Topeng Raksasa dari Sampah Plastik di Jantung Bulfest
Di panggung utama Buleleng Festival 2025, dua pasang topeng raksasa langsung mencuri perhatian. Setelah beberapa tahun vakum karena pandemi dan keterbatasan anggaran, festival rakyat di titik 0 Kota Singaraja ini kembali hadir dengan gaya yang jauh lebih berani.
Bukan sekadar dekorasi, topeng itu memvisualkan tokoh pewayangan Rama dan Laksmana. Dominasi warna putih yang kokoh di belakang panggung berpadu dengan gemerlap Tugu Singa Ambara Raja, membuat suasana malam jadi terasa megah, terutama ketika lampu panggung menyala penuh.
Yang membuat orang terperangah, dua topeng raksasa tersebut ternyata sama sekali tidak dibuat dari kayu. Seluruh topeng dirakit dari sekitar 1,7 ton sampah plastik daur ulang, dengan proses pengerjaan yang memakan waktu sebulan penuh.
Sebelum menjadi topeng, plastik-plastik itu dicacah terlebih dahulu, lalu dibentuk dan diukir hingga menyerupai karakter Rama dan Laksamana, dua sosok simbol kebijaksanaan dalam kisah Ramayana.
Dalam tradisi Wayang Wong asal Desa Tejakula, Buleleng, Ramayana menjadi wiracarita utama. Seni ini biasanya ditampilkan dengan topeng yang dibuat dari Kayu Pule dan disakralkan. Namun kali ini, ikon topeng di panggung Bulfest hadir murni sebagai karya kreatif dari bahan daur ulang, tanpa prosesi sakral apa pun.
Ornamen topeng di Bulfest menjadi simbol bahwa seni, budaya, dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan. Pemerintah daerah menegaskan, pelaksanaan festival tahun ini dirancang ramah lingkungan, dengan pengelolaan sampah yang lebih serius.
Festival Tanpa Sampah ke TPA
Dalam rangkaian Buleleng Festival, pemerintah memastikan bahwa sampah yang dihasilkan tidak akan berakhir di TPA begitu saja. Sebanyak 135 relawan disiapkan untuk menjaga area festival tetap bersih dari sampah plastik.
Relawan bergerak mengumpulkan sampah selama acara berlangsung.
Sampah yang terkumpul langsung dipilah di lokasi.
Sampah organik kemudian dibawa ke tempat komposting milik Dinas Lingkungan Hidup Buleleng di Desa Jagaraga untuk diolah menjadi kompos. Sementara itu, sampah non-organik dikirim ke Bank Sampah Induk (BSI), di mana sampah tersebut memiliki nilai tukar dan bisa dibayar.
Dari sanalah, sampah-sampah ini berpotensi lahir kembali menjadi karya seni: patung, topeng, tas, hingga berbagai pernik yang punya nilai ekonomi. Pesan besarnya sederhana tapi kuat: sampah tidak harus berakhir di tempat pembuangan, tapi bisa naik kelas menjadi karya bernilai.
Dari Gang Kecil Lahir Tokoh “Made Oplas”
Jauh dari hiruk pikuk panggung utama Bulfest, di sebuah gang kecil di Banjar Dinas Ancak, Desa Bungkulan, Sawan, berdiri sebuah rumah yang tampak mencolok. Dinding putih dan pilar besar di depannya membuat bangunan itu terlihat seperti galeri seni yang bersinar di bawah matahari pagi, tepat pada 17 Agustus 2025.
Di dalamnya, seorang pria duduk santai di kursi yang dibuat dari ban mobil bekas. Di tangannya, sebuah topeng berwarna-warni tengah dibersihkan. Warna-warna itu bukan dari cat, melainkan dari tempelan plastik bekas kemasan makanan ringan yang menutupi permukaan topeng.
Dialah Made Agus Janar Dana, 35 tahun. Topeng itu bukan sekadar karya, melainkan identitas. Lewat topeng tersebut, ia menciptakan karakter bernama Made Oplas, singkatan dari “Manusia Dengan Operasi Plastik”. Bukan operasi estetika ala klinik kecantikan, tapi operasi kreatif dengan bahan plastik bekas.
Topeng ini selalu menemani setiap sesi penyuluhan tentang sampah yang ia lakukan. Begitu topeng dikenakan, Made Janar berubah menjadi Made Oplas – sosok unik yang menghibur sekaligus mengedukasi.
Pada awalnya, saat ia memberikan seminar tentang pengelolaan sampah, tidak ada topeng, tidak ada karakter. Hasilnya, interaksi minim, peserta kurang antusias. Dari pengalaman itu, ia sadar perlu sesuatu yang lebih visual, lebih menyentuh emosi, dan lebih dekat dengan budaya.
Lalu lahirlah Made Oplas. Sejak itu, suasana penyuluhan berubah total.
Peserta lebih fokus.
Edukasi soal sampah tersampaikan dengan cara yang menyenangkan.
Topeng menjadi “pintu” untuk masuk ke kesadaran orang.
Ia menyebut topeng Made Oplas sebagai topeng bondres – karakter komikal yang biasa muncul dalam pertunjukan seni di Bali. Wajah kocak, gaya bicara cair, membuat setiap penyuluhan terasa seperti menonton pertunjukan, bukan sekadar mendengar ceramah.
Cara Lahirnya Topeng Wajah Plastik
Selain Made Oplas, Janar Dana juga mengembangkan empat karakter topeng lain. Dua di antaranya diberi nama Gek Ucik dan Dek Yudhi. Masing-masing memiliki ciri khas, tapi benang merahnya sama: semuanya ditempeli plastik kemasan bekas.
Proses mencipta satu karakter topeng bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan waktu sekitar satu minggu, mulai dari mempersiapkan bahan dasar hingga menempelkan plastik di permukaan topeng.
Dalam satu topeng biasanya dibutuhkan sekitar 20 lembar plastik kemasan. Sebelum ditempel, plastik:
Dicuci hingga bersih.
Dipilah berdasarkan warna, tulisan, dan gambar.
Dipadukan agar menghasilkan komposisi visual yang estetik.
Janar sengaja memilih plastik kemasan karena menurutnya, motif tulisan, gambar, dan gradasi warna bawaan plastik justru menghadirkan tekstur yang unik dan menarik.
Ia pernah bereksperimen membuat topeng yang sepenuhnya dari plastik, termasuk bahan dasarnya. Namun, penggunaan plastik langsung ke kulit wajah ternyata tidak nyaman dan kurang baik. Dari pengalaman itu, ia menetapkan satu prinsip:
Bahan dasar tetap kayu, yang nyaman dan aman dipakai.
Plastik berfungsi sebagai lapisan luar yang memberi karakter visual.
Dengan begitu, topeng tetap fungsional sebagai properti pementasan dan penyuluhan, namun sekaligus membawa pesan lingkungan yang kuat.
Topeng sebagai Pesan: Sampah Bukan Hal Jorok
Topeng plastik ala Made Oplas bukan sekadar trik panggung untuk mencairkan suasana seminar. Di balik tampilan lucu dan warna-warni, ada pesan serius yang ingin disampaikan: sampah bukan sesuatu yang otomatis jorok dan tidak berguna.
Bagi Janar, topeng-topeng ini adalah cara untuk mengajak masyarakat berhenti memandang sampah plastik dengan sebelah mata. Dengan sentuhan kreativitas, sampah bisa bertransformasi menjadi barang berharga, bahkan memiliki nilai ekonomi.
Lewat setiap penampilannya, ia ingin menanamkan gagasan:
Sampah bisa jadi karya.
Karya bisa mendidik.
Pendidikan bisa dilakukan dengan cara yang menghibur.
Topeng bondres juga punya keistimewaan dalam budaya Bali. Di balik kelucuannya, topeng jenis ini sering menjadi medium untuk menyisipkan kritik sosial, pesan moral, hingga refleksi kehidupan sehari-hari.
Dengan meramu tradisi bondres dengan bahan plastik daur ulang, Janar mencoba merawat seni dan budaya Bali sambil menyuntikkan kesadaran baru soal lingkungan.
Bondres: Tertawa Dapat, Tatwa Juga Dapat
Dalam tradisi pertunjukan di Bali, menonton bondres bukan sekadar mencari hiburan. Di balik canda dan tawa, selalu ada pesan yang membungkus isu sosial yang sedang terjadi di masyarakat.
Janar mengaku, meski dirinya tidak ahli menari, lewat topeng ia merasa bisa “ikut bondres”. Yang membuatnya bangga, topeng-topengnya bukan cuma membuat orang tertawa, tapi juga berpikir.
Ia bermimpi, suatu saat topeng plastik yang ia kembangkan bisa makin dikenal luas. Fokusnya tetap pada topeng bondres, karena karakter itu paling dekat dengan fungsi edukasi dan kritik sosial.
Di balik mimpi itu, ia menyimpan harapan lain:
Pemerintah semakin serius mengembangkan program pelestarian budaya, terutama seni topeng.
Seni dan budaya yang kuat bisa memperkuat daya tarik pariwisata Bali.
Bagi Janar, Bali bukan sekadar deretan hotel, tetapi seni, budaya, alam, dan tradisi yang harus dijaga bersama.
Mengajak Generasi Muda Menemukan Keunikan Diri
Bicara tentang kesenian, Janar punya pesan khusus untuk generasi muda. Ia percaya bahwa setiap orang terlahir dengan keunikan masing-masing.
