SAFE SE’I: Definisi Singkat dan Pesan Utama Inovasi
SAFE SE’I adalah inovasi pengawetan daging tradisional se’i khas Nusa Tenggara Timur yang memadukan pengasapan klasik kayu kesambi dengan teknologi asap cair tempurung kelapa derajat pangan untuk menekan kontaminasi bakteri Escherichia coli sekaligus memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan ramah lingkungan. Inilah inti terobosan tim mahasiswa kedokteran hewan Undana: mereka mengangkat kearifan lokal ke level se’i modern teknologi, tanpa mengorbankan rasa, tetapi menambah lapisan keamanan pangan dan keberlanjutan. Karya ini tidak sekadar eksperimen laboratorium, melainkan gagasan konkret bagaimana kuliner daerah bisa naik kelas melalui inovasi pangan berkelanjutan. Pesannya jelas: tradisi tidak harus ditinggalkan untuk mengejar teknologi; keduanya bisa disatukan menjadi solusi pangan yang aman, efisien, dan peduli lingkungan.

Mahasiswa Daerah Menang Nasional: Bukti Ilmu Terapan Berdaya Saing
Tim Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Undana, beranggotakan Gebriella Nada Sampealla, Diva Dativa Nenosaban, dan Gabriela Claretya Sua Maga, mengukir kemenangan telak di ajang El Bajo Essay Competition 5. Mereka menyabet Juara 1, Gold Medal Subbidang Pangan, dan Favorite Paper setelah menyingkirkan 374 peserta finalis dalam 123 tim dari berbagai perguruan tinggi besar. Fakta ini penting: anak muda dari kampus daerah mampu bersaing dan menang ketika riset mereka tajam, aplikatif, dan terhubung dengan masalah nyata di lapangan. Pengasapan hibrida SAFE SE’I bukan ide abstrak; ia menjawab langsung persoalan kontaminasi E. coli pada se’i yang selama ini menghantui pelaku UMKM dan konsumen. Prestasi ini menunjukkan bahwa pusat inovasi pangan berkelanjutan tidak harus selalu berada di kota besar.

Menggabungkan Pengawetan Daging Tradisional dengan Asap Cair Tempurung Kelapa
Kekuatan utama SAFE SE’I terletak pada keberanian mengubah cara pandang terhadap pengawetan daging tradisional. Tim Undana tidak menghapus proses se’i yang sudah mengakar; mereka menambah lapis perlindungan melalui marinasi awal dengan food grade liquid smoke dari tempurung kelapa, lalu tetap melanjutkan pengasapan tradisional menggunakan kayu kesambi. Asap cair tempurung kelapa mengandung fenol, asam organik, dan karbonil yang terbukti efektif mematikan bakteri kontaminan tanpa mengubah cita rasa dan aroma otentik se’i. Di sinilah terlihat bahwa teknologi tidak harus serba industri besar; limbah tempurung kelapa yang kerap terbuang di NTT diangkat menjadi bahan berharga. Se’i modern teknologi versi SAFE SE’I menunjukan bagaimana inovasi pangan berkelanjutan bisa lahir dari bahan sederhana, selama ada keberanian menguji dan memformulasikannya secara ilmiah.

Dampak Nyata: Keamanan Pangan, Ekonomi Sirkular, dan UMKM
Yang membuat SAFE SE’I penting bukan hanya gelar juara, melainkan dampak praktis yang ditawarkannya. Bagi masyarakat dan pelaku UMKM pengolahan se’i, penggunaan asap cair tempurung kelapa memberi solusi konkret atas ancaman kontaminasi E. coli, meningkatkan higienitas, dan memperpanjang masa simpan produk. Ini langsung menyentuh jantung persoalan: kuliner lokal sering kali kalah di pasar nasional karena isu keamanan dan konsistensi mutu. Selain itu, menjadikan limbah tempurung kelapa sebagai bahan asap cair membuka peluang ekonomi sirkular yang menguntungkan petani kelapa dan mitra baru di sektor pertanian. Se’i bukan lagi sekadar makanan khas; dengan SAFE SE’I, ia punya peluang riil meningkatkan daya saing di pasar nasional dan internasional. Inovasi pangan berkelanjutan terasa konkret ketika satu teknologi sekaligus mengurangi limbah, mengamankan pangan, dan menguatkan UMKM.

Generasi Muda dan Masa Depan Se’i Berkelanjutan
Prestasi Gebriella, Diva, dan Gabriela menegaskan bahwa generasi muda bukan hanya konsumen tren, tetapi produsen teknologi pangan berkelanjutan. Karya mereka membuktikan potensi kearifan lokal yang dipadukan dengan pendekatan ilmiah dapat berdampak luas, dan menjadi pemantik bagi civitas akademika Undana untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi masyarakat. Implementasi metode pengasapan hibrida SAFE SE’I diharap membangun sinergi antara kampus, pemerintah daerah, UMKM se’i, dan sektor pertanian di NTT. Komitmen kampus untuk memfasilitasi riset aplikatif serupa membuka jalan bagi lahirnya inovasi lain yang menjawab persoalan pangan, limbah, dan kesejahteraan petani. Kesimpulannya, SAFE SE’I adalah contoh jelas bahwa masa depan se’i dan kuliner lokal bergantung pada keberanian anak muda memadukan tradisi dengan teknologi, bukan memilih salah satunya.






