KuybeliKuybeli

Roblox Dilarang untuk Anak? Ini Fakta, Risiko, dan PR Besar Buat Orang Tua

Roblox Dilarang untuk Anak? Ini Fakta, Risiko, dan PR Besar Buat Orang Tua
Minat|Bermain Game

Roblox Dilarang untuk Anak, Sebenarnya Ada Apa?

Imbauan Mendikdasmen Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. untuk melarang anak di bawah umur memainkan Roblox langsung memantik diskusi di kalangan akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Inti kekhawatirannya jelas: di dalam gim tersebut dinilai banyak muncul konten kekerasan yang belum layak dikonsumsi anak. Apalagi, anak SD pada umumnya belum sepenuhnya bisa membedakan mana adegan yang nyata dan mana yang sekadar rekayasa dunia virtual.

Bukan Sekadar “Dilarang”, Tapi Dibatasi dengan Bijak

Kaprodi Pendidikan Teknik Informatika (PTI) UMS, Sukirman, S.T., M.T., menegaskan bahwa ia memahami dan sejalan dengan tujuan kebijakan tersebut. Namun, ia memberi penekanan penting soal makna “larangan”.

Menurutnya, “melarang” di sini lebih tepat dimaknai sebagai “membatasi”.

  • Hal yang positif masih bisa diteruskan.

  • Konten yang tidak sesuai dengan perkembangan anak harus dihindari.

Ia juga mengingatkan bahwa masalah konten berbahaya bukan hanya soal Roblox semata. Banyak gim lain yang juga menyimpan potensi serupa, sehingga tidak adil jika hanya satu platform yang disorot.

Perlu “Polisi Game” dan Kerja Sama Antar Kementerian

Sukirman menilai, isu ini tidak bisa hanya ditangani satu lembaga. Ia mendorong adanya:

  • Kerja sama antar kementerian yang lebih serius.

  • Pembentukan semacam “polisi gim” yang khusus menilai kelayakan konten untuk anak-anak.

Kementerian yang berwenang di bidang pemblokiran dan regulasi digital juga perlu dilibatkan, sehingga pengawasan konten gim menjadi lebih sistematis, bukan sekadar reaksi sesaat.

Alasannya sederhana tapi krusial: anak-anak adalah generasi penerus, sehingga perlindungan mereka di ruang digital sama pentingnya dengan perlindungan di dunia nyata.

Game Itu Seperti Makanan: Aman Kalau Tak Berlebihan

Mengajar mata kuliah Game Edukasi membuat Sukirman punya sudut pandang menarik. Ia mengibaratkan gim sebagai makanan:

  • Kalau dikonsumsi secukupnya, bisa memberikan manfaat.

  • Kalau berlebihan, efek sampingnya bisa merugikan.

Risiko yang paling sering muncul antara lain:

  • Kecanduan bermain.

  • Enggan beraktivitas fisik dan bergerak di dunia nyata.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menyesuaikan konten dan durasi bermain dengan usia pemain.

Rating Usia dan Batasan Durasi Itu Wajib

Untuk anak-anak, Sukirman merekomendasikan:

  • Pilih gim dengan rating all ages / semua usia.

  • Tetap dimainkan dalam pendampingan orang tua.

Sementara untuk orang dewasa, ia mengingatkan bahwa batasan waktu tetap perlu. Terlalu lama bermain, apa pun jenis gamenya, bisa membawa dampak yang sama tidak sehat.

Menurutnya, pembatasan durasi bukan hal sepele. Secara desain, banyak gim memang dibuat supaya pemain terus terlibat dan sulit berhenti. Tanpa kontrol, anak akan mudah terjebak dalam pola bermain yang tidak sehat.

Sisi Positif Game: Kreativitas dan Problem Solving

Di tengah kekhawatiran, Sukirman mengingatkan bahwa gim juga punya banyak sisi positif.

Beberapa manfaat bermain gim yang tepat antara lain:

  • Melatih kreativitas.

  • Mengasah keterampilan problem solving.

  • Menghadirkan ruang eksperimen dan eksplorasi yang aman.

Roblox, misalnya, menyediakan ruang virtual bagi pemain untuk menjelajah dan berkreasi. Anak bisa membangun dunia, membuat pengalaman baru, dan belajar logika secara tidak langsung.

Tapi, di balik itu, sisi negatif seperti kecanduan dan berkurangnya aktivitas fisik tetap tidak boleh diabaikan.

Peran Orang Tua: Bukan Hanya Mengawasi, Tapi Mendampingi

Bagi Sukirman, kunci terbesar ada pada pendampingan orang tua.

Ia menegaskan beberapa poin penting:

  • Orang tua perlu membatasi durasi bermain gim.

  • Bahkan untuk game edukasi sekalipun, jika dimainkan terlalu lama tetap tidak sehat.

  • Konten yang dipilih sebaiknya tidak mengandung kekerasan.

Durasi dan isi konten harus diatur sebagai bentuk tanggung jawab orang tua terhadap kesehatan mental dan fisik anak.

Literasi Digital: Anak Harus Paham Ini Cuma Game

Selain pendampingan, Sukirman menyoroti pentingnya literasi digital sejak dini.

Literasi digital membuat anak mengerti bahwa:

  • Apa yang mereka lihat di dalam gim tidak boleh ditiru di dunia nyata.

  • Di ruang virtual, tetap ada etika yang harus dijaga.

Beberapa hal yang perlu ditanamkan pada anak:

  • Interaksi di dalam gim bukan kebebasan tanpa batas.

  • Harus memperhatikan psikologis pemain lain, tidak boleh semena-mena.

  • Mereka perlu dijelaskan bahwa dunia gim tidak benar-benar nyata, sehingga harus bisa memilih mana yang baik dan mana yang salah.

Penjelasan-penjelasan ini tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri, orang tua perlu aktif mengomunikasikannya dan menanamkannya terus-menerus.

Penutup: Bukan Anti Game, Tapi Pro Anak

Larangan Roblox untuk anak sebetulnya bukan ajakan untuk anti game, melainkan alarm agar kita semua lebih pro terhadap kepentingan dan keselamatan anak.

Selama:

  • Konten disesuaikan dengan usia,

  • Durasi bermain dibatasi,

  • Orang tua mau terlibat aktif,

  • Literasi digital anak terus ditumbuhkan,

maka gim bisa menjadi alat belajar dan hiburan yang aman, bukan ancaman tersembunyi di dalam gawai mereka.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!