Sekilas: Ambon di Awal Abad ke-20
Teks ini adalah hasil terjemahan dan pengembangan dari nota administratif H.J. Jansen tentang etnografi beberapa negeri di Ambon sekitar dekade 1930-an.
Di dalamnya, kita diajak mengintip:
Struktur soa dan garis bangsawan di beberapa negeri.
Batas wilayah dan asal-usul nama negeri.
Ritual rumah, kehamilan, kelahiran, dan kematian.
Perabot rumah tangga, dapur, hingga cara membuat api dan lampu.
Pola makan, perhiasan, pakaian, sampai adat kekerabatan.
Buat ibu dan keluarga yang suka membaca sejarah rumah, adat, dan perabot tradisional, ini seperti membuka catatan lama yang penuh ide dan inspirasi.
Negeri Hatoe: Soa, Tanah, dan Kepercayaan
Bangsa raja di negeri Hatoe adalah Hehalatoe. Negeri ini terbagi dalam tiga soa:
Soa Sehoewat (masuk oeli-siwa).
Soa Maloepan (masuk oeli-lima).
Soa Hatoelessi (masuk oeli-lima).
Di tiap soa, ada kepala soa bergelar tertentu dan keluarga-keluarga yang tersusun dengan sistem:
oepoe (nama pangkal).
oepoe mara dan kadang oepoedjodjaro (sebutan turunannya).
Bangsa radja Hehalatoe dikatakan berasal dari Seri Kombello. Toean tanah dan kapitan Hatolessi dipegang Risamasoe, sedangkan Malessi dipegang Picaulima. Ada pula catatan bahwa Risamasoe berasal dari Ternate dan Picaulima dari Soela.
Baeleo negeri disebut Ta ilané dan Ta amané, menegaskan pentingnya rumah adat sebagai pusat ritual dan keputusan warga.
Wilayah Hatoe berbatasan dengan:
Dusun Ongkiehong.
Tawiri di Gunung Kadera.
Lilibooi di sungai Waimeten dan Simadora, antara Tandjoeng Hatoerele dan Hatoeporo.
Hatoe dihubungkan dengan Negorij Laha, yang ditulis sebagai daerah tempat tinggal. Laha sendiri berawal sebagai pemukiman kelompok-kelompok “asing” di sekitar permukiman Portugis lama, mirip kampung burger di Larike dan Hila.
Adat Anak Makain, Rumah, dan Pantangan Harian
Dalam relasi kekerabatan dikenal istilah anak makain (kerabat generasi ketiga dari pihak istri). Ada sejumlah aturan yang menarik dan sangat rinci:
Anak makain menerima cincin di papar gigi ketika mengajukan gugatan adat.
Saat anak makain menikah, mereka dilarang masuk rumah hanya dengan selembar kain; larangan itu ditebus dengan cincin.
Jika anak makain membangun rumah, kerabat yang menjadi anak makainnya berhak memasang bendera di atap, dan menerima cincin atau mata sagu sebagai imbalan.
Di bawah tiang berkate (tiang utama rumah) dikuburkan sepotong timah hitam, sebagai semacam peneguh dan pelindung.
Pantangan-pantangan rumah tangga untuk perempuan hamil dan keluarga juga sangat spesifik:
Perempuan hamil tidak boleh mengenakan sesuatu saat memakai slendang.
Jika beberapa orang tidur di satu rumah, mereka harus berbaring menghadap arah berbeda supaya pencuri tidak leluasa bergerak.
Tidur dengan kepala menghadap laut dianggap buruk: kaki dianalogikan sebagai “indjak goenoeng” dan kepala “indjak laoet”.
Perempuan yang meninggal saat hamil atau melahirkan akan diletakkan kunci di pusarnya sebelum dimakamkan.
Mata pencaharian utama di Hatoe:
Penyulingan gula.
Pemukulan dan panen sagu.
Berkebon.
Berburu.
Memancing jarang dilakukan, dan hanya memakai lepa-lepa kecil.
