sumber gambar utama: Sezeryadigar via iStock
Kebijakan cukai rokok dan harga rokok dalam beberapa tahun terakhir mengalami banyak penyesuaian, baik di Indonesia maupun di negara lain. Di Indonesia, tarif cukai hasil tembakau diatur melalui berbagai Peraturan Menteri Keuangan (PMK), sementara di Italia, kenaikan harga rokok bahkan diatur bertahap hingga 2028.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia menargetkan penerimaan ratusan triliun rupiah dari cukai rokok pada 2026, dan di Italia, penyesuaian pajak rokok diharapkan menambah ratusan juta euro penerimaan negara. Semua ini bermuara pada satu hal: rokok makin sarat beban fiskal dan harganya terdorong naik.
Dalam konteks tersebut, menghitung sendiri biaya rokok tahunan di 2026 menjadi langkah penting. Dengan memahami komponen cukai, pajak, dan mekanisme kenaikan harga, Anda dapat memperkirakan berapa besar pengeluaran yang tersedot untuk rokok dan bagaimana kebijakan fiskal ini memengaruhi dompet Anda.
Panduan Lengkap Menghitung Estimasi Pengeluaran Rokok Tahunan Anda
1. Memahami Komponen Biaya: Harga Rokok, Cukai, dan Pajak Rokok
Dalam setiap batang rokok yang Anda beli, ada tiga komponen utama:
Harga produk rokok itu sendiri (harga jual eceran)
Cukai rokok yang ditetapkan pemerintah pusat per batang
Pajak rokok yang besarannya 10% dari nilai cukai, sesuai UU 1/2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (UU HKPD)
Cukai dipungut untuk kepentingan nasional, sedangkan pajak rokok dimanfaatkan pemerintah daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
2. Contoh Tarif Cukai per Batang (Rokok Sigaret)
Berdasarkan PMK 97/2024, tarif cukai per batang rokok sigaret dibagi menurut jenis dan golongan, antara lain:
SKM gol. I: cukai Rp1.231 per batang, harga jual minimal Rp2.375
SKM gol. II: cukai Rp746 per batang, harga jual minimal Rp1.485
SPM gol. I: cukai Rp1.336 per batang, harga jual minimal Rp2.495
SPM gol. II: cukai Rp794 per batang, harga jual minimal Rp1.565
SKT/SPT gol. I (harga di atas Rp2.170): cukai Rp794 per batang
SKT/SPT gol. I (harga Rp1.555–Rp2.170): cukai Rp378 per batang
SKT/SPT gol. II: cukai Rp223 per batang, harga minimal Rp995
SKT/SPT gol. III: cukai Rp112 per batang, harga minimal Rp860
SKTF/SPTF (tanpa golongan): cukai Rp1.231 per batang, harga minimal Rp2.375
Untuk produk impor, tarifnya juga ditetapkan per batang, misalnya:
SKM: Rp1.231, minimal Rp2.375
SPM: Rp1.336, minimal Rp2.495
SKT/SPT: Rp483, minimal Rp2.171
SKTF/SPTF: Rp1.231, minimal Rp2.375
Rokok elektrik dikenai cukai per gram atau per mililiter, misalnya:
Rokok elektrik padat: cukai Rp3.074/gram, harga minimal Rp6.240/gram
Rokok elektrik cair sistem terbuka: cukai Rp636/ml, harga minimal Rp1.368/ml
Rokok elektrik cair sistem tertutup: cukai Rp6.776/ml, harga minimal Rp41.983 per cartridge
3. Rumus Menghitung Cukai dan Pajak Rokok per Bungkus
Untuk menghitung cukai pada satu bungkus rokok:
Cukai per bungkus = tarif cukai per batang × jumlah batang per bungkus
Contoh ilustrasi yang diberikan:
Sebungkus rokok isi 16 batang, jenis SKM golongan I
Tarif cukai SKM gol. I = Rp1.231 per batang
Maka:
Cukai per bungkus = Rp1.231 × 16 = Rp19.696
Dari nilai cukai per bungkus ini, kita bisa hitung pajak rokok:
Pajak rokok per bungkus = cukai per bungkus × 10%
Pajak rokok = Rp19.696 × 10% = Rp1.969,6
Dengan demikian, pada bungkus rokok isi 16 batang SKM golongan I, Anda membayar hampir Rp20 ribu untuk cukai dan sekitar Rp2 ribu untuk pajak rokok, di luar harga dasar produk.
