkan ikon budaya dengan basis penggemar besar. Menggunakan musiknya dalam video penangkapan ICE atau kampanye politik tanpa persetujuan bukan hanya penggunaan lagu tanpa izin secara praktis, tetapi juga tindakan merampas otoritas naratif sang artis. Tak mengherankan banyak musisi lain—dari Beyoncé, Celine Dion, Rihanna, Sabrina Carpenter hingga Taylor Swift dan Bad Bunny—turut menyatakan keberatan dan meminta lagu mereka dihapus dari unggahan Gedung Putih maupun Trump.

Preseden bagi Perlindungan Artis Musik di Masa Depan

Gelombang protes ini mulai membangun preseden informal: artis musik tidak lagi menerima begitu saja ketika karya mereka digandengkan dengan kekuasaan yang berlawanan nilai dengan mereka. Noah Kahan, misalnya, menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak akan pernah menyetujui penggunaan musiknya untuk mendukung pemerintahan Trump setelah lagunya "American Cars" dipakai di Instagram Gedung Putih. Dalam jangka panjang, sikap seperti ini bisa memaksa platform dan tim politik lebih berhati-hati terhadap hak cipta musik pop dan etika penggunaan lagu tanpa izin, karena setiap pelanggaran berpotensi memicu penolakan publik dari artis yang punya pengaruh besar. Di balik sengketa satu video TikTok, kita melihat pergeseran: musik bukan dekorasi yang netral, melainkan pernyataan identitas. Selama artis berani menyatakan batas, penggunaan musik mereka tidak lagi bisa diperlakukan sebagai sekadar efek suara di latar, melainkan bagian dari kontrak moral yang menuntut penghormatan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!