Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bagaimana DJI dan Insta360 Menggeser GoPro dari Takhta Kamera Aksi

Bagaimana DJI dan Insta360 Menggeser GoPro dari Takhta Kamera Aksi
Minat|Fotografi Ponsel

Dari Raja ke Penantang: Peta Baru Pasar Kamera Aksi

Dominasi baru di pasar kamera portabel terjadi ketika DJI dan Insta360 bersama-sama menguasai 93 persen pasar kamera pintar portabel global pada kuartal II-2026, menggantikan GoPro yang dulu identik dengan kamera aksi sebagai pemain utama dan memaksa merek lama itu bergeser dari posisi raja menuju status kompetitor kecil di segmen yang pernah dikuasainya. Perubahan ini bukan sekadar pergeseran angka; ini adalah sinyal bahwa definisi kamera aksi terbaik kini ditentukan oleh inovasi lintas kategori, bukan oleh satu merek ikonik. Menyebut GoPro sebagai pemimpin pasar hari ini lebih banyak bernuansa nostalgia daripada realitas. Menurut IDC, DJI memimpin dengan pangsa pasar 73 persen, disusul Insta360 20 persen, sementara GoPro hanya memegang 3 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pengguna sudah memilih ekosistem baru yang lebih agresif berinovasi.

Strategi DJI: Mengubah Keunggulan Drone Menjadi Dominasi Kamera Portabel

Keberhasilan DJI di pasar kamera portabel tidak terjadi secara kebetulan. Perusahaan ini memindahkan keahlian yang dibangun di bisnis drone ke lini kamera handheld: stabilisasi, gimbal, sensor, kendali perangkat lunak, hingga manufaktur skala besar. Hasilnya, lini DJI action camera dan kamera gimbal terasa matang sejak awal, bukan produk percobaan. IDC mencatat DJI memimpin segmen kamera gimbal pada kuartal I-2026 dan menguasai lebih dari separuh pasar kamera aksi konvensional serta kamera ultra kompak dengan desain dapat dilepas. Di ranah kamera 360 derajat, DJI tidak puas hanya menjadi pengikut; Osmo 360 meraih 22 persen pangsa pasar pada kuartal I-2026, lalu generasi Osmo 360 II melompat ke kemampuan perekaman 8K 60 fps. Pendekatan ini jelas: menutup celah teknologi, lalu menekan GoPro dari semua sisi kategori.

Bagaimana DJI dan Insta360 Menggeser GoPro dari Takhta Kamera Aksi

Insta360: Menjual Perspektif Baru, Bukan Sekadar Resolusi Tinggi

Jika DJI menang lewat kedalaman teknologi dan ekosistem, Insta360 menang lewat cara pandang baru terhadap konten. Insta360 X6 yang diperkenalkan pada Agustus 2026 adalah manifestasi strategi itu: kamera 360 derajat flagship dengan perekaman hingga 8K, sensor besar, dan foto 120 megapiksel. Dua sensor Sony kustom berukuran 1/1,1 inci dirancang untuk menangkap lebih banyak cahaya dan mempertahankan detail dalam berbagai kondisi. Lebih penting lagi, kemampuan video 360 derajat 8K 50 fps memberi kreator fleksibilitas radikal: merekam seluruh area di sekeliling kamera, lalu memilih sudut terbaik saat editing. Bagi kreator konten dan traveler, ini mengubah cara kerja; satu pengambilan bisa diolah menjadi banyak perspektif tanpa memindah posisi kamera. Tidak mengherankan jika perusahaan ini menguasai hampir 70 persen segmen kamera 360 derajat pada kuartal I-2026. Di sini, Insta360 tidak sekadar menjadi GoPro kompetitor, tetapi pemimpin kategori baru.

Mengapa GoPro Tertinggal: Inovasi Lambat di Pasar yang Meledak

Sementara DJI dan Insta360 agresif memperluas kategori, GoPro tampak terjebak dalam masa kejayaannya sendiri. Bisnis GoPro terus menyusut: pendapatan turun 19 persen sepanjang 2025 dan pengiriman kamera merosot hampir 25 persen menjadi 1,8 juta unit. Penurunan berlanjut pada kuartal II-2026, dengan pendapatan hardware anjlok hampir 40 persen dan pengiriman kamera turun 51,7 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Di saat pasar kamera pintar portabel tumbuh 33 persen menjadi 4,14 juta unit pada kuartal I-2026, GoPro gagal menangkap pertumbuhan itu. Produk seperti GoPro MAX2 dengan 10-bit color dan format GP-Log memang menarik secara teknis, tetapi tidak cukup mengubah narasi pasar. Ketika dua pemain baru menguasai 93 persen pangsa, GoPro praktis dipaksa mendefinisikan ulang dirinya, yang terlihat dari langkah merger dengan Starman Optical pada September 2026.

Bagaimana DJI dan Insta360 Menggeser GoPro dari Takhta Kamera Aksi

Dampak bagi Pengguna dan Masa Depan Pasar Kamera Portabel

Bagi pengguna, dominasi DJI dan Insta360 punya dua wajah. Di satu sisi, persaingan keduanya melahirkan kamera aksi terbaik dalam arti fungsional: stabilisasi makin halus, resolusi video 8K menjadi standar di kelas atas, dan fitur kreatif seperti perekaman 360 derajat dengan editing fleksibel membuat konten lebih kaya. Di sisi lain, konsentrasi pasar pada dua merek besar berpotensi mengurangi variasi pendekatan desain yang dulu dibawa GoPro dan pemain lain. Perseteruan hukum terkait paten gimbal menunjukkan bahwa inovasi teknis kini juga menjadi senjata defensif, bukan hanya nilai tambah bagi pengguna. Ke depan, merger GoPro dengan Starman Optical dan rencana ekspansi teknologi optik ke sektor AI, data center, pertahanan, dan kedirgantaraan menandakan bahwa mantan raja action camera mungkin memilih masa depan di luar pasar konsumen. Untuk kreator konten dan traveler, pesan utamanya jelas: masa depan kamera portabel akan ditentukan oleh seberapa cepat merek mampu menggabungkan teknologi, fleksibilitas editing, dan ekosistem perangkat lunak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!