Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari FOMO Belanja ke Rumah Penuh Makna

Dari FOMO Belanja ke Rumah Penuh Makna
Minat|Gaya Dekorasi

Decluttering Bukan Sekadar Beres-Beres: Ini Soal Cara Pandang Hidup

Decluttering adalah proses memilah, melepaskan, dan menata kembali barang-barang di rumah dengan tujuan memahami mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya memenuhi keinginan, sehingga ruang yang kita tinggali mencerminkan nilai, prioritas, dan gaya hidup berkelanjutan yang lebih sadar, bukan sekadar menumpuk dekorasi tanpa makna. Di titik ini, decluttering menjadi pintu masuk untuk bijak berkonsumsi rumah: setiap barang yang tinggal di rumah harus punya alasan, fungsi, atau cerita. Gaya hidup berkelanjutan sendiri tidak harus dimulai dengan perubahan besar; memilah sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, mengurangi plastik sekali pakai, dan memilih produk secara lebih bijak adalah langkah sederhana yang nyata dampaknya. Ketika rumah berhenti menjadi gudang FOMO belanja, ia pelan-pelan berubah menjadi ruang yang mendukung hidup yang lebih tenang dan terukur.

Dari FOMO Skincare ke Pembelian Sadar: Belajar Menahan Diri

Perubahan mindset dari konsumsi impulsif ke pembelian sadar biasanya dimulai dari satu momen jujur: menyadari betapa banyak barang yang kita beli karena takut ketinggalan tren, bukan karena butuh. Pengalaman Cynthia Suci Lestari menarik karena ia memulai dari rasa tertarik pada decluttering, lalu memperluasnya ke minimalisme sekitar 2018 dengan belajar dari blog, YouTube, dan podcast luar negeri ketika pembahasan minimalisme masih jarang ia temukan di sini. Dari sana, ia mengubah kebiasaan kecil: mengurangi barang yang tidak diperlukan, menggunakan produk sampai habis sebelum membeli yang baru, dan mempertimbangkan barang preloved sebagai alternatif belanja. Kampanye “gunakan sampai habis sebelum beli lagi” yang ia buat untuk diri sendiri agar tidak terus membeli skincare dan makeup baru saat produk lama masih bisa dipakai adalah contoh konkret melawan FOMO dengan disiplin lembut terhadap diri sendiri.

Decluttering untuk Pemula: Menyaring Kebutuhan, Bukan Mengejar Label Minimalis

Bagi pemula, decluttering sering terasa menakutkan karena dibayangkan sebagai proyek ekstrem: rumah serba putih, tiga potong pakaian, dan rak kosong. Padahal, perjalanan Cynthia menunjukkan bahwa decluttering untuk pemula bisa dimulai dari kebiasaan sangat sederhana: mengurangi barang yang tidak diperlukan, memakai produk sampai habis, dan membuka diri pada preloved sebagai cara belanja yang lebih sadar. Ia bahkan mempraktikkan hal kecil seperti membeli sepatu tanpa membawa pulang kotaknya agar tidak menambah tumpukan barang, atau beralih dari kapas ke cleansing balm untuk mengurangi barang sekali pakai dalam rutinitasnya. Menariknya, ia kemudian memilih untuk tidak mengglorifikasi label “minimalis” karena terasa terlalu ekstrem bagi sebagian orang; baginya, semua orang bisa jadi bijak berkonsumsi apa pun labelnya, karena setiap orang punya kebutuhan, kepribadian, kondisi, dan fase hidup yang berbeda.

Keberlanjutan Dimulai dari Sudut Rumah: Langkah Kecil yang Nyata

Gaya hidup berkelanjutan sering dibayangkan sebagai sesuatu yang besar dan jauh dari keseharian, padahal ia sangat dekat dengan cara kita memperlakukan barang di rumah. Sebuah inisiatif bernama Langkah Membumi Market (LMM) yang memasuki tahun kelima dan berlangsung pada 8–11 Oktober 2026 di Fountain Atrium, Level 3A, Grand Indonesia West Mall, Jakarta, menegaskan bahwa sustainability tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Mereka mengajak masyarakat luas, terutama generasi muda, menerapkan gaya hidup berkelanjutan lewat pengalaman sehari-hari yang konkret. Instalasi “Bukan Tentang Sampah” mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak selesai hanya dengan membuang ke tempat yang tepat; pengelolaan dimulai dari mengenali jenis sampah dan memilahnya agar bisa diolah kembali. Ada juga waste drop box untuk menukar sampah kain atau fesyen, botol plastik PET, dan perangkat elektronik dengan tiket rewards, serta instalasi Cactazo Tree dari material daur ulang yang menunjukkan bahwa barang bekas bisa punya nilai estetika bila diolah dengan cara yang hemat sumber daya.

Rumah Penuh Makna: Bijak Berkonsumsi Tanpa Harus Seragam

Pada akhirnya, bijak berkonsumsi rumah bukan soal mengikuti estetika tertentu, melainkan soal keberanian memilih apa yang benar-benar penting untuk kita. Cynthia melalui akun Lyfe With Less mengubah ruang pribadinya menjadi tempat berbagi proses belajar, yang kemudian berkembang menjadi ajakan bagi banyak orang untuk mempertimbangkan kembali kebiasaan konsumsinya. Ia menegaskan bahwa tidak semua orang harus melabeli diri sebagai minimalis atau menjalani gaya hidup yang sama persis; ia lebih memilih mengampanyekan bijak berkonsumsi sebagai prinsip yang bisa diterapkan siapa saja tanpa standar seragam. Di sisi lain, inisiatif seperti LMM mengingatkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar mengurangi sampah, tetapi juga mengubah cara kita memandang barang yang sudah tidak digunakan. Rumah yang penuh makna lahir dari serangkaian keputusan kecil: memilah, menyimpan dengan tujuan, dan berani berkata “cukup” pada belanja impulsif. Less bukan berarti kekurangan; less berarti ruang lebih luas untuk hal-hal yang benar-benar kita hargai.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!