Ada juga konsep tempat pemali, lokasi yang dianggap sakral dan berbahaya, misalnya:
Kamoala, tempat orang bisa menghilang; penguasanya Hehamoni.
Kotta, tempat di mana orang tak boleh berteriak, jika tidak, ia akan diselimuti awan dan tersesat.
Sebuah bangku bambu yang bila dipotong dapat menyebabkan penyakit, di bawah pengawasan Lenahatoe.
Setan Hatoe bernama Boeré, dipercaya menyebabkan penyakit kaskadu dan sering berwujud babi. Kisah-kisah seperti Loelé yang mengangkat kapal dari laut hingga menjadi batu di Hatoe menunjukkan perpaduan mitos dan identitas lokal.
Negeri Laha: Nama, Batas, dan Adat Kehamilan
Batas negeri Laha:
Dari Wari Lawa ke Gunung Oela pêlê.
Lanjut ke Wai Latoe.
Nama Laha dimaknai sebagai duduk di pangkuan, seperti anak yang duduk di antara lutut ayah—kiasan bagi “orang kediaman”, mereka yang menetap.
Beberapa adat terkait rumah:
Tiang pertama rumah disiram wangi-wangian dan harus dipasang pagi hari.
Kain merah dan putih ditancapkan pada kusen jendela bersamaan dengan pemasangan pasak.
Adat kehamilan dan kelahiran:
Perempuan hamil tidak boleh memakai apa pun di leher.
Suami perempuan hamil dilarang memukul binatang.
Saat persalinan akan dimulai, pintu, jendela, peti, dan lemari dibuka, seolah melonggarkan jalan.
Bayi yang baru lahir, pusarnya hanya diolesi daun sirih kunyah.
Tempat tidur orang yang meninggal dibongkar pada hari kematian.
Jika perempuan meninggal saat hamil atau melahirkan, di pusarnya dikubur paku atau koin.
Sumber nafkah utama Laha:
Memancing.
Menganyam keranjang rotan.
Negeri Lilibooi: Larangan untuk Suami dan Nafkah Warga
Secara historis, Lilibooi dikatakan berbatasan dengan Larike di pantai Taniwel Titoeng. Warga Alang Hatoe, Laha, dan Tawiri disebut “orang kediaman” oleh orang Lilibooi, karena datang sebagai pendatang dan menetap di sekitar benteng Portugis atau dari negeri lain.
Nama baileo Lilibooi: sama soeloe pessi lia siwa.
Ada banyak pantangan untuk suami perempuan hamil:
Tidak boleh bercukur.
Tidak boleh membawa jaring di bahu.
Tidak boleh memakai kain di leher.
Tidak boleh membelah kelapa.
Tidak boleh makan ikan mata boelan (ikan gira).
Jika kelahiran dilakukan di rumah:
Semua peralatan dan perlengkapan memancing harus dikeluarkan, supaya tidak menjadi “selawar” (tak lagi berdaya guna).
Mata pencaharian utama:
Bercocok tanam, terutama kasbi (papeda kasbi pelan-pelan menggantikan papeda sagu).
Menjadi kuli untuk pedagang di Ambon.
Peternakan babi, terutama babi betina.
Penangkapan ikan dianggap kurang penting; ada sedikit aktivitas berdagang ke kota utama.
Di Lilibooi, diceritakan ada sosok makhluk yang berkeliling dan meramalkan kematian dengan suara dengung. Konon, ia adalah mantan kepala dari masa pagan, yang pernah pergi ke Belanda untuk menghadiri perayaan dan kakinya tertembak di sana.
Kompleks “Negeri di Bawah”: Latuhalat, Silalê, Nusanivë, Amahoesoe
Kompleks Negeri di Bawah mencakup:
Desa Latoehalat dan Silalê (satu patoewanan).
Nusanivë.
Amahoesoe.
Struktur kepemimpinan:
Nusanivë dipimpin oleh Radja.
Silalê dipimpin oleh Pattij.
Amahoese dan Latoehalat dipimpin oleh orangkaja.
Batas wilayah keseluruhan:
Garis dari gudang batu bara ke puncak Gunung Nonna.
