Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Penggemar hingga Sutradara: Perjalanan Gandhi Fernando Menaklukkan Thailand

Dari Penggemar hingga Sutradara: Perjalanan Gandhi Fernando Menaklukkan Thailand
Minat|Drama Thailand

Bahasa Thai sebagai tiket Gandhi Fernando menjadi sutradara internasional

Perjalanan Gandhi Fernando menempuh hampir empat tahun mempelajari bahasa Thai adalah proses panjang seorang filmmaker yang mengubah ketertarikan personal menjadi modal profesional, hingga akhirnya dipercaya sebagai penulis dan Gandhi Fernando sutradara bagi series Thailand Badminton Boys yang dirilis ke 190 negara melalui platform streaming iQIYI, menjadikan debut sutradara Thailand ini bukan sekadar pencapaian kreatif, melainkan contoh nyata bagaimana kesabaran dan konsistensi membuka jalan menuju panggung internasional bagi seorang filmmaker Indonesia internasional.

Inti cerita Gandhi bukan soal “kebetulan tembus pasar luar”, melainkan keputusan sadar untuk mempersiapkan diri jauh sebelum kesempatan datang. Ia mulai belajar bahasa Thai tanpa target besar, tetapi dengan asumsi sederhana: jika peluang kerja sama internasional terbuka, ia sudah siap mengambilnya. Paradigma ini patut dicatat oleh pelaku kreatif lain—di era konten lintas negara, kesiapan linguistik dan budaya bukan lagi bonus, melainkan syarat masuk ruang produksi global.

Dari Penggemar hingga Sutradara: Perjalanan Gandhi Fernando Menaklukkan Thailand

Dari rasa tertarik tanpa beban ke keputusan pindah dan memulai dari nol

Debut Gandhi Fernando sebagai sutradara Badminton Boys tidak lahir dari rencana karier yang kaku, tetapi dari rasa tertarik terhadap Thailand dan industrinya yang ia jalani tanpa tekanan target. Ia mengakui sejak awal belum yakin apakah upaya masuk industri hiburan di sana akan berhasil, namun memilih pendekatan "nothing to lose" sambil terus belajar bahasa dan membangun jejaring. Sikap ini kontras dengan obsesi instan mengejar pasar luar yang kerap hanya fokus pada hasil, bukan proses.

Ketika Gandhi memutuskan pindah dan menetap di Thailand, langkah itu bukan lompatan mendadak. Ia sudah menghabiskan lebih dari tiga tahun mempelajari bahasa Thai sebelum berpindah, dan sekitar empat tahun total sebelum jalur kariernya mulai terbuka satu per satu. "Buat aku, pindah ke Thailand bukan sekadar pindah tempat tinggal. Aku memang ingin keluar dari zona nyaman dan mencoba membangun karier dari awal lagi di industri yang berbeda," ujarnya dalam sebuah wawancara. Di sini terlihat keberanian menanggalkan posisi mapan demi pengalaman baru, sesuatu yang jarang dilakukan ketika karier di rumah sudah solid.

Badminton Boys: debut internasional yang menguji kemampuan bahasa dan kepemimpinan

Series Thailand Badminton Boys menandai debut Gandhi Fernando sutradara di industri hiburan Negeri Gajah Putih sekaligus loncatan penting dalam portofolio filmmaking internasionalnya. Ia bukan hanya menyutradarai, tetapi juga menulis naskah untuk series berbahasa Thai tersebut. Latar kisahnya di dunia perkuliahan dan dinamika olahraga bulu tangkis, dengan fokus pada pertemuan dua mahasiswa yang berkembang menjadi rivalitas sengit di lapangan. Tema yang tampak ringan ini sesungguhnya menuntut ketepatan pengelolaan emosi karakter, ritme adegan, dan koreografi olahraga yang meyakinkan agar bisa diterima penonton lintas negara.

Tantangan terbesarnya bukan sekadar teknis penyutradaraan, melainkan kemampuan mengarahkan aktor dan kru dalam bahasa yang bukan bahasa pertama. Gandhi mengaku meski sudah empat tahun mempelajari bahasa Thai, tetap muncul kekhawatiran apakah ia bisa menyampaikan arahan dengan tepat kepada tim lokal. Di ruang produksi profesional, ia harus menjelaskan emosi karakter, blocking, tempo dialog, hingga detail adegan dengan kosa kata teknis dan kedalaman komunikasi yang jauh melampaui obrolan sehari-hari. Di titik ini, investasi waktu bertahun-tahun belajar bahasa baru membuktikan nilai konkretnya: tanpa penguasaan bahasa kerja, posisi Gandhi Fernando sutradara untuk Badminton Boys sulit dibayangkan.

Merasa pemula lagi: pelajaran bagi filmmaker yang ingin menembus pasar internasional

Meski sudah lama berkarya sebagai aktor, penulis, sutradara, dan produser di industri film Indonesia, Gandhi mengaku merasa kembali seperti pemula ketika masuk ke sistem produksi Thailand. Ia harus mempelajari ritme kerja baru, budaya set setempat, serta cara berkomunikasi yang efektif dengan kru dan pemain lokal. Menariknya, ia melihat situasi “turun pangkat” ini bukan sebagai kemunduran, tetapi kesempatan untuk berkembang lagi sebagai sutradara. Sikap mental ini yang sering membedakan pelaku kreatif yang tahan lama di kancah internasional dari mereka yang cepat lelah ketika tidak lagi berada di posisi utama.

Gandhi menekankan dua hal sebagai kunci yang membuka jalan kariernya di Thailand: konsistensi dan jejaring yang dibangun perlahan. Baginya, kesempatan menggarap Badminton Boys bukanlah puncak, melainkan pijakan awal untuk terus mengeksplorasi pasar internasional sembari tetap berkarya di industri film yang membesarkan namanya. Dalam sebuah kalimat yang layak dijadikan pegangan banyak pekerja kreatif, ia berkata bahwa kita tidak selalu harus tahu hasil akhir ketika mulai belajar sesuatu, kadang cukup memulai karena suka dan konsisten menjalaninya, lalu beberapa tahun kemudian hal itu membawa ke tempat yang sebelumnya tak pernah dibayangkan. Di sini, perjalanan Gandhi menjadi argumen kuat bahwa ambisi global harus disokong oleh proses panjang yang sabar dan terukur, bukan sekadar keinginan tampil mendadak di panggung dunia.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!