Menurutnya, keunikan itu bisa menjadi modal besar jika terus diasah:
Suka menari? Teruskan dan jadikan itu ciri khas.
Suka membuat topeng? Kembangkan sampai menjadi hal yang spesial.
Dalam hidupnya, yang “spesial” adalah topeng. Tapi bukan topeng biasa, melainkan topeng kayu yang ia hias dengan lapisan plastik bekas hingga menjadi wajah baru yang penuh cerita.
Di arena Buleleng Festival, Janar membuka sebuah gerai edukasi bernama Wajah Plastik. Di sana, ia tidak hanya memajang karya-karya topengnya, tapi juga berbagi pengalaman kepada pengunjung tentang pentingnya merawat lingkungan.
Pesannya sederhana: jika ada kemauan, sampah plastik bisa diolah bersama, bumi bisa dirawat bersama, dan generasi berikutnya akan mewarisi tempat hidup yang tetap layak.
Topeng, Upacara, dan Makna Menutup Hal Negatif
Di Buleleng, topeng bukan hanya identik dengan seni pertunjukan, tetapi juga sangat dekat dengan upacara keagamaan, salah satunya Topeng Sidakarya. Di Bali Utara, pertunjukan sakral ini sering dipentaskan pada akhir upacara di pura sehingga bisa disaksikan berbagai kalangan.
Dalam pementasan tersebut, sering ada wejangan yang disampaikan melalui tokoh topeng, dibawakan dengan gaya bondres yang jenaka dan disisipi sastra. Pola ini terbukti efektif di era sekarang, ketika masyarakat cenderung enggan mendengar ceramah agama panjang dalam bentuk dharma wacana.
Dengan menyisipkan ajaran melalui bondres, orang bisa:
Tertawa lepas.
Menyerap nilai sastra dan tatwa tanpa merasa digurui.
Dalam pandangan akademisi Institut Mpu Kuturan Singaraja yang juga memimpin Sanggar Seni Nong-Nong Kling, topeng punya keterkaitan erat dengan kehidupan sosial. Ia menjelaskan bahwa topeng dimaknai sebagai “tutup aeng (seram)” – sebuah simbol untuk menutup hal-hal negatif dalam diri manusia.
Setiap orang, katanya, sebenarnya memakai “topeng” dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pemimpin, misalnya, memakai topeng sesuai jabatannya. Tantangannya adalah bagaimana menghidupkan topeng itu sehingga kehadirannya membawa rasa tenang, senang, dan membuat orang di sekitarnya bahagia.
Dari makna itu, lahir harapan agar para seniman topeng, khususnya bondres, bisa menjaga kualitas lawakan mereka. Candaan di panggung diharapkan tidak menyentuh ranah:
Pornografi atau cabul.
SARA.
Pelecehan agama.
Topeng, dalam perspektif ini, justru bertugas menutup dan menyaring hal-hal negatif, bukan membukanya lebar-lebar.
Topeng Plastik: Kreativitas, Bukan Sakralitas
Bicara soal bahan, hingga kini belum ditemukan tradisi topeng berbahan plastik yang dianggap sakral. Kesakralan topeng biasanya dihubungkan dengan material alami yang berasal dari alam, seperti kayu atau tanah, yang diyakini bisa “dihidupkan” secara spiritual.
Sementara itu, topeng plastik lebih banyak diposisikan sebagai:
Mainan kreatif.
Pajangan dekoratif.
Media ekspresi seniman.
Alat branding untuk kampanye tertentu.
Di tangan kreatif seperti Janar Dana, plastik yang sering dianggap masalah justru berubah menjadi wajah-wajah baru yang membawa pesan lingkungan. Dari sampah jadi wajah, dari yang dianggap kotor menjadi media edukasi yang menghibur.
Dari Mainan Unik ke Gerakan Lingkungan
Jika dilihat sekilas, topeng-topeng plastik ini mungkin tampak seperti mainan unik yang cocok dijadikan properti foto atau koleksi. Tapi jika diperhatikan lebih dalam, setiap detail plastik yang menempel di permukaan topeng menyimpan cerita tentang gaya hidup, konsumsi, dan bagaimana kita memperlakukan sampah.
Dari panggung raksasa Bulfest hingga gang kecil di Bungkulan, satu benang merahnya sama: sampah plastik tidak harus berakhir di tempat sampah.
Ia bisa menjadi ikon festival.
Ia bisa menjelma jadi topeng bondres yang lucu.
Ia bisa mengedukasi ratusan orang dengan cara yang menyenangkan.
Di titik inilah, mainan unik berupa topeng plastik bukan lagi sekadar objek koleksi, melainkan simbol gerakan: bahwa seni, budaya, dan kepedulian lingkungan bisa menyatu dalam satu wajah yang sama – wajah plastik yang mengajak kita tertawa sambil berpikir.