Lanjut ke pohon poelé tjap sebagai titik semi-tetap.
Dari sana ke hilir Air doea.
Beberapa batas antar desa masih disengketakan, misalnya antara Nusanivë dan Oerimessing, serta Nusanivë dan Amahoesoe.
Penjelasan nama-nama negeri:
Latu-halat: Latu = pemimpin/raja/pangeran, Halat = Barat.
Silale: dari Séi-lali (Séi = siapa; Lali/Lalali/Laholi = menunggu/menjaga) → makna: orang penjaga labuhan.
Noesanivë / Noesa-niwel: Noesa = pulau, Niwel = kelapa → Pulau Kelapa.
Amahusoo: ditafsirkan sebagai “Ayah muda” (Ama + Hoesoo) atau “negeri berburu” (Aman + Hoese / berburu).
Wilayah Negeri di Bawah meliputi sisi selatan Gunung Nonna, yang dari Halong tampak seperti wanita tidur di langit. Lucipara dan Kepulauan Penyu juga termasuk dalam wilayah Latuhalat, dihubungkan secara simbolik lewat daun rumpun bambu pemali yang jatuh ke laut dan terbawa arus.
Orang yang hendak berlayar ke pulau-pulau itu biasanya berangkat dari Tandjoeng-Noesanive, melepaskan ayam putih ke rumpun bambu pemali dan menyediakan sirih-pinang terlebih dahulu.
Latoehalat dan Silalê memiliki satu gereja dan satu sekolah (di Latoehalat). Nusanivë punya gereja dan sekolah di Kampong Eri, sedangkan Amahoesoe memiliki keduanya sendiri. Di sini disebutkan baileo tidak ditemukan, meski laporan lain menyatakan sebaliknya untuk masa yang lebih awal.
Saat nota ditulis:
Negeri Nusanivë sedang membangun rumah regent.
Di Latuhalat, gereja baru sedang didirikan.
Bangunan penting lain hampir tak ada, kecuali stasiun radio dan mercusuar di Gunung Kapal, di tanah yang sudah dibeli pemerintah.
Tipe Rumah: Tiang Boengang-Boengang sampai Rumah Setengah Batu
Rumah-rumah di negeri-negeri ini umumnya beratap, banyak yang tanpa dinding atap (gaba). Beberapa rumah sudah memakai dinding setengah bata dan papan.
Tipe-tipe rumah yang dijelaskan:
Rumah tiang boengang-boengang
Bubungan langsung ditopang deretan tiang di tengah rumah.
Dari bubungan, atap miring ditahan tiang kecil setinggi ±1–1,5 meter.
Rumah tanam tiang
Seluruh atap ditopang tiang-tiang rumah.
Bubungan dan atap memiliki sambungan yang lebih rapi.
Rumah regel
Rumah tanam tiang yang ditambah gaba-gaba.
Dinamai dari bilah tempat gaba-gaba dijepit.
Rumah setengah batoe
Dinding setengah bata dengan pelapis papan.
Disebut rumah orang kaya.
Rumah biasanya dicat putih dengan tanah putih, bukan kapur. Tanah putih sedikit diekspor ke Ambon, misalnya untuk mengapur kuburan menjelang Natal.
Penutup atap dicegah terangkat angin dengan menindihnya daun gemoetoe kering utuh di bagian atas.
Upacara Mendirikan Rumah
Dalam upacara pembangunan rumah, langkah-langkah sakralnya antara lain:
Mengubur beberapa sen (koin) di bawah tiang berkate di sisi timur (“sebelah matahari naik”).
Doa dipanjatkan di atas koin sebelum dikubur.
Dua sen diikat di tiang berkate, dan kelak dibawa ke kotak persembahan di gereja.
Tiang utama harus didirikan pagi hari, sebaiknya saat air pasang.
Pembangunan rumah masih banyak dilakukan secara masohi—kerja gotong royong yang menjadi jantung kehidupan kampung.