4. Mengubah Menjadi Pengeluaran Bulanan dan Tahunan
Untuk mengubah menjadi estimasi pengeluaran tahunan, secara prinsip langkahnya:
Menentukan jenis rokok dan tarif cukainya
Menghitung cukai dan pajak per bungkus sesuai ilustrasi di atas
Mengalikan dengan jumlah bungkus yang dikonsumsi per hari, lalu dikalikan 30 (untuk bulanan) atau 365 (untuk tahunan)
Informasi yang tersedia memberikan rumus dan struktur perhitungan, sementara angka total tahunan bergantung pada jumlah konsumsi harian masing-masing konsumen.
Dampak Finansial Jangka Panjang dari Kebiasaan Merokok yang Sering Terabaikan
1. Kontribusi Rokok pada Penerimaan Negara
Pemerintah Indonesia menargetkan penerimaan dari cukai hasil tembakau (CHT) yang sangat besar. Misalnya:
Realisasi penerimaan cukai rokok tahun sebelumnya: Rp221,7 triliun
Target penerimaan cukai tahun 2026: Rp243,53 triliun (naik 9,8%)
Industri hasil tembakau juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Data Kementerian Perindustrian RI (2023) mencatat:
5,98 juta tenaga kerja di industri rokok
4,28 juta di manufaktur dan distribusi
1,7 juta di perkebunan
Di Jawa Timur, 97% buruh di Industri Hasil Tembakau adalah perempuan
Kontribusi ini sering dijadikan argumen bahwa industri tidak bisa begitu saja “dibunuh”, karena menyangkut lapangan kerja, terutama bagi buruh perempuan.
2. Biaya Kesehatan Terkait Rokok yang Ditanggung Negara dan Daerah
Di sisi lain, beban biaya kesehatan akibat rokok sangat besar. Data yang disampaikan berbagai pihak menunjukkan:
Kementerian Kesehatan menyatakan biaya kesehatan penyakit akibat merokok yang ditanggung negara jauh lebih besar daripada penerimaan pajak dan cukai tembakau
Pada level daerah, ada contoh bahwa biaya pemerintah daerah untuk penyakit akibat rokok mencapai Rp5,4 miliar per tahun, sementara pajak iklan rokok hanya memberi pemasukan sekitar Rp150 juta
Dari sisi alokasi cukai:
Hanya 3% dari total penerimaan cukai hasil tembakau yang dialokasikan ke daerah melalui DBHCHT untuk program pengendalian tembakau
97% sisanya dikelola pemerintah pusat, dan dinilai belum cukup transparan ke publik terkait alokasinya
3. Risiko Penyakit Akibat Rokok dan Implikasinya
Risiko penyakit terkait konsumsi produk tembakau dan rokok elektronik di Indonesia yang disampaikan antara lain:
25% penyakit jantung pada laki-laki disebabkan oleh rokok
25% ischaemic stroke pada laki-laki disebabkan perilaku merokok
71% penderita penyakit kardiovaskular adalah perokok
64% pasien PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) memiliki riwayat merokok
83,3% penderita kanker paru adalah perokok
Perokok berisiko 8,9 kali lebih tinggi terkena kanker paru dibanding bukan perokok
84,6% kasus kanker paru pada laki-laki disebabkan perilaku merokok
Angka-angka ini menunjukkan bahwa rokok bukan sekadar konsumsi biasa, melainkan produk dengan konsekuensi kesehatan berat yang menimbulkan biaya besar bagi sistem kesehatan dan rumah tangga.
