AI Masuk Kelas: Mimpi Baru dari Sabang
Di Sabang, tiga siswa MAN Sabang — Zhairah Salsabila, Dea Fitriani, dan Chairul Amna — memilih untuk tidak hanya mengeluh saat melihat fenomena yang mengganggu mereka: semakin banyak teman sebaya yang tidak lagi mampu bertutur dalam bahasa Aceh.
Dari kegelisahan itulah lahir gagasan berani: menjadikan kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence) sebagai platform belajar bahasa Aceh.
Mereka tak ingin bahasa daerah ini hanya tinggal simbol di dinding kelas atau sekadar pelajaran yang dilupakan usai ujian.
Kegelisahan yang Berubah Jadi Riset
Ketiganya menyadari, jika bahasa Aceh terus dijauhi generasi muda, maka yang hilang bukan sekadar kosakata, tapi juga cara pandang dan jati diri.
Mereka mulai bertanya pada diri sendiri: apa langkah nyata yang bisa dilakukan agar bahasa Aceh tetap hidup di tengah gempuran era digital?
Jawaban yang mereka temukan: gunakan teknologi, bukan lawan teknologi.
Dari situ, lahirlah proposal riset tentang peran AI dalam pelestarian bahasa Aceh.
Proposal tersebut kemudian berhasil lolos hingga babak semifinal Festival Madrasah Young Researcher 2025 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia Provinsi Aceh.
Bahasa Aceh, Identitas yang Harus Dipertahankan
Bagi mereka, bahasa Aceh bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas.
Teknologi, dalam pandangan para siswa ini, bisa menjadi jembatan agar bahasa tersebut tetap dekat dengan generasi muda yang tumbuh di tengah gawai, aplikasi, dan media sosial.
Mereka membayangkan AI sebagai sahabat belajar yang:
bisa diakses kapan saja
berbasis digital dan interaktif
relevan dengan kebiasaan anak muda
Dengan begitu, bahasa Aceh tidak lagi terasa kaku atau “jadul”, melainkan hadir dalam format yang akrab dan menyenangkan.
AI sebagai Guru Bahasa Aceh yang Selalu Online
Dalam gagasan mereka, AI tidak hanya dipakai sebagai alat bantu sekali pakai, tetapi diangkat menjadi platform pembelajaran yang lengkap.
Beberapa fungsi yang mereka usulkan antara lain:
Menjadi media belajar berbasis digital yang mudah diakses siswa
Memanfaatkan pengenalan suara untuk melatih pelafalan bahasa Aceh
Berfungsi sebagai penerjemah otomatis bahasa Aceh yang tetap menjaga makna asli
Menyajikan materi yang adaptif, mengikuti kebutuhan pengguna
Mereka tidak ingin AI sekadar menampilkan kata dan arti.
AI justru diharapkan mampu menghidupkan kembali makna filosofis yang terkandung dalam bahasa Aceh.
Hadih Maja dan Makna di Balik Kata
Chairul Amna menekankan bahwa belajar bahasa Aceh tidak boleh berhenti pada hafalan.
Ia menautkan idenya dengan salah satu hadih maja (petuah Aceh): “mate aneuk meupat jeurat, mate adat pat tamita”.
Pesan ini mengingatkan bahwa ketika adat dan bahasa hilang, maka identitas juga ikut lenyap.
Karena itu, dalam pandangan mereka:
AI harus membantu menghidupkan nilai filosofis di balik bahasa
Proses belajar harus terasa bermakna, bukan sekadar menghafal
Generasi muda perlu merasa terhubung secara emosional dengan bahasa Aceh
Dengan pendekatan seperti ini, bahasa Aceh bukan hanya diajarkan, tetapi juga diwariskan secara lebih utuh.
Bank Kosakata hingga Latihan Pelafalan
Dalam konsep riset yang mereka susun, AI diharapkan bisa menjalankan beberapa peran konkret:
Membangun bank kosakata bahasa Aceh yang rapi dan mudah ditelusuri
Menyediakan fitur penerjemah yang membantu pengguna memahami konteks
Melatih pelafalan lewat model blackbox AI sehingga pengguna bisa tahu apakah ucapannya sudah tepat
Menawarkan kalimat kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda, bukan sekadar contoh kaku dari buku teks
Dengan cara ini, bahasa Aceh tidak hanya lebih mudah dipelajari, tetapi juga tetap terjaga keasliannya.
Pembelajar bisa merasakan bahwa mereka sedang berinteraksi dengan bahasa yang hidup, bukan artefak museum.
Guru Juga Melihat Ini sebagai Alarm Serius
Guru pembimbing riset mereka, Hafiz Arif Lubis, memandang melemahnya penggunaan bahasa Aceh di kalangan siswa sebagai persoalan yang tidak boleh diremehkan.
Ia melihat banyak anak yang merasa canggung, malu, bahkan menganggap bahasa Aceh kurang relevan dengan zaman.
Jika kecenderungan ini dibiarkan:
kosakata akan terus menyusut
nilai filosofis yang tersimpan dalam bahasa ikut pudar
unsur budaya yang terkandung di dalamnya perlahan menghilang
Karena itu, ia menilai riset yang digagas siswanya sangat penting sebagai upaya pelestarian bahasa dengan pendekatan yang sesuai dengan zaman digital.
Menjaga Bahasa, Menjaga Jati Diri
Inisiatif tiga siswa MAN Sabang ini memperlihatkan satu hal penting: pelestarian bahasa daerah tidak harus selalu berbentuk nostalgia, tetapi bisa justru lahir dari inovasi.
Dengan menjadikan AI sebagai sahabat belajar bahasa Aceh, mereka mencoba menyambungkan dua dunia:
dunia tradisi yang sarat nilai
dunia teknologi yang menjadi habitat generasi muda
Jika gagasan seperti ini terus dikembangkan, bukan tidak mungkin bahasa Aceh akan menemukan rumah baru di layar ponsel, di aplikasi, dan di platform digital — tanpa kehilangan ruh dan identitasnya.
Pada akhirnya, menjaga bahasa berarti menjaga siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana budaya ini hendak dibawa di masa depan.






