Padel: Si Pendatang “Baru” di Dunia Raket
Beberapa tahun terakhir, ada satu olahraga raket yang tiba-tiba sering muncul di feed media sosial, khususnya di kota-kota besar Indonesia: Padel.
Olahraga ini sebenarnya bukan benar-benar baru, tapi belakangan jadi makin populer di kalangan urban, berdiri sejajar dengan tren sepedaan, gym, lari maraton, pilates, yoga, sampai tenis yang masih ramai peminat.
Padel menggabungkan unsur tenis dan squash, dengan ciri khas raketnya yang padat tanpa jaring. Dari gaya main sampai atmosfer komunitasnya, padel pelan-pelan menjelma jadi bagian gaya hidup baru, bukan sekadar olahraga.
Apa Sebenarnya Padel Itu?
Secara konsep, padel mirip dengan tenis: dimainkan di lapangan yang bentuknya serupa, tapi ukuran lapangannya lebih kecil dan biasanya dimainkan oleh dua sampai empat orang.
Yang bikin beda:
Raket padel tidak memakai senar dan bentuknya padat, penuh dengan lubang-lubang kecil.
Tidak seperti tenis atau bulu tangkis yang pakai raket berjaring.
Secara historis, padel pertama kali lahir di Acapulco, Meksiko, diperkenalkan oleh Enrique Corcuera pada tahun 1969. Awalnya ia memodifikasi permainan squash agar lebih mirip tenis.
Sebelum pandemi COVID-19, padel masih termasuk olahraga “niche” dan belum terlalu dikenal. Namun karena:
Permainannya minim kontak fisik, dan
Tren hidup sehat makin naik,
padel justru ikut terdongkrak popularitasnya selama dan setelah pandemi.
Menariknya lagi, padel kini sudah masuk ke ajang European Games 2023, dengan Spanyol keluar sebagai juara. Federasi Padel Internasional (FIP) bahkan menargetkan pembentukan 75 federasi nasional dan mendorong padel agar bisa dipertandingkan di ajang olahraga kelas dunia.

Kok Bisa Padel Jadi Hits di Indonesia?
Masuknya padel ke Asia Tenggara bermula dari Singapura, ketika Swiss Club membuka lapangan padel pertama di Asia pada Agustus 2013.
Di Indonesia, geliat padel awalnya datang dari kalangan ekspatriat dan elite urban di Bali dan Jakarta sekitar tahun 2021–2024. Salah satu klub yang jadi pionir sekaligus panutan adalah Jungle Padel di Bali.
Memasuki periode 2024–2025, tongkat estafet hype padel mulai diambil alih oleh:
Pelaku industri kreatif
Influencer dan content creator
Mereka ikut memainkan peran penting dalam mem-populerkan padel ke khalayak lebih luas, hingga akhirnya menjelma jadi tren besar seperti sekarang.
Lebih dari Sekadar Olahraga: Padel sebagai Gaya Hidup
Bagi banyak orang urban, olahraga kini bukan cuma soal keringat dan kalori. Padel hadir sebagai paket lengkap: sehat, seru, sosial, dan estetik.
Padel jadi ajang untuk:
Membangun dan memperluas komunitas
Menjalin relasi baru
Hangout dengan cara yang lebih aktif
Sama seperti tenis, lapangan padel banyak yang dibuat estetik dan instagramable, dengan pemain yang tampil dalam outfit stylish. Tidak heran kalau banyak orang ingin mengabadikan momen mereka bermain padel di media sosial.
Di luar faktor gaya hidup, ada satu keunggulan besar padel:
Lebih ramah pemula dibanding tenis.
Untuk belajar tenis, dibutuhkan waktu dan usaha yang cukup panjang agar tangan, timing, dan teknik bisa benar-benar terbentuk. Di padel, kurva belajarnya cenderung lebih landai:
Gerakannya lebih mudah diadaptasi
Pola permainannya cepat terasa menyenangkan meski baru pertama kali coba
Secara intensitas, padel sudah cukup sebagai latihan kardio, tapi tidak terasa seberat olahraga high-impact sehingga relatif aman bagi pemula.
Komunitas padel juga dikenal santai dan fun, meskipun tetap kompetitif ketika sudah masuk pertandingan.

Kenalan dengan Aturan Dasar Padel
Lapangan dan Perlengkapan
Secara umum, lapangan padel mirip lapangan squash, namun:
Berada di outdoor
Dikelilingi kaca atau pagar di sekelilingnya
Ukuran lapangan:
Single (1 vs 1): 6 x 20 meter
Double (2 vs 2): 10 x 20 meter
Permukaan lapangan biasanya menggunakan:
Beton
Material plastik khusus
Rumput sintetis
Di tengah lapangan terdapat net setinggi 88 cm, sedikit lebih rendah dibanding net tenis konvensional.
Untuk bolanya:
Menggunakan bola yang mirip bola tenis, hanya saja sedikit lebih kecil.
Dalam praktiknya, sering juga dipakai bola tenis biasa.
Raket padel:
Terbuat dari bahan komposit
Tidak memakai senar
Bentuknya bulat pipih dengan lubang-lubang kecil
Aturan Main yang Perlu Kamu Tahu
Beberapa aturan dasar dalam permainan padel antara lain:
Servis selalu dari bawah (underarm), dan bola harus dipukul di bawah pinggang.
Bola yang memantul di lantai lalu mengenai dinding masih dianggap sah dan boleh dikembalikan.
Sistem skor padel mengikuti sistem skor tenis: 15, 30, 40, deuce (imbang), advantage, lalu game.
Di beberapa turnamen digunakan sistem golden point saat terjadi deuce.
Pada golden point, siapa yang memenangkan poin langsung memenangkan game.
Tim penerima servis berhak memilih untuk menerima servis dari sisi kiri atau kanan.
Sistem golden point ini pertama kali diperkenalkan di World Padel Tour 2020.
Penutup: Saatnya Coba Padel Sendiri
Padel datang di momen yang pas, ketika orang-orang urban sedang mencari olahraga yang:
Tidak terlalu rumit,
Tidak terlalu berat,
Tapi tetap seru, sosial, dan instagramable.
Buat kamu yang sudah terbiasa dengan tenis atau baru ingin mulai bermain olahraga raket, padel bisa jadi pintu masuk yang lebih bersahabat. Siap-siap saja, sebentar lagi mungkin grup nongkrongmu bukan cuma janjian ngopi, tapi juga janjian sparring padel tiap minggu.