Strategi Efektif untuk Mengurangi atau Menghentikan Pengeluaran Rokok Anda

sumber gambar: pixelimage via iStock
1. Peran Kebijakan Fiskal: Kenaikan Cukai dan Harga Rokok
Berbagai kebijakan fiskal diarahkan untuk mengendalikan konsumsi rokok melalui instrumen harga:
Di Indonesia, tarif cukai hasil tembakau diatur cukup tinggi, hingga memicu perdebatan apakah perlu diturunkan atau dinaikkan lagi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai tarif cukai rokok sebelumnya terlalu tinggi dan menyoroti belum adanya program mitigasi bagi tenaga kerja yang terdampak jika industri diperkecil
Di sisi lain, sejumlah ekonom dan praktisi kesehatan mendorong kenaikan cukai rokok untuk mengurangi konsumsi dan mengendalikan eksternalitas negatif rokok
Di Italia, kebijakan serupa tampak jelas:
Kenaikan harga rokok, cerutu, dan tembakau gulung diberlakukan bertahap dari Januari hingga Februari 2026
Kenaikan mencapai hingga 30 sen per bungkus, menyasar banyak merek populer
Bea cukai khusus rokok naik dari €29,50 per 1.000 batang menjadi €32 pada 2026, €35,50 pada 2027, dan €38,50 pada 2028
Peningkatan ini diperkirakan menambah penerimaan sekitar €900 juta pada 2026, dan sekitar €1,47 miliar pada periode 2026–2028
Secara total, sampai 2028 diperkirakan kenaikan harga rata-rata rokok sekitar €0,40 per bungkus, padahal tembakau sudah menyumbang sekitar €15 miliar per tahun bagi pendapatan publik
Tujuan eksplisit langkah ini adalah memperkuat penerimaan sekaligus mengurangi konsumsi nikotin melalui pengungkit harga.
2. Pendekatan Struktural dan Kultural
Beberapa pandangan yang muncul menekankan bahwa pengendalian tembakau harus menggunakan kombinasi:
Pendekatan struktural: melalui instrumen fiskal (kenaikan cukai, penyederhanaan tarif untuk mempermudah pengawasan dan menekan rokok ilegal), serta aturan yang mempertimbangkan lebih banyak aspek kesehatan daripada kepentingan industri
Pendekatan kultural: edukasi publik, literasi tentang bahaya rokok, dan pelibatan tokoh agama sebagai garda terdepan dalam menyebarkan kesadaran mengenai sifat adiktif dan bahaya rokok
Pengendalian tembakau ditegaskan bukan untuk melarang total rokok, melainkan mengendalikan peredarannya secara ketat.
3. Penolakan terhadap Normalisasi Perilaku Merokok
Ada usulan dari anggota DPR tentang gerbong khusus perokok di kereta api. Usulan ini dikritik karena:
Dinilai bertentangan dengan semangat pengendalian tembakau
Dikhawatirkan akan melegitimasi perilaku merokok di ruang publik
Berpotensi meningkatkan paparan asap rokok bagi non-perokok
Sebaliknya, sejumlah pihak mendorong kebijakan non-fiskal yang lebih kuat, seperti pelarangan iklan rokok secara menyeluruh, dan keberpihakan kebijakan pada kawasan tanpa rokok (KTR) serta program pengendalian tembakau di daerah.
Manfaat Finansial dan Kesehatan dari Berhenti Merokok: Apa yang Bisa Anda Dapatkan?
