Rumah Nyaris Roboh di Tengah Kawasan Wisata
Di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, ada sisi lain yang jarang tersorot. Di tengah hiruk-pikuk wisata dan hamparan pertanian yang indah, dua keluarga harus hidup di rumah yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.
Rumah milik Aceng Sutardi di Desa Patengan dan rumah milik Cunayah di Desa Alamendah sama-sama berada dalam keadaan rusak parah. Atap bocor di banyak titik, dinding mulai retak dan rapuh, sementara sanitasi jauh dari kata layak.
Kondisi seperti ini bukan hanya soal kenyamanan. Untuk keluarga dengan anak balita, lingkungan rumah yang buruk bisa menjadi pemicu stunting dan berbagai masalah kesehatan lainnya.
Program Bedah Rumah untuk Lawan Stunting
Di tengah situasi ini, Lazismu berkolaborasi dengan Kementerian BKKBN melalui program Bedah Rumah Keluarga Duafa, yang menjadi bagian dari Gerakan Anti Stunting (Genting).
Meski Rancabali dikenal sebagai kawasan wisata, realitas sosialnya menunjukkan masih ada warga yang berjuang keras hanya untuk sekadar tinggal di rumah yang layak. Program bedah rumah ini hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Fokusnya bukan hanya memperindah bangunan, tapi menciptakan hunian sehat sebagai salah satu kunci pencegahan stunting.
Suara Warga: Dari RT Sampai Tetangga
Ketua RT 02 Kampung Cimanggu, Hendra, menggambarkan betapa berat kondisi yang dihadapi keluarga Aceng. Ia bekerja serabutan di perkebunan kopi dan sayuran, sementara di rumah ada anak balita yang sangat rentan mengalami gizi buruk.
Menurut Hendra, dengan kondisi rumah yang jauh dari standar sehat, bantuan renovasi ini sudah sangat sepantasnya diberikan.
Di Kampung Cikareo, Ketua RT setempat, Cecep Cahya, menceritakan bahwa rumah Cunayah bahkan sudah masuk kategori berbahaya. Tiang penyangga hampir ambruk, sehingga struktur rumah harus dibongkar total demi keamanan keluarga yang menempati.
Detail Renovasi: Dari Kayu Rapuh ke Bangunan Permanen
Renovasi dua rumah ini dimulai pada Agustus 2025 dan ditargetkan rampung pada Oktober 2025. Bukan sekadar tambal-sulam, tetapi benar-benar perbaikan menyeluruh.
Beberapa pekerjaan utama yang dilakukan antara lain:
Mengganti dinding kayu yang sudah lapuk dengan bangunan permanen yang lebih kokoh
Memperbaiki atap yang bocor agar rumah tidak lagi tergenang air saat hujan
Meningkatkan fasilitas sanitasi agar lebih higienis dan layak
Warga sekitar turun langsung membantu melalui tradisi gotong royong. Tukang bangunan lokal juga dilibatkan sebagai tenaga kerja, sehingga dampak ekonomi program ini tidak hanya dirasakan penerima manfaat, tetapi juga masyarakat sekitar.
Rumah Sehat, Perisai Pertama Cegah Stunting
Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Lazismu, Ardi Luthfi Kautsar, menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak bisa hanya mengandalkan makanan bergizi.
Ia menjelaskan bahwa rumah yang sehat dan layak huni adalah faktor penting dalam menjaga kesehatan keluarga. Lingkungan tempat tinggal yang bersih, kering, dan aman sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Karena itu, program ini sengaja dirancang sebagai intervensi menyeluruh: bukan hanya bantuan pangan, tetapi juga perbaikan kualitas hunian sebagai ekosistem kesehatan keluarga.
Rasa Syukur dari Penerima Manfaat
Bagi Aceng Sutardi, renovasi rumah ini bukan sekadar perbaikan fisik bangunan. Ia mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada Lazismu dan para donatur yang sudah ikut membantu merenovasi rumahnya.
Dalam kondisi penghasilan yang tidak menentu, memiliki rumah yang lebih layak dihuni menjadi bentuk kepastian baru bagi keluarganya. Hunian yang sehat berarti juga harapan baru bagi masa depan anaknya.
Ibu Cunayah pun merasakan hal yang sama. Atap dan dinding rumahnya sudah lama bermasalah, namun dengan pemasukan serabutan, hampir mustahil baginya untuk melakukan renovasi sendiri.
Kini, dengan adanya bantuan renovasi, ia bisa bernapas lebih lega. Terlebih, ia baru saja menyambut kehadiran cucu. Rumah yang lebih nyaman dan aman menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Dampak Nyata Kolaborasi Sosial
Perwakilan Lazismu Pusat, Barry Aditya, yang datang langsung meninjau proses renovasi, menyoroti aspek penting dari program ini. Menurutnya, intervensi sosial seperti bedah rumah mampu memberikan dampak nyata bagi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui sinergi antara Lazismu, Kementerian BKKBN, donatur, dan warga sekitar, program ini menjadi lebih dari sekadar proyek renovasi. Ini adalah upaya kolektif untuk:
Meningkatkan kualitas hidup keluarga kurang mampu
Menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak
Menjadikan rumah sebagai garda terdepan pencegahan stunting
Penutup: Saat Renovasi Rumah Jadi Investasi Masa Depan
Renovasi dua rumah di Rancabali ini menunjukkan bahwa rumah layak huni bukan hanya soal estetika, tetapi investasi jangka panjang bagi kesehatan generasi berikutnya.
Ketika atap tak lagi bocor, dinding tak lagi nyaris roboh, dan sanitasi lebih manusiawi, yang terbangun bukan hanya bangunan baru, tetapi juga harapan baru.
Dari Rancabali, kita belajar bahwa melawan stunting bisa dimulai dari langkah yang sangat dekat: membenahi tempat anak-anak bertumbuh, yaitu rumah mereka sendiri.