Perabot Rumah Tangga: Dari Bale-Bale Gaba-Gaba hingga Tempat Tidur Kayu
Bagian ini sangat kaya untuk melihat perabot rumah ibu dan keluarga di Ambon tempo dulu.
Perabot rumah tangga yang disebut:
Tapalang: semacam bale-bale dari gaba-gaba.
Kooi: tempat tidur kayu.
Strado: bale-bale kayu.
Area tidur biasanya:
Dilapisi tikar, kadang ditambah kasur kapuk.
Menggunakan bantal, sekarang diisi kapuk, dulu diisi bulu bunga alang-alang.
Perabotan yang dibahas ini digambarkan sebagai tiruan sederhana dari barang-barang rumah Indo-Eropa, tetapi dengan sentuhan lokal yang kuat.
Dapur Ambon Tempo Dulu: Meja Dego-Dego, Para-Para, dan Peralatan Gerabah
Perabot dan peralatan dapur:
Dego-dego: meja dapur untuk menyiapkan makanan.
Para-para: rak piring, ada yang model berdiri, ada yang digantung.
Dego-dego fokus ke persiapan makanan, sedangkan para-para untuk menyimpan makanan dan alat.
Peralatan dapur tradisional berbasis gerabah:
Sempé: wadah kerucut dari gerabah, berbagai ukuran, bentuk tetap.
Blangan angko-air: blangan berleher panjang, lurus, biasanya berlapis damar.
Blangan papeda: leher pendek, tanpa glasir.
Blangan koekoesan: leher kerucut.
Tadjela: kwali dari gerabah.
Peralatan khusus olahan sagu:
Tatohi: saringan bambu, memisahkan ampas dari tepung.
Aro-aro: tongkat pengaduk bentuk dayung untuk papeda.
Gatta-gatta: garpu bambu bergigi panjang, dipakai menyendok papeda.
Sendok yang digunakan:
Sendok tempoeroeng (kerang laut).
Sendok kelapa.
Sendok koelit bea (kerang).
Keranjang dan alat anyam:
Njiroe: keranjang dengan bingkai bambu/rotan, pinggiran disebut kakahir.
Njiroe besar berbentuk seperti kipas pipih.
Njiroe biasa dibeli dari Soja, yang besar dari Hitoe dan Wakal.
Bakul dibuat sendiri atau dibeli dari orang Tolehoe.
Lessa: meja pendek dari anyaman urat daun palem, juga dibuat oleh orang Tolehoe.
Di dapur masa lalu, banyak peralatan ini belum ada. Sebagai gantinya, bambu lebar dipakai untuk aneka keperluan memasak, dan masih digunakan di rumah-rumah sementara di dusun (poperisa).
Teknik Menyalakan Api dan Perkembangan Lampu
Oenar: Korek Api Tradisional
Sebelum korek api kotak jadi hal biasa, orang memakai oenar.
Strukturnya:
Dua batang bambu dibelah dua.
Salah satunya digores dan diberi sedikit jamur atau bahan mudah terbakar di bawahnya.
Bambu yang lain, ujungnya diruncingkan, digosok maju mundur kuat-kuat di atas goresan.
Ketika goresan terpotong, bagian yang membara jatuh ke bahan mudah terbakar dan api menyala. Oenar ini masih dipakai di pondok sementara dan untuk keperluan berburu.
Dari Damar ke Palita dan Lampu Minyak
Perkembangan penerangan di rumah-rumah Ambon:
Lilin damar
Damar dipanaskan, digulung memanjang, dibungkus daun (sirih/dll.), diikat tali.
Sabut kelapa dipasang sebagai sumbu.
Kandjoli
Lilin dari bintangor, kemiri, kacang kanari, atau ampas kelapa.
Bahan digiling dan diremas halus.
Lampu minyak paten
Menggunakan minyak kelapa atau minyak kanari sebagai pengganti minyak pabrik.
Pelampung dari empulur gaba berisi kapas.
Palita
Wadah timah persegi, berisi minyak, dengan potongan kapas di empat sudut sebagai sumbu.
Botol minyak tanah
Diisi minyak tanah, dengan kaus kaki katun sebagai sumbu.