1. Potensi Penghematan Finansial dari Sudut Pandang Cukai
Dari ilustrasi perhitungan cukai dan pajak per bungkus, terlihat bahwa porsi besar dari harga rokok adalah beban fiskal. Ketika Anda mengurangi atau menghentikan konsumsi, Anda otomatis:
Menghilangkan pengeluaran rutin untuk cukai dan pajak rokok
Mengurangi kontribusi pribadi pada biaya eksternal yang ditimbulkan rokok
Jika kebijakan seperti di Italia—kenaikan bertahap hingga puluhan sen per bungkus—digunakan sebagai referensi, maka dalam jangka beberapa tahun, konsumen rokok akan menghadapi tren harga yang terus meningkat. Di sisi lain, berhenti atau mengurangi konsumsi di tengah tren naik ini akan mengurangi tekanan pada pengeluaran rumah tangga.
2. Manfaat Kesehatan yang Terukur
Data risiko kesehatan menunjukkan hubungan kuat antara merokok dan berbagai penyakit berat (kardiovaskular, PPOK, kanker paru). Dengan berhenti atau mengurangi merokok:
Risiko penyakit jantung dan stroke dapat ditekan
Risiko PPOK dan kanker paru, yang sangat tinggi pada perokok, bisa dikurangi
Beban biaya pengobatan akibat penyakit terkait rokok berpotensi lebih kecil, baik di level individu maupun sistem kesehatan
Kementerian Kesehatan juga menyoroti bahwa biaya kesehatan akibat rokok melampaui penerimaan fiskal dari industri ini. Dari kacamata kebijakan publik, berhenti merokok berarti mengurangi bagian dari beban tersebut.
Sumber Daya dan Dukungan untuk Membantu Anda Berhenti Merokok
Materi yang tersedia menekankan perlunya:
Program pengendalian tembakau yang didukung pendanaan memadai dari DBHCHT
Petunjuk teknis (juknis) dari Kementerian Kesehatan agar daerah dapat mengimplementasikan program yang didanai dana cukai
Pelibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk tokoh agama dan organisasi kesehatan, dalam edukasi bahaya rokok
Selain itu, di ranah kebijakan fiskal, terdapat gagasan:
Memperluas objek cukai ke produk lain yang menimbulkan eksternalitas negatif (misalnya alkohol dan plastik), agar pengendalian tembakau didukung ekosistem kebijakan yang lebih luas
Secara keseluruhan, pengendalian tembakau diposisikan sebagai program bersama yang memerlukan komitmen lembaga-lembaga tertinggi dan sinergi pusat-daerah.
Investasi Terbaik untuk Masa Depan Keuangan dan Kesehatan Anda
Kebiasaan merokok berkelindan dengan kebijakan fiskal, penerimaan negara, biaya kesehatan, dan nasib jutaan pekerja di industri hasil tembakau. Di satu sisi, tarif cukai dan harga rokok—baik di Indonesia maupun di negara lain seperti Italia—ditata sedemikian rupa untuk menambah penerimaan dan menekan konsumsi. Di sisi lain, beban penyakit dan biaya kesehatan akibat rokok terbukti sangat besar.
Dari sudut pandang individu, memahami cara menghitung cukai dan pajak rokok per bungkus membantu Anda melihat berapa banyak uang yang hilang setiap tahun untuk konsumsi yang sarat risiko kesehatan. Sementara itu, berbagai pandangan dari ekonom, praktisi kesehatan, dan organisasi masyarakat menegaskan pentingnya pengendalian tembakau sebagai upaya melindungi kelompok rentan dan mengurangi biaya sosial rokok.
Daripaada menghabiskan untuk rokok, mulailah investasi pada alat-alat fitness seperti sepede statis berikut ini. Checkout di KuyBeli!
Dalam kerangka ini, mengurangi atau berhenti merokok dapat dibaca sebagai bentuk investasi pribadi: mengurangi pengeluaran yang terus terdongkrak kebijakan fiskal, sekaligus meminimalkan risiko penyakit yang biayanya jauh melampaui harga satu bungkus rokok. Kebijakan publik yang berpihak pada pengendalian tembakau, jika diikuti langkah individu untuk meninjau ulang kebiasaan merokok, berpotensi menghasilkan masa depan keuangan dan kesehatan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.


komentar