Pagi di GOR Lembah: Dari Jalanan, Lapangan Sudah Ramai
Sejak pindah tugas ke fakultas, aku lebih sering pegang kamera ketimbang pulpen. Hampir setiap kegiatan, baik di dalam maupun di luar kampus, akhirnya mampir ke memori kameraku. Mulai dari pertemuan resmi, pelantikan, sampai rangkaian Dies.
Hari ini, tugasku sedikit beda: memotret lomba tenis lapangan.
Dari jalan perbatasan UGM-UNY, empat lapangan tenis outdoor langsung terlihat. Aku melongok dari ketinggian, semua lapangan terisi penuh. GOR Lembah UGM sebenarnya bukan tempat asing buatku, tapi memotret pertandingan tenis lapangan jelas pengalaman baru.
Mencari Sudut Terbaik di Tribun Penonton
Aku naik ke area tribun penonton. Pertandingan pagi itu sudah berjalan cukup seru. Untuk memastikan lapangan mana saja yang dipakai—biar tidak salah fokus memotret—aku menghampiri salah satu residen yang bertugas sebagai panitia. Kalau tidak salah, mereka para residen dari Ilmu Bedah.
“Lapangan yang digunakan itu 2 dan 3, Mas,” jelas salah satu panitia.
Aku pun meminta izin berkeliling, sesekali menyapa panitia yang berjaga. Pukul menunjukkan 08.30 WIB, empat tim sudah sejak tadi berjuang mengejar kemenangan. Dua pemenang dari pertandingan ini akan bertemu di final, sementara yang kalah masih punya satu kesempatan untuk memperebutkan posisi tiga.

Berburu Momen: Bukan Sekadar Jepret
Selama pertandingan berlangsung, aku mencoba menangkap momen per tim. Ternyata tidak semudah kelihatannya. Butuh waktu lama untuk mendapatkan komposisi yang menurutku enak dilihat. Kalaupun hasilnya belum sempurna, setidaknya sudut pandangnya harus menarik.
Hampir satu jam berlalu sebelum pertandingan pertama usai. Para pemain saling berjabat tangan, lalu beristirahat sekitar setengah jam untuk mengembalikan tenaga. Di sela jeda itu, aku memotret aktivitas mereka: ada yang duduk terengah-engah, ada yang bercanda, ada yang sibuk merapikan perlengkapan.
Sesekali, aku mengambil foto candid, seolah mereka tidak menyadari kamera yang mengarah.
Tidak hanya fokus ke aksi di lapangan, aku sengaja mencari detail lain. Raket yang disandarkan di kursi, bola tenis yang menggelinding ke sudut lapangan, sampai elemen-elemen kecil yang terasa “tenis banget”.
“Mau aku buat tulisan di blog,” kataku ke seorang kawan yang sedang mengambil konten untuk reel Instagram.
Ia hanya mengangguk, sepertinya sudah hafal dengan kebiasaanku menulis cerita dari balik kamera.
Bagiku, merangkai pengalaman memotret pertandingan tenis lapangan ke dalam tulisan adalah hal yang menyenangkan. Apalagi, aku sendiri belum pernah benar-benar bermain tenis lapangan. Cara menghitung skornya saja masih sering membuatku garuk-garuk kepala.

Babak Lanjutan: Perebutan Juara Tiga dan Satu
Pertandingan kembali dimulai, kali ini berlangsung bersamaan. Di lapangan dua, digelar perebutan juara tiga. Sementara di lapangan tiga, dua tim berjuang keras memperebutkan gelar juara pertama.
Pertandingan berjalan alot, terutama di partai perebutan juara satu. Raut serius, teriakan pelan, dan langkah cepat di atas lapangan terasa membuat suasana makin tegang.
Di tengah kesibukan memotret, tiba-tiba tugasku bertambah: aku ikut membantu panitia menjadi semacam ball boy dadakan.
Ball boy adalah istilah untuk mereka yang bertugas mengambil bola saat pertandingan, supaya jalannya laga tetap cepat dan rapi. Di ajang nasional maupun internasional, peran ball boy bahkan meluas: membantu mengambilkan bola, menyodorkan handuk, sampai menyiapkan minuman bagi pemain di momen-momen tertentu.
Tenis, Olahraga yang Dulu Hanya Kukenal dari TV
Tenis lapangan sebenarnya bukan olahraga yang populer di kalangan anak-anak di tempat aku tumbuh, apalagi di kepulauan. Mayoritas orang lebih dekat dengan sepak bola, bulutangkis, bola voli, atau sepak takraw.
Meski begitu, beberapa nama petenis dunia tetap menempel di ingatanku: Maria Sharapova, Ana Ivanovic, Serena dan Venus Williams, Novak Djokovic, Rafael Nadal, hingga Li Na. Dari Indonesia, ada Yayuk Basuki, Angelique Widjaja, dan Christoper Rungkat.
Nama-nama itu dulu sering mampir lewat siaran berita radio dan cuplikan olahraga di televisi. Beberapa bulan belakangan ini, aku juga makin sering menonton siaran langsung pertandingan tenis lapangan di TVRI World. Kalau tidak salah, salah satunya WTA 1000 Qatar TotalEnergies Open 2025.

Tiebreak, Istilah yang Akhirnya Mulai Masuk Akal
Kembali ke GOR Lembah UGM. Pertandingan di lapangan terbuka itu sudah berjalan hampir satu jam. Pemenang juara tiga akhirnya sudah didapatkan lebih dulu. Sementara partai perebutan juara satu masih berlangsung sengit.
“Dilanjutkan tiebreak,” ujar salah satu panitia yang bertugas sebagai wasit lapangan.
Istilah tiebreak sebenarnya bukan istilah baru di telingaku, tapi selama ini hanya sebatas kata lewat. Mekanisme perhitungannya aku masih belum benar-benar paham.
Dari obrolan kecil di pinggir lapangan, sedikit demi sedikit aku mulai mengerti. Ketika kedua pemain sama-sama mengumpulkan skor 6-6, pertandingan akan dilanjutkan ke babak tiebreak sebagai penentu.

Belajar Menikmati Sunyinya Penonton Tenis
Meski ini pertandingan tenis lapangan pertama yang kutonton langsung, aku mulai bisa merasakan di mana letak keseruannya. Bukan hanya di pukulan keras atau servis kencang, tapi juga di ritme permainan dan tekanan mental yang terasa meski hanya dari tribun.
Yang menarik, atmosfer penonton di tenis lapangan terasa berbeda jika dibandingkan dengan penonton bola voli atau bulutangkis. Di sini, penonton dituntut lebih tenang. Tidak ada teriakan sembarangan saat rally berlangsung.
Aku memperhatikan, mereka tahu kapan harus hening, kapan boleh bertepuk tangan, dan kapan tepat memberi semangat. Meski jumlah penonton pagi itu tidak banyak, mereka tampak benar-benar menikmati pertandingan dari tempat duduk di tribun.
Tugas Terakhir: Mengabadikan Para Jawara
Satu jam lebih sedikit, akhirnya sang juara pertama resmi didapatkan. Bagian final dari tugasku pun dimulai: mengabadikan momen penyerahan trofi.
Tiga tim pemenang dikumpulkan untuk foto bersama. Setelah itu, setiap tim berfoto bergantian, dengan pose bangga sembari mengangkat trofi masing-masing. Senyum lelah bercampur lega terpancar jelas di wajah mereka.
Usai sesi foto, aku meminta izin untuk kembali duluan. Ratusan foto sudah tersimpan rapi di memori kamera. Saatnya memilih dan menyeleksi, sebelum semuanya diunggah ke server.
Aku melangkah menuju tempat kerja, menaruh kamera di meja, lalu memindahkan file dokumentasi satu per satu.
Akankah Suatu Hari Nanti Coba Pegang Raket?
Di perjalanan pulang, aku sempat berpikir: sepertinya kalau tahun depan ada pertandingan tenis lapangan lagi, aku masih ingin terlibat untuk mendokumentasikannya.
Untuk sekarang, cukup dulu menjadi penonton dan jurufoto setia di pinggir lapangan. Belajar bermain tenis lapangan masih masuk daftar “mungkin suatu hari”, bukan hari ini.
Setidaknya, dari balik kamera, aku sudah punya satu cerita baru tentang tenis lapangan yang dulu hanya kukenal dari layar kaca.