Lalu berkembang ke lampu minyak tanah dan lampu bensin dengan bentuk yang terus berubah.
Jadwal Makan dan Menu Keluarga Sehari-hari
Di negeri-negeri ini, makan tiga kali sehari sudah menjadi kebiasaan umum:
Pagi: sekitar pukul 8.
Siang: sekitar pukul 13.00.
Malam: antara pukul 19.00–21.00.
Menu harian:
Sarapan:
Sagu lempeng dengan ikan.
Sisa sajoer atau koea dari hari sebelumnya.
Teh atau kopi; jika tidak ada, air panas.
Makan siang:
Papeda dengan saus asam atau koea ikan lain.
Sajoer, dengan daun genemoe muda sebagai bahan utama.
Makan malam:
Papeda atau papeda dingin.
Ubi dan umbi-umbian lain.
Sagu lempeng.
Masakan dibumbui lada Spanyol (tjili), meski tidak sekuat masakan Jawa atau Indo-Eropa. Cuka dari tuak dipakai untuk memasak saus.
Cara membuat papeda:
Air mendidih dituang ke atas tepung sagu murni.
Cara membuat sagu lempeng:
Tungku sagu merah membara diisi tepung sagu murni.
Setelah tungku dingin, lempeng diambil dan siap dimakan.
Perhiasan, Rambut, dan Tata Rias Tradisional
Perhiasan dan Pakaian Adat Perempuan
Banyak perhiasan yang didata penulis abad ke-19 masih tersisa sebagai poesaka dan dikeluarkan saat upacara adat. Di negeri-negeri ini:
Laki-laki memakai cincin perak atau paduan emas.
Anting-anting sudah tidak umum bagi laki-laki.
Perempuan biasa (bukan dari keluarga pemimpin atau menikah dengan orang berpangkat):
Hanya boleh memakai perhiasan selama belum menikah.
- Pada pesta adat:
Sisir dan tusuk rambut dari perak atau emas.
- Saat ke gereja:
Sisir dari kulit penyu.
Tusuk rambut perak polos, dengan batu hitam atau kenop jet.
Jenis perhiasan:
Kraboe: sejenis anting-anting, dipakai di pesta.
Bunga segar diletakkan di sekitar konde.
Kancing hias di lengan baju ketat selalu berjumlah 14 (7 di tiap lengan).
Rambut disisir ke belakang, dikonde dengan beberapa gaya. Untuk acara resmi atau ke gereja, dipakai kondé bok, rambut disusun dengan sedikit lipatan di leher. Gaya rambut lain hanya boleh dipakai oleh mereka yang, berkat penguasaan bahasa Belanda, dianggap layak memakai pakaian Eropa.
Perawatan Rambut dan Tubuh
Rambut:
Dipoles dengan lilin dan minyak kelapa, ditambah daun kajoe baroe atau waroe yang berlapis lilin alami.
Untuk melembutkan, rambut digosok santan kelapa selama ±1 jam sebelum dicuci.
Pewarnaan rambut modern tidak dikenal.
Sebagai pewangi, digunakan boenga rampa, campuran:
Daun pandan wangi.
Bunga kananga.
Bunga tandjong.
Bunga menor (melati).
Kuku hanya diwarnai anak-anak. Adat papar gigi (mengikir gigi hingga rata) makin jarang. Mencukur bulu wajah dulu memakai pecahan kaca, sekarang pisau cukur.
Bulu ketiak sering dicabut setelah dioles jeruk nipis. Bulu kemaluan tidak dicabut karena takut menyebabkan impotensi.
Tubuh dibubuhi bedak batu (batu lunak dari sungai dekat Amahoesoe). Bedak ini tidak boleh dijual, hanya boleh diberikan gratis. Bedak batu juga dipakai untuk menyikat gigi, dicampur abu dan pasir laut halus.
Selain sabun, orang memakai kajoe saboen (kayu sabun). Tato dilakukan dengan cara yang mirip Barat, lebih sebagai tradisi pelaut atau prajurit, bukan lagi kebiasaan rakyat sehari-hari.
