KuybeliKuybeli

Batik Purbalingga Naik Kelas: Dari Kain Tradisional ke Fashion Ready to Wear Berkelas Global

Batik Purbalingga Naik Kelas: Dari Kain Tradisional ke Fashion Ready to Wear Berkelas Global
Minat|Tren Fashion

Batik Purbalingga Siap Jadi Bintang di Panggung Fashion

Batik Purbalingga Naik Kelas: Dari Kain Tradisional ke Fashion Ready to Wear Berkelas Global

Pemerintah Kabupaten Purbalingga semakin serius menggarap potensi industri kreatif lokal, terutama di sektor batik dan fashion.

Lewat Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), berbagai pelatihan dan pendampingan digelar untuk para pengrajin batik dan desainer lokal, dengan target Batik Purbalingga bukan hanya jago kandang, tapi juga bisa bersaing di pasar nasional hingga internasional.

Program ini menggandeng LF Fashion Consultant dan mendapat dukungan dari PT HM Sampoerna Tbk melalui program CSR “Sampoerna untuk Indonesia”. Kegiatan yang berlangsung di SMK Bojongsari ini menghadirkan desainer nasional sekaligus Vice Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC), Lisa Fitria, sebagai mentor utama.

Batik Purbalingga Naik Kelas: Dari Kain Tradisional ke Fashion Ready to Wear Berkelas Global

Lanjutan Program: Dari Motif Kontemporer ke Busana Siap Pakai

Lisa menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program tahun sebelumnya.

Saat itu, fokusnya ada pada:

  • Pengembangan motif batik Sudirman berbasis kontemporer khas Purbalingga

  • Fashion Ready to Wear Inkubator

Tahun ini, arah pengembangan dibuat lebih tajam: output nyata berupa busana siap pakai yang berlandaskan konsep sustainable fashion. Jadi bukan sekadar belajar teori, tapi diarahkan langsung ke produk yang bisa dijual.

Metode Batik Pola: Desain Dulu, Baru Batik

Salah satu pendekatan baru yang diperkenalkan adalah metode batik pola.

Alih-alih membuat kain batik dulu baru dipikirkan mau dijahit jadi apa, peserta diajak membalik proses:

  • Pertama, merancang desain busana

  • Setelah itu, barulah membuat batik mengikuti pola desain tersebut

Dengan cara ini, proses menjadi:

  • Lebih efisien

  • Biaya produksi bisa ditekan

  • Produk lebih kompetitif di pasar

Lewat metode ini, diharapkan konsumen bisa mendapatkan batik tulis dengan harga yang lebih terjangkau, tanpa mengorbankan nilai estetika maupun kualitas.

Batik Purbalingga Naik Kelas: Dari Kain Tradisional ke Fashion Ready to Wear Berkelas Global

Slow Fashion, Craftsmanship, dan Nilai Tambah Produk

Pelatihan ini tidak hanya bicara soal desain, tapi juga menguatkan konsep keberlanjutan dan craftsmanship.

Peserta diajak untuk:

  • Memanfaatkan limbah kain dan sisa perca

  • Mengolahnya menjadi detail aplikasi seperti smock, bunga, hingga ulir benang

Dengan tambahan sentuhan tangan ini, busana yang tadinya dijual di kisaran Rp300 ribuan bisa naik nilai jualnya hingga dua kali lipat.

Di tengah maraknya fast fashion dan isu limbah pakaian, pendekatan ini menjadi angin segar: lebih pelan, lebih berkelanjutan, tapi justru lebih bernilai.

Batik Purbalingga Naik Kelas: Dari Kain Tradisional ke Fashion Ready to Wear Berkelas Global

Tetap Kontemporer, Tapi Akar Tradisi Jangan Lepas

Lisa juga menyoroti pentingnya menjaga identitas lokal dalam setiap pengembangan motif batik.

Bagi para pelaku UMKM, pesan utamanya jelas:

  • Batik boleh tampil lebih modern

  • Desain boleh mengikuti selera pasar yang lebih luas

  • Namun filosofi dan pakem khas Purbalingga harus tetap dipertahankan

Targetnya, motif batik Purbalingga bisa:

  • Didesain secara kontemporer

  • Tetap membawa karakter daerah

  • Diterima oleh pasar lokal maupun internasional

Dengan begitu, pelaku UMKM bisa terus berkreasi tanpa kehilangan akar budaya mereka.

Batik Purbalingga Naik Kelas: Dari Kain Tradisional ke Fashion Ready to Wear Berkelas Global

Regenerasi Desainer dan Mindset Bisnis Global

Peserta pelatihan kali ini cukup beragam, di antaranya:

  • 20 pembatik

  • 22 desainer lokal yang tergabung dalam Asosiasi Fashion Desainer Purbalingga (Afdega)

  • Siswa SMK jurusan tata busana

  • Beberapa desainer independen

Selain skill teknis, Lisa menekankan pentingnya pemahaman alur lengkap dari desain sampai menjadi produk jadi.

Para peserta juga diajak membangun mindset bisnis:

  • Tidak hanya berpikir untuk pasar Purbalingga saja

  • Namun membidik pasar nasional, bahkan internasional

  • Tanpa meninggalkan ciri khas lokal, terutama dari motif batiknya

Fashion bukan sekadar karya, tapi juga bisnis yang perlu strategi.

Batik Purbalingga Naik Kelas: Dari Kain Tradisional ke Fashion Ready to Wear Berkelas Global

Suara Desainer Muda: Melawan Fast Fashion dengan Slow Fashion

Salah satu peserta, Shafira Zahrasani Amalia, desainer muda dari Afdega, merasakan langsung manfaat pelatihan ini.

Ia mengelola usaha konveksi rumahan yang baru berjalan sekitar setahun. Menurutnya, materi pelatihan sangat membuka wawasan, terutama terkait tren fashion ke depan.

Di tengah maraknya fast fashion yang menghasilkan banyak limbah, konsep slow fashion yang diperkenalkan dalam pelatihan ini menjadi solusi yang relevan:

  • Produksi lebih terarah

  • Desain lebih tahan lama secara gaya

  • Produk punya nilai lebih karena dikerjakan dengan sentuhan tangan dan konsep berkelanjutan

Batik Purbalingga Naik Kelas: Dari Kain Tradisional ke Fashion Ready to Wear Berkelas Global

Mimpi Besar: Batik Purbalingga sebagai Ikon Fashion Berkelanjutan

Lewat rangkaian pelatihan ini, Pemkab Purbalingga menaruh harapan besar pada Batik Purbalingga.

Batik tidak lagi diposisikan hanya sebagai produk tradisional, tetapi diarahkan menjadi:

  • Modern dalam desain

  • Fungsional dan nyaman dikenakan sehari-hari

  • Ramah lingkungan berkat pendekatan sustainable dan slow fashion

Tujuannya jelas: Batik Purbalingga punya daya saing tinggi di kancah global, tanpa kehilangan jiwa lokal yang menjadikannya unik.

Batik Purbalingga Naik Kelas: Dari Kain Tradisional ke Fashion Ready to Wear Berkelas Global

Di tengah tren fashion yang terus bergerak cepat, langkah Purbalingga ini menunjukkan satu hal penting: tradisi bisa tetap hidup dan justru bersinar ketika berani beradaptasi dengan zaman.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!