Cinta yang Lahir dari Sisa Makanan
Di Denpasar Timur, ada satu sosok yang tanpa banyak bicara sudah lama bergerak untuk mereka yang tak bisa bersuara: anjing dan kucing terlantar.
Dengan segala keterbatasan, Jro Ayu merawat puluhan hewan yang ditinggalkan pemiliknya. Bukan dengan fasilitas mewah, tapi dengan hati yang tak tega melihat mereka kelaparan dan kesakitan.
Awalnya, ia hanya memberikan sisa makanan dari dapur rumah pada anjing-anjing liar di sekitar tempat tinggalnya. Namun semakin hari, hewan yang datang justru bertambah: ada yang masih kecil, lumpuh, hingga yang masih menyusui.
Dari satu-dua ekor, kini ia menjadi “ibu asuh” bagi lebih dari 30 anjing dan sekitar 40 kucing.
Panggilan Spiritual, Bukan Sekadar Hobi
Bagi Jro Ayu, merawat hewan terlantar bukan gaya hidup, tapi panggilan jiwa.
Ia meyakini tugas ini adalah bagian dari tanggung jawab spiritual. Dalam keyakinannya, ada anjing yang merupakan jelmaan manusia yang dikutuk, datang untuk mencari belas kasih dan menebus karma.
Ia melihat setiap hewan sebagai ciptaan Tuhan yang berhak hidup, disayangi, dan diperlakukan dengan layak, sama seperti manusia.
Kasih sayangnya bukan karena mereka lucu, tapi karena mereka makhluk hidup.
Biaya Membengkak, Tenaga Terkuras
Di balik ketulusan itu, ada kenyataan pahit yang terus mengintai: biaya.
Setiap hari, untuk sekadar memberi makan, ia bisa menghabiskan sekitar Rp70 ribu. Itu baru makan, belum termasuk pengobatan jika ada yang sakit atau butuh perawatan khusus.
Masalah lain, Jro Ayu bahkan belum punya rumah sendiri. Ia masih tinggal menumpang bersama keluarga, sehingga tak semua hewan bisa dibawanya pulang.
Hewan yang sakit atau butuh perhatian khusus terpaksa ia titipkan di beberapa shelter di wilayah Plaga, Pegok, hingga Trijata.
Biaya penitipan per ekor bisa mencapai Rp200 ribu per bulan.
Di tengah kondisi keuangan yang pas-pasan, angka ini jelas bukan hal sepele.
Kisah-Kisah yang Bikin Sesak Dada
Seiring waktu, apa yang Jro Ayu lakukan justru membuatnya “dikenal” oleh para pembuang hewan.
Ada yang diam-diam meninggalkan hewan di tempat ia biasa memberi makan. Ada yang meletakkannya di dalam kampil, diikat, lalu dibuang malam-malam agar tak ada yang melihat.
Pernah, ia menemukan satu kampil berisi enam anak kucing.
Di momen-momen seperti itu, yang muncul bukan hanya rasa sedih, tapi juga marah dan kecewa pada sikap manusia yang begitu mudah membuang makhluk hidup.
Punya Hewan Bukan Tren, Tapi Komitmen
Dari pengalaman pahit itulah, Jro Ayu berharap masyarakat bisa lebih bijak sebelum memutuskan memelihara hewan.
Menurutnya, memelihara hewan bukan sekadar ikut tren atau pelampiasan sesaat. Ada tanggung jawab yang harus dipegang seumur hidup hewan itu.
Ia menekankan beberapa hal penting:
Kalau sudah berani memelihara, harus siap dengan konsekuensi, termasuk ketika hewan sakit atau merepotkan.
Hewan peliharaan harus diperlakukan seperti keluarga sendiri, bukan barang yang bisa begitu saja dibuang.
Jika tidak sanggup merawat banyak anak hewan, sterilisasi adalah pilihan bijak. Banyak yayasan dan komunitas yang bisa membantu proses ini.
Memelihara hewan itu komitmen, bukan coba-coba.
Kritik untuk Kebijakan dan Kepedulian Publik
Selain menyentil pemilik hewan yang tidak bertanggung jawab, Jro Ayu juga menyoroti peran pemerintah daerah.
Rencana eliminasi anjing liar di Bali menjadi kegelisahan tersendiri baginya.
Menurutnya:
Tidak semua anjing di jalan adalah benar-benar liar atau berbahaya.
Banyak di antaranya sebenarnya peliharaan warga yang dibiarkan berkeliaran tanpa pengawasan.
Alih-alih eliminasi, pemerintah seharusnya lebih gencar melakukan vaksinasi dan edukasi.
Ia juga membandingkan dengan beberapa negara seperti Turki dan Amerika Serikat, di mana menelantarkan hewan bisa berujung hukuman penjara.
Baginya, Indonesia sudah saatnya memiliki payung hukum yang jelas untuk melindungi hewan dari kekerasan dan penelantaran.
Saat Cinta Saja Tak Lagi Cukup
Di tengah perjuangan yang melelahkan secara fisik, mental, dan finansial, Jro Ayu kini nyaris keteteran.
Cinta yang ia punya besar, tapi kebutuhan di lapangan jauh lebih besar.
Karena itu, ia mulai membuka diri pada bantuan orang-orang yang peduli:
Mengadopsi anjing atau kucing yang ia rawat.
Memberikan donasi untuk biaya makan dan pengobatan.
Membantu menyebarkan informasi agar lebih banyak orang tahu dan tergerak.
Bagi yang ingin terlibat langsung menyelamatkan anjing dan kucing terlantar di wilayah Denpasar Timur, dukungan bisa disalurkan dengan menghubungi:
WhatsApp: 0878-6057-3868
Mereka Menunggu, Bukan Hanya Makanan
Jro Ayu mengaku tidak sanggup berhenti, meski lelah dan terbatas.
Hewan-hewan yang ia rawat seakan paham ritme hidupnya. Mereka tahu jam kedatangannya, rela menunggu berjam-jam di tempat biasa ia muncul.
Di mata banyak orang, mungkin ini hanya soal memberi makan. Tapi bagi Jro Ayu, ini lebih dalam dari itu:
Ini soal kasih sayang, empati, dan tanggung jawab kita sebagai sesama makhluk hidup.
Pertanyaannya: ketika satu orang sudah berjuang sejauh ini, apakah kita akan terus diam dan pura-pura tidak melihat?