Pengaruh bentuk Eropa terlihat pada obsesi terhadap hidung mancung. Hidung bayi ditarik dan digosok ke atas supaya tampak panjang, sedangkan hidung pesek dianggap tidak elok.
Kepala bayi diurut dan ditekan untuk menjaga bentuk dan mempercepat penutupan ubun-ubun, agar pengaruh jahat (“masuk angin” dan sebagainya) tidak masuk kepala. Ubun-ubun sering ditutup kulit pala atau kain yang direndam cuka dan abu.
Dulu, bayi dibedong dengan kain katun, tapi kebiasaan ini jadi lebih jarang di banyak negeri.
Benda tua yang sudah menjadi poesaka tidak boleh dibakar atau dimusnahkan. Jika tak terpakai, mereka harus dikubur atau diletakkan di makam tetua setelah meninggal, karena sering dipercaya membawa nasib buruk jika salah diperlakukan.
Pakaian Sehari-hari: Dari Telanjang Dada ke Rasa Malu Baru
Dulu, di desa-desa ini anak-anak yang tidak bersekolah biasa berjalan telanjang. Sekarang, kebiasaan itu hampir hilang.
Pria dewasa sudah tidak umum lagi terlihat bertelanjang dada di jalan, begitu juga perempuan yang hanya memakai kain dada (sarung yang diikat di dada dan di bawah ketiak). Kebanyakan orang akan merasa malu berjalan seperti itu, bahkan di antara sesama.
Penutup kepala:
Topi dan kopiah gaya Eropa.
Orang tua kadang memakai selendang (ikat poro) di kepala.
Untuk pekerjaan di luar rumah:
Toedong (semacam caping) sering dipakai, dibuat sendiri atau diimpor dari negeri lain.
Ada dua jenis: dari bambu dan dari daun nipah.
Penutup kaki:
Taroepa, dibuat dari pelepah daun gemoetoe.
Sirih-Pinang, Arak, dan Minuman Manis: Kemewahan di Rumah Ambon
Di antara semua kemewahan, pinang dan sirih menempati posisi istimewa. Mengunyah sirih (makan sirih) bukan hanya kebiasaan, tapi juga ritual sosial.
Tempat penyimpanan dan penyajian bahan sirih disebut tempat sirih, dan menjadi bagian penting dalam:
Upacara rekonsiliasi.
Penyambutan tamu.
Tanda keramahtamahan tingkat tinggi.
Bahan makan sirih:
Pinang (jika tidak ada, dipakai mata buah kelapa tua, kulit kelapa, atau kulit kayu kajoe-oi).
Daun sirih.
Tembakau, biasanya tembakau Jawa.
Kapur sirih.
Untuk rokok dan pipa, tembakau Boeroe lebih disukai.
Minuman dan camilan lain:
Sageroe beralkohol: tuak aren yang difermentasi.
Minuman keras: koolwater, arak, jenever.
Arak (Sopi): hasil penyulingan nira gemoetoe atau kelapa; terbaik jika disuling dari nira tandan bunga kelapa dan disaring di atas janin rusa.
Arak diimpor dari Jawa, gin dari Eropa.
Penyalahgunaan minuman keras paling banyak disebut terjadi di Amahoesoe dan paling sedikit di Noesanivë.
Stimulan lain:
Teh dan kopi.
Teh jahe.
Manisan buah gemoetoe dan varietas globá.
Biji gardemom sebagai penyegar mulut, terutama saat ibadah.
Saat lelah, tubuh digosok dengan daoen gatal (daun jelatang) untuk membangkitkan sensasi segar.
Kelas Sosial, Bekas Budak, dan Hubungan Adat
Secara formal, perbedaan kelas mencolok semakin memudar. Namun, beberapa hubungan subordinatif lama masih hidup dalam bentuk formalitas adat.
Sejak masa diperbolehkannya memiliki budak, keturunan mantan budak masih:
Wajib memberi tahu keturunan mantan majikan jika hendak menikah.
Berhak atas bantuan biaya pernikahan dari keluarga bekas majikan.
