Matematika Turun ke Kampung, Budaya Naik ke Ruang Kelas
Di sebuah siang di Ruang Oval lantai dua Dinas Pendidikan Kota Semarang, suasana terasa lain dari biasanya. Nuansa akademik bertemu dengan energi kebudayaan lokal ketika para guru, pejabat dinas, akademisi, dan perwakilan lembaga mitra berkumpul dalam Focus Group Discussion (FGD) Pembuatan Buku Numerasi berbasis Ethnoscience Village Map (EVI MAP).
Forum ini menjadi titik kulminasi dari proses panjang pelatihan dan pendampingan kepada 30 guru yang menulis buku pembelajaran numerasi dengan sentuhan kuat kearifan lokal.
Ethnoscience Village Map: Sains yang Berpijak pada Tanah Sendiri
Program EVI MAP lahir dari kesadaran sederhana namun mendasar: matematika tidak boleh berhenti pada angka dan rumus, tetapi harus menyentuh realitas sosial dan budaya.
Filosofi ethnoscience—ilmu pengetahuan yang tumbuh dari praktik dan pengalaman hidup masyarakat lokal—menjadi fondasi utamanya. Di jenjang pendidikan dasar, gagasan ini diterjemahkan menjadi upaya menghadirkan matematika yang:
Hidup dan kontekstual
Dekat dengan keseharian siswa
Menyatu dengan budaya dan lingkungan sekitar
Melalui EVI MAP, guru diajak memandang kampung sebagai laboratorium belajar. Pasar, masjid, gang kampung, hingga situs bersejarah berubah menjadi ruang konkret untuk mengajarkan konsep:
Pengukuran
Perbandingan
Geometri
Anak tidak hanya mengerjakan soal abstrak, tetapi juga menghitung luas halaman rumah, membandingkan volume wadah, atau memperkirakan biaya produksi di dunia nyata.
Dari Pelatihan Intensif ke Buku Nyata di Ruang Kelas
Program yang digawangi oleh Tim Fasper Berkelas ini berjalan sejak Juli hingga Oktober 2025. Dalam kurun sekitar empat bulan, tiga puluh guru sasaran mendapatkan:
Pelatihan intensif tentang filosofi ethnoscience dan penerapan EVI MAP
Pendampingan penulisan buku numerasi berbasis etnosains
Ruang untuk langsung menguji materi di kelas masing-masing
Setelah pelatihan, para guru menyusun buku numerasi dengan mengangkat konteks lokal di lingkungan mereka. Buku-buku tersebut tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi langsung digunakan dalam proses pembelajaran.
Target program ini pun sangat terukur: meningkatkan kompetensi numerasi siswa, khususnya pada domain pengukuran, hingga 20 persen. Di saat banyak program berhenti pada jargon, EVI MAP justru tampil dengan sasaran konkret dan berpijak pada realitas sehari-hari siswa.
Numerasi, Budaya, dan Sains: Dirangkai dalam Satu Buku
Seorang akademisi dan reviewer utama menekankan bahwa EVI MAP bukan sekadar proyek penulisan buku. Pendekatan ini merupakan usaha memulihkan kembali hubungan yang sering terputus antara ilmu pengetahuan dan budaya.
Numerasi berbasis EVI MAP tidak hanya mengajarkan anak menghitung, tetapi juga:
Memahami cara masyarakat berpikir dan mengukur
Melihat bagaimana warga berdagang dan mengelola lingkungan
Menyadari jejak sains dalam praktik budaya sehari-hari
Dengan cara ini, matematika berubah menjadi medium untuk menanamkan kesadaran budaya, karakter, dan logika ilmiah secara bersamaan.
30 Buku, 30 Jendela ke Semarang
Dalam sesi review, tiga puluh buku karya guru dipresentasikan dan dibedah bersama. Tema yang diangkat beragam, namun semuanya berakar kuat pada kehidupan masyarakat Semarang.
Beberapa di antaranya mengulas:
Tradisi Apitan di Sampangan
Sejarah Ereveld Candi di Gajahmungkur
Cerita air bersih di PDAM Tirta Moedal
Rumah kolonial di kawasan Sompok
Sentra perajin tahu-tempe di Kampung Gumregah
Semua tema tersebut dijahit dalam konteks numerasi. Anak-anak diajak untuk:
Menghitung luas halaman
Mengukur volume wadah
Memperkirakan biaya produksi
Hasilnya, cerita lokal tidak hanya dibaca, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memahami konsep matematis.
Kekuatan Buku: Distingsi Lokal dan Struktur Pembelajaran yang Utuh
Secara umum, buku-buku yang lahir dari proyek ini dinilai memiliki distingsi yang kuat. Keunggulannya antara lain:
Menampilkan kekayaan lokal Semarang dengan pendekatan ilmiah dan kreatif
- Menyusun alur pembelajaran lengkap, mulai dari:
Bacaan naratif
Lembar kerja siswa
Asesmen formatif
Bagian refleksi
Menggunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami siswa sekolah dasar
Mengintegrasikan literasi dan numerasi, sehingga teks budaya menjadi pijakan untuk belajar matematika
Dengan format seperti ini, buku EVI MAP tidak hanya menjadi bahan ajar, tetapi juga model pembelajaran kontekstual yang kuat.