Jika mereka kesulitan, keturunan mantan majikan juga dianggap berkewajiban membantu.
Hubungan adat lain seperti dati dan teoen/oepoe tetap menjadi jalur simbolik antara keluarga-keluarga tertentu.
Adat Makan dalam Keluarga dan Sapaan Sosial
Dalam rumah tangga:
Perempuan yang sudah menikah tidak boleh makan bersama mertuanya.
Ia juga tidak boleh makan bersama, bahkan tidak boleh terlihat makan oleh suami saudara perempuan suaminya.
Dalam kasus pasangan menikah, kerabat perempuan tidak boleh mengunjungi rumah ayah suami sampai formalitas adat perkawinan tertentu (antar pemali) terpenuhi.
Orang asing Eropa disebut ong-toea (orang tua), meski masih muda. Sapaan lain:
Gadis muda: djodjaro.
Pria muda: ngongaré.
Perempuan menikah lebih tua: inamataéna.
Kepala keluarga: oepoe.
Istilah Kekerabatan: Dari Bapa ke Temuroen
Nama keluarga dalam garis menaik:
Generasi ke-1 (ayah): bapa.
Generasi ke-2 (kakek): tètè.
Generasi ke-3 (kakek buyut): mojang.
Generasi ke-4: tètè mojang.
Generasi ke-5: toa.
Generasi ke-6: tohala.
Generasi ke-7 dan seterusnya: nènèk mojang.
Nama keluarga dalam garis menurun:
Kelompok ke-1: anak.
Kelompok ke-2: tjoetjoe (cucu).
Kelompok ke-3: tjetje.
Kelompok ke-4: tjitji (cicit).
Kelompok ke-5: tjatja.
Kelompok ke-6 dan seterusnya: temuroen.
Istilah untuk kerabat lain:
Kakak/saudara perempuan ayah atau ibu: oea, moei.
Istri saudara laki-laki ayah: oea.
Suami saudara perempuan ayah: wate.
Suami saudara perempuan ibu: Tihoe, paman.
Saudara laki-laki ayah/ibu: Wate, Tihoe, Oom.
Ada perbedaan pandangan:
Sebagian orang membedakan istilah berdasarkan garis ayah dan ibu.
Sebagian lain tidak membedakan.
Istilah untuk kerabat dan mertua:
Kerabat (ipar, sepupu): ipar, konjadoe, nihi bakoenin.
Ayah/ibu mertua: bapa mantu, mama mantu.
Menantu laki-laki/perempuan: anak mantu.
Penutup: Rumah, Perabot, dan Adat sebagai Cermin Jiwa Negeri
Dari detail tiang berkate yang ditanam dengan koin, hingga bentuk bantal, perabot rumah di negeri-negeri Ambon sekitar 1930 bukan sekadar benda, tapi cermin cara berpikir dan cara hidup.
Beberapa pola yang tampak jelas:
Rumah dan perabot selalu dikaitkan dengan ritual perlindungan (koin, timah, tanaman pemali).
Perabot dapur dan alat makan sagu menunjukkan ketergantungan kuat pada alam: bambu, gerabah, daun, rotan.
Pakaian dan perhiasan menandai status keluarga, usia, dan tahap hidup, terutama bagi perempuan.
Istilah kekerabatan yang detail memperlihatkan struktur sosial yang halus, di mana setiap hubungan diatur dengan istilah dan etika sendiri.
Bagi ibu dan keluarga masa kini, kisah ini bukan sekadar nostalgia, tapi sumber inspirasi:
Bagaimana membuat rumah dan perabot yang fungsional sekaligus sarat makna.
Bagaimana ritual kecil—dari cara makan, menata dapur, merawat bayi—membentuk identitas sebuah rumah.
Cerita-cerita ini bersambung, sama seperti adat yang terus menyesuaikan diri dengan zaman, tapi tetap menyimpan rasa asal yang kuat di setiap tiang rumah, bantal kapuk, dan sirih-pinang yang disuguhkan di meja keluarga.