Kritik Konstruktif: Dari Kearifan Lokal ke Pengetahuan Lokal
Meski menarik dan inovatif, sejumlah catatan kritis tetap muncul. Beberapa titik lemah yang disorot antara lain:
Konten masih banyak berhenti pada level local wisdom (kearifan lokal)
Belum banyak menggali local knowledge (pengetahuan lokal) dan local genius (kecerdasan lokal) khas Semarang
Selain itu, unsur ethnoscience dalam sebagian besar buku dinilai belum sepenuhnya tereksplisitkan. Banyak naskah yang kuat di sisi etnolokalitas—seperti kisah pasar, arsitektur, dan tradisi—namun belum sampai mengungkap dimensi sains tradisional di baliknya, misalnya:
Sistem pengukuran tradisional
Teknologi lokal
Prinsip fisika sederhana dalam kehidupan masyarakat
Dari sisi numerasi, beberapa hal juga dikritisi:
Soal-soal masih cenderung prosedural
Tantangan penalaran tingkat tinggi belum banyak muncul
Pengantar teoretis yang menjelaskan hubungan ethnoscience, numerasi, dan konteks lokal masih minim
Catatan ini bukan untuk melemahkan, tetapi justru menjadi amunisi pengembangan tahap berikutnya.
Guru sebagai Peneliti Lokal dan Penjaga Pengetahuan
Di balik kritik itu, ada satu kekuatan yang mencolok: semangat kolaboratif dan kesadaran budaya yang tumbuh lewat pendidikan.
Buku-buku EVI MAP bukan sekadar produk ajar, melainkan:
Bukti keterlibatan guru sebagai peneliti lokal
Dokumentasi pengetahuan dan pengalaman sosial masyarakat
Upaya mengemas kearifan lokal menjadi materi numerasi yang konkret dan menyenangkan
Setiap halaman menjadi arsip hidup yang menyimpan cara masyarakat berpikir dan bertindak, lalu menerjemahkannya ke bahasa matematika.
Pendekatan ini menegaskan bahwa pendidikan yang berpihak pada budaya dan berpijak pada lokalitas mampu menembus batas ruang kelas. Di situ, kemampuan kognitif, karakter, kebanggaan identitas, dan kesadaran sejarah bertemu dalam satu proses belajar.
Rekomendasi untuk Versi EVI MAP Berikutnya
Dalam sesi diskusi terbuka, para peserta FGD menyusun sejumlah rekomendasi agar buku-buku EVI MAP makin matang dan tajam. Beberapa usulan penting antara lain:
Menambahkan pengantar teoretis yang menjelaskan konsep ethnoscience secara sederhana
Menghadirkan peta visual interaktif agar konsep EVI MAP lebih mudah ditangkap siswa
Mengembangkan soal numerasi berbasis penalaran tingkat tinggi atau proyek mini, bukan hanya soal prosedural
Memperkuat rubrik asesmen yang menilai proses berpikir, bukan sekadar jawaban akhir
Menyisipkan refleksi guru sebagai bagian dari desain pembelajaran, sehingga guru dapat mengulas efektivitas penerapan EVI MAP di kelas
Dengan rekomendasi tersebut, EVI MAP diarahkan bukan hanya sebagai kumpulan bahan ajar, tetapi juga model pembelajaran reflektif yang terus disempurnakan.
Launching Buku: Dari FGD ke Gerakan Pendidikan
Acara puncak FGD ditandai dengan peluncuran resmi 30 buku EVI MAP berbasis numerasi dan pemberian apresiasi kepada para guru kreator.
Momen ini bukan sekadar seremoni. Peluncuran tersebut melambangkan bahwa karya para guru telah naik kelas: dari draft pelatihan menjadi produk pendidikan yang siap diuji dan disebarkan.
Ekspresi para pemangku kepentingan yang hadir menggambarkan satu hal: hasil akhir proyek ini melampaui ekspektasi awal.
Dari Semarang untuk Indonesia: EVI MAP sebagai Model Nasional
Hasil review menyimpulkan bahwa proyek EVI MAP memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas. Beberapa rekomendasi strategis muncul, di antaranya:
Buku-buku EVI MAP layak diberi ISBN
Diterbitkan secara nasional sebagai model pembelajaran numerasi berbasis kearifan lokal
Diposisikan sebagai contoh konkret penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka
Dengan langkah ini, inovasi yang berawal dari ruang kelas di Semarang dapat menjadi rujukan bagi daerah lain yang ingin membangun pembelajaran numerasi yang kontekstual dan berakar pada budaya.
Penutup: Sains yang Pulang ke Kampung Halaman
FGD dan peluncuran buku EVI MAP bukan sekadar rangkaian kegiatan akademik. Ia menandai babak baru dalam peta pendidikan Semarang.
Di tengah tantangan rendahnya literasi dan numerasi nasional, para guru di kota ini menunjukkan satu jalan alternatif:
Menghadirkan sains dari kampung sendiri
Membangun konsep dari tradisi
Menjadikan budaya sebagai jantung pembelajaran
Melalui EVI MAP, anak-anak bukan hanya belajar menghitung. Mereka belajar memahami bagaimana pengetahuan leluhur bertemu dengan sains modern.
Dari ruang-ruang kelas di Semarang, tumbuh harapan bahwa pendidikan yang berakar pada budaya akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan bangga pada identitasnya